Infobenua.com, Samarinda — Produksi pisang di Kalimantan Timur mengalami penurunan sekitar 60 persen setelah komoditas hortikultura tersebut menghadapi serangan penyakit tanaman, terutama Fusarium dan layu bakteri. Kabid Produksi Hortikultura Dinas Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura (PTPH) Kaltim Kosasih mengatakan, produksi pisang pada 2025 masih mencapai sekitar 129 ribu ton. Namun, capaian tersebut kini mengalami penurunan tajam.
“Produksi kita signifikan, 2025 sebanyak 129 ribu ton. Sekarang turun sekitar 60 persen,” kata Kosasih pada webinar Rabu Sehati Seri 5 bertema “Pisang Tahan Layu Kebun Produktif” yang digelar secara virtual, Rabu (7/10/2026).
Menurut Kosasih, penyakit Fusarium menjadi salah satu persoalan utama yang memengaruhi produksi pisang di Kaltim. Serangan tersebut banyak ditemukan pada tanaman pisang, khususnya varietas pisang gerecek. Persoalan organisme pengganggu tanaman (OPT) menjadi tantangan di tengah upaya pemerintah meningkatkan produksi dan produktivitas hortikultura. Penurunan produksi akibat penyakit tanaman dinilai menciptakan kesenjangan yang perlu segera ditangani.
“Di sisi lain kita dituntut meningkatkan produksi dan produktivitas. Tetapi ada gap yang menghantui kita selama ini, yaitu penyakit pisang, Fusarium dan layu bakteri,” ujarnya.
Kosasih mengatakan, gangguan penyakit perlu menjadi perhatian karena pisang sebelumnya merupakan salah satu komoditas andalan hortikultura Kaltim. Jika tidak ditangani, penurunan produksi berpotensi mengganggu keberlanjutan program pengembangan komoditas tersebut.
“Sayang kalau proyek atau program kita tiba-tiba hilang begitu saja karena kita abai terhadap penyakit pisang ini,” katanya.
Dinas PTPH Kaltim telah menyiapkan sejumlah langkah untuk menghadapi persoalan tersebut. Strategi yang dilakukan mencakup peningkatan produksi, pengendalian OPT, penguatan sumber daya manusia, serta penyediaan sarana dan prasarana pertanian. Salah satu langkah konkret yang telah dilakukan ialah membangun double way atau jalur pengendalian penyakit di kawasan tanaman pisang wilayah Golo. Infrastruktur tersebut memiliki panjang sekitar 562 meter.
“Kita sudah banyak melakukan upaya, termasuk membangun double way di kawasan tanaman pisang. Panjangnya sekitar 562 meter,” jelas Kosasih.
Meski berbagai intervensi telah dilakukan, pengembangan pisang di Kaltim masih menghadapi sejumlah kendala. Padahal, komoditas tersebut sebelumnya diproyeksikan dapat menjadi salah satu sektor pendukung pertumbuhan ekonomi daerah. Karena itu, Kosasih mendorong penanganan penyakit tanaman dilakukan secara berkelanjutan dengan memperluas keterlibatan petani dan pelaku usaha. Menurut dia, pembangunan pertanian tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga melibatkan pelaku utama dan pelaku usaha.
Pelaku utama dalam sektor pertanian tersebut mencakup petani pisang, petani hortikultura, pangan, peternakan, hingga perkebunan.
“Pelaku utama kita adalah petani, termasuk petani pisang, petani hortikultura, pangan, peternakan, dan perkebunan,” pungkasnya. (*)







Users Today : 1339
Total Users : 1518838
Views Today : 3454
Total views : 6955826