Infobenua.com, Samarinda – Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda berencana membangunan terowongan untuk memecah kemacetan di wilayah Sungai Sama hingga Jalan Otto Iskandardinata (Otista).
Hal tersebut telah dicanangkan sejak 2021 lalu dan menjadi program multiyears contrak (MYC) Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda.
Wacana tersebut adalah salah satu gagasan strategis Walikota terpilih, Andi Harun, yang boleh dibilang cukup berani. Tak hanya dari segi anggaran, juga analisis dampak-dampak terhadap lingkungan sekitar perlu dijadikan salah satu konsentrasi ketika itu dibangun.
Pembangunan terowongan tersebut diperkirakan akan menelan anggaran hingga Rp 400 sampai 600 miliar. Hal ini disampaikan oleh Anggota Komisi III DPRD Samarinda Jasno.
“Program pembuatan terowongan ini antara Rp 400 sampai 600 miliar, karena panjang sehingga membutuhkan dana yang besar. Nantinya, tentu ada hitungan yang lebih akurat lagi, kalau sekarang masih hitungan kasar. Syukur nanti kalau hitung-hitungan bisa turun, sehingga tidak memakan anggaran yang cukup besar,” katanya beberapa waktu lalu saat menjadi narasumber di stasiun radio lokal.
Meski demikian, Jasno mengingatkan kepada Pemkot Samarinda bahwa target pembangunan terowongan tersebut harus memenuhi kajian.
“Harus dibuat sesuai kajian, didesain yang kokoh dan ini juga menjadi kebanggaan masyarakat Samarinda,” ujarnya.
Sementara itu, terkait beredarnya desain terowongan di media sosial sejak beberapa bulan lalu, diakui Jasno, dirinya sempat melihat desain tersebut. Tetapi secara resmi, ditegaskannya bahwa DPRD Samarinda hingga saat ini belum menerima informasi langsung dari Pemkot Samarinda maupun dari Dinas PUPR Kota Samarinda mengenai desain aslinya terowongan tersebut.
“Sejak 6 bulan lalu ramai di medsos desain itu. Tapi kita belum menerima secara resmi dari pemerintah, jika memang itu benar. Tapi secara resmi kami belum menerima gambar dan desain secara utuhnya, sehingga apa yang muncul di medsos itu benar atau tidak, kita kurang tahu. Terkait dengan kajian yang sesuai desain, mereka belum menyampaikan,” ujarnya.
Dikonfirmasi terpisah, Kepala Bidang Bina Marga PUPR Kota Samarinda Budi Santoso menjelaskan, pembangunan terowongan tersebut bertujuan untuk mengurai kemacetan yang terjadi di Sungai Dama.
“Difungsikan sebagai alternatif. Adapun peruntukannya nanti untuk satu jalur, masuk melalui Sultan Alimuddin nanti keluarnya di Jalan Kakap. Otista (Jalan Otto Iskandardinata) juga satu arah, jadi bisa mengurai,” katanya.
Terkait dengan progres hingga saat ini, ia menyebut, jika rencana pembangunan sudah siap dan matang, maka pengerjaan sudah dapat dilaksanakan. Diantara masalah yang di awal harus diselesaikan adalah penggantian rugi lahan masyarakat yang terkena rencana proyek pembangunan terowongan.
“Wali Kota ingin duduk bersama dengan masyarakat membahas itu. Ini kan tujuannya untuk bersama-sama,” katanya.
Mengenai desain terowongan yang beredar di media sosial, Budi Santoso mengatakan, desain yang tersebar di media sosial tersebut adalah rencana desain Detail Engineering Design (DED), tapi bukan detail lengkapnya.
“Desain DED kalau sesuai basic, iya. Tapi nanti masih ada desain yang lebih detail lagi,” tutupnya.
Penulis : syaef



















Users Today : 1084
Total Users : 1268427
Views Today : 3512
Total views : 6282521