Infobenua.com.Kukar – Proyek pelebaran jalan di sekitar Monumen Tenggarong yang diinisiasi Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) tengah menghadapi tantangan serius. Meski dirancang untuk memperlancar mobilitas warga dan mempercantik akses menuju ikon kota, realisasi pekerjaan di lapangan tidak berjalan semulus rencana.
Penyebab utamanya adalah belum adanya kejelasan panjang oprit jembatan baru yang berdiri tidak jauh dari kawasan monumen.
Oprit yang dimaksud ialah timbunan tanah di belakang abutment jembatan yang berfungsi menghubungkan jalan dengan jembatan sekaligus mencegah penurunan tanah. Sementara Abutment ialh struktur di kedua ujung jembatan, bendungan, atau konstruksi sejenis yang berfungsi menopang beban dan menyalurkannya ke fondasi.
Kepala Bidang (Kabid) Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum Kukar, Linda Juniarti, mengungkapkan bahwa meski kontraktor jalan sudah siap bergerak dengan pelebaran hingga 13 meter, pekerjaan terpaksa menunggu penyelesaian tahap pancang jembatan.
Tanpa kepastian soal panjang dan kelandaian oprit jembatan, pengerjaan jalan dikhawatirkan sia-sia.
“Kami tidak ingin pekerjaan yang sudah dibangun justru terpotong atau tertutup ketika oprit jembatan dipasang. Karena itu, kami menunggu perhitungan teknis dari kontraktor jembatan. Panjang oprit menentukan kelandaian dan sambungan jalan, jadi ini sangat krusial,” jelas Linda, belum lama ini.
Menurut Linda, permasalahan ini muncul karena proyek jalan dan jembatan dikerjakan oleh penyedia berbeda.
Jalan berada di bawah kewenangan PU Kukar, sementara jembatan ditangani pihak lain melalui kontrak tersendiri. Akibatnya, koordinasi teknis harus terus dilakukan agar kedua proyek dapat saling melengkapi dan tidak menimbulkan masalah di kemudian hari.
Selain persoalan oprit, proyek juga terbentur kendala pada pembangunan saluran drainase.
Linda menjelaskan bahwa desain awal drainase direncanakan lurus menuju Sungai Tenggarong, namun keberadaan abutment jembatan membuat jalur harus dialihkan. Hal ini menambah kompleksitas pekerjaan sekaligus memerlukan biaya serta waktu tambahan.
“Awalnya drainase langsung diarahkan ke sungai. Tapi dengan adanya abutment jembatan, jalurnya harus dibelokkan. Ini tentu berpengaruh pada desain dan harus kami sesuaikan lagi, supaya fungsi drainase tetap optimal,” ungkapnya.
Meski dihadapkan pada kendala teknis, Linda menegaskan bahwa pelebaran jalan tetap berjalan. Jalan di kawasan monumen akan diperluas hingga 13 meter di dua sisi.
Jalur menuju parkir Masjid Agung dan jalur yang menempel di sekitar kawasan monumen akan ditata ulang agar fungsional sekaligus menjaga estetika lingkungan.
“Prinsip kami, pelebaran ini harus mendukung mobilitas warga dan wisatawan, tapi tetap memperhatikan monumen yang ada. Jangan sampai pelebaran jalan merusak tatanan atau mengurangi nilai estetika kawasan,” tegasnya.
Terkait timeline, Linda memaparkan bahwa pembangunan drainase ditargetkan selesai pada Oktober 2025. Pelebaran jalan sendiri diperkirakan rampung pada akhir tahun, berbarengan dengan sejumlah pekerjaan penunjang lain.
Sedangkan proyek jembatan ditargetkan tuntas pada 20 Desember 2025, sehingga penyambungan jalan dan jembatan bisa dilakukan secara utuh.
“Drainase kami targetkan Oktober selesai. Pelebaran jalan akhir tahun, sementara jembatan 20 Desember. Jadi memang saling menunggu agar hasilnya maksimal,” katanya.
Linda juga menyoroti pentingnya integrasi proyek ini terhadap upaya pengendalian banjir. Drainase yang dibangun bukan hanya berfungsi untuk jalan, melainkan juga membantu memperlancar aliran air agar kawasan sekitar monumen tidak rawan genangan.
Namun, ia tidak menutup mata bahwa koordinasi lintas kontraktor dan keterbatasan waktu menjadi tantangan terbesar. Jika salah satu proyek molor, maka pelebaran jalan pun akan ikut terdampak.
“Risiko tumpang tindih pekerjaan selalu ada kalau koordinasi tidak solid. Karena itu, kami terus berkomunikasi dengan pihak jembatan. Jangan sampai masyarakat menilai proyek ini lamban atau tidak efektif, padahal memang ada faktor teknis yang harus diselesaikan bersama,” jelas Linda lebih jauh.
Dengan kondisi tersebut, Pemkab Kukar berharap masyarakat dapat memahami dinamika yang terjadi di lapangan. Pelebaran jalan Monumen Tenggarong bukan hanya proyek infrastruktur biasa, melainkan bagian dari upaya memperkuat wajah kota sebagai pusat kegiatan sosial, budaya, dan ekonomi.
Jika rampung sesuai rencana, kawasan ini diharapkan menjadi lebih representatif dan mampu menunjang geliat pariwisata sekaligus mengurai kepadatan lalu lintas.
“Kami optimis, meskipun ada kendala teknis, pekerjaan ini bisa rampung tepat waktu. Targetnya, akhir tahun masyarakat sudah bisa menikmati akses yang lebih lebar, aman, dan nyaman,” pungkas Linda.
penulis Lisa editor redaksi


















Users Today : 600
Total Users : 1343922
Views Today : 1139
Total views : 6490537