Teks foto: Momentum Presiden Prabowo Subianto meresmikan proyek RDMP Kilang Balikpapan (Tangkapan Layar Youtube/KementerianESDM).
Infobenua.com Samarinda-Presiden Prabowo Subianto meresmikan Proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Kilang Balikpapan, Senin (12/1/2026). Proyek strategis milik PT Pertamina (Persero) ini menyedot investasi sekitar US$7,4 miliar atau setara Rp124 triliun, sekaligus menjadi proyek kilang terbesar yang pernah dibangun Pertamina.
Peresmian dilakukan langsung di Kilang Balikpapan. Dalam sambutannya, Prabowo menegaskan proyek ini menjadi tonggak penting bagi ketahanan energi nasional.
“Dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim, pada sore hari ini, Senin 12 Januari 2026, saya Prabowo Subianto Presiden Republik Indonesia, meresmikan Proyek Infrastruktur Terintegrasi Pertamina RDMP Balikpapan,” ujar Prabowo.
RDMP Kilang Balikpapan meningkatkan kapasitas produksi kilang dari 260 ribu barel per hari menjadi 360 ribu barel per hari. Selain menambah kapasitas, proyek ini dirancang untuk meningkatkan kualitas bahan bakar, menekan biaya produksi BBM, serta mengurangi ketergantungan impor, khususnya solar.
Pemerintah bahkan menekankan bahwa dengan beroperasinya RDMP Balikpapan, Indonesia ditargetkan tidak lagi melakukan impor solar.
Tak hanya menghasilkan BBM, kilang ini juga mampu mengolah residu menjadi produk bernilai tambah tinggi seperti propylene dan ethylene. Kedua produk tersebut merupakan bahan baku penting industri petrokimia nasional yang selama ini masih bergantung pada impor.
Salah satu fasilitas utama dalam proyek ini adalah Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) Complex, yang menjadi jantung operasi Kilang Balikpapan. Fasilitas ini memungkinkan produksi BBM dengan kualitas lebih bersih dan emisi rendah.
Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, mengatakan keberadaan RFCC Complex membawa perubahan signifikan pada standar kualitas BBM nasional.
“Melalui RFCC Complex dan unit tambahan lainnya, Kilang Balikpapan naik dari standar Euro 2 dengan kadar sulfur 2.500 ppm menjadi standar Euro 5 dengan sulfur hanya 10 ppm,” kata Baron dalam keterangannya, Minggu (11/1).
Ia menambahkan, selain meningkatkan kualitas BBM, kilang ini juga memperluas portofolio produk Pertamina.
“Kilang Balikpapan tidak hanya memproduksi bensin dan solar, tetapi juga LPG serta produk petrokimia yang sebelumnya belum bisa dihasilkan. Ini menjadi lompatan besar sekaligus mendukung program hilirisasi,” ujarnya.
Dengan beroperasi penuh, RDMP Kilang Balikpapan diharapkan menjadi penopang utama ketahanan energi nasional sekaligus penggerak industri petrokimia dalam negeri.
Penulis: Frida | Editor: Eka Mandiri








Users Today : 1295
Total Users : 1566140
Views Today : 2380
Total views : 7060271