Infobenua.com – Pakistan mengecam serangan yang dilakukan milisi Houthi Yaman yang didukung Iran terhadap kapal tanker minyak Arab Saudi di Laut Merah pada pekan lalu. Insiden tersebut memicu kekhawatiran akan meluasnya ketegangan di Timur Tengah dan berpotensi menempatkan Islamabad pada posisi sulit di tengah hubungan dekatnya dengan Arab Saudi dan Iran.
Dalam pernyataan resminya, Kementerian Luar Negeri Pakistan memperingatkan bahwa setiap ancaman Houthi terhadap kepentingan maritim Pakistan di Laut Merah dapat direspons dengan “penggunaan kekuatan yang sah menurut hukum”.
Pakistan memiliki hubungan strategis di bidang perdagangan dan keamanan dengan Arab Saudi. Kapal-kapal berbendera Pakistan juga rutin berlabuh di pelabuhan Saudi di kawasan Laut Merah. Pada September tahun lalu, kedua negara menandatangani pakta pertahanan bersama yang mencakup klausul “keamanan kolektif”, sehingga serangan terhadap salah satu pihak dipandang sebagai serangan terhadap keduanya.
Setelah Houthi meluncurkan rudal ke wilayah selatan Arab Saudi pada pekan lalu, Kementerian Luar Negeri Pakistan kembali menegaskan bahwa komitmennya terhadap perjanjian pertahanan tersebut “tak tergoyahkan”.
Di sisi lain, Islamabad juga menjaga hubungan diplomatik dengan Iran dan selama ini berperan sebagai mediator penting antara Teheran dan Washington dalam berbagai upaya penyelesaian konflik yang melibatkan Iran. Kondisi tersebut membuat setiap kemungkinan keterlibatan militer Pakistan terhadap Houthi berpotensi menjadi salah satu tantangan kebijakan luar negeri paling kompleks bagi negara itu dalam beberapa tahun terakhir.
Hubungan militer Pakistan dan Arab Saudi telah terjalin selama puluhan tahun. Sejumlah jenderal dan penasihat militer Pakistan diketahui pernah membantu pengembangan sektor pertahanan kerajaan tersebut.
Pengamat Yaman dari Chatham House di London, Farea Al-Muslimi, mengatakan kepada DW bahwa personel militer Pakistan telah berada di Yaman untuk mendukung Arab Saudi “menjalankan tugas-tugas keamanan dan pelatihan bersama pasukan dari Arab Saudi.”
Namun, seorang pejabat Pakistan yang diwawancarai DW membantah klaim tersebut.
Meski demikian, apabila serangan Houthi terhadap kapal tanker minyak dan jalur pelayaran komersial di Laut Merah terus meningkat, Arab Saudi dinilai berpeluang meminta dukungan dari Pakistan.
“Pakistan adalah salah satu mitra pertahanan terdekat Riyadh, dan pakta pertahanan bersama mereka membuat permintaan seperti itu masuk akal. Setelah pernah menjadi sasaran serangan Iran, Arab Saudi mungkin semakin melihat Islamabad sebagai sumber bantuan militer jika merasa menghadapi tekanan keamanan yang meningkat,” kata peneliti senior Atlantic Council di Washington, D.C., Michael Kugelman, kepada DW.
Menurut para analis, hubungan Pakistan yang semakin membaik dengan Iran serta perannya sebagai mediator dapat membatasi ruang gerak Islamabad untuk terlibat secara militer atas nama Arab Saudi.
Analis militer Pakistan sekaligus peneliti senior King’s College London, Ayesha Siddiqa, mengatakan kepada DW, “Pakistan dan Iran memiliki hubungan yang rumit, yang didasari perhitungan kepentingan taktis masing-masing pihak. Namun, Pakistan telah beberapa kali menegaskan kepada Iran bahwa jika terjadi konflik, Islamabad akan mendukung Arab Saudi.”
Pada 2024, Iran dan Pakistan sempat terlibat ketegangan setelah saling melancarkan serangan rudal lintas perbatasan. Meski demikian, kedua negara kini telah memulihkan hubungan diplomatik dan meningkatkan kerja sama dalam menghadapi kelompok militan di wilayah perbatasan.
Kugelman menilai dukungan militer terbatas kepada Arab Saudi belum tentu akan merusak hubungan Pakistan dengan Iran. Namun, ia mengingatkan bahwa langkah tersebut dapat memengaruhi posisi Islamabad sebagai mediator.
“Dukungan militer dalam skala terbatas kepada Arab Saudi belum tentu akan merusak hubungan Pakistan dengan Iran. Namun, ketika Islamabad berupaya menampilkan diri sebagai mediator netral, peningkatan dukungan persenjataan kepada Riyadh dapat memperdalam kecurigaan Teheran dan melemahkan peran diplomatik Pakistan,” ujarnya.
Apabila Arab Saudi meminta bantuan, para analis memperkirakan kontribusi Pakistan akan lebih diarahkan pada penguatan pertahanan dibandingkan keterlibatan langsung dalam operasi tempur.
“Pakistan kemungkinan akan mengambil peran defensif, karena keterlibatan yang lebih luas di Laut Merah dinilai terlalu berisiko,” kata Siddiqa.
Bentuk dukungan tersebut diperkirakan meliputi pertukaran intelijen, kerja sama pertahanan udara, pengawasan maritim, hingga perlindungan terhadap infrastruktur strategis Arab Saudi. Pendekatan ini dinilai memungkinkan Islamabad membantu Riyadh tanpa terlibat langsung dalam operasi militer.
Kugelman menambahkan, “Meski memiliki hubungan militer yang sangat erat dan pakta pertahanan bersama dengan Arab Saudi, kecil kemungkinan Pakistan akan mengirim senjata atau pasukan. Islamabad berfokus mencegah eskalasi regional dan mempertahankan perannya sebagai mediator dalam konflik Iran, sehingga setiap dukungan militer kepada Riyadh berisiko secara politik dan berpotensi merusak hubungan Pakistan dengan Teheran.”
Sementara itu, Arab Saudi selama beberapa tahun terakhir cenderung mengurangi operasi militer berskala besar di Yaman. Namun, serangan Houthi yang terus berulang terhadap fasilitas energi dan kapal niaga dinilai dapat mengubah sikap tersebut.
“Serangan Houthi yang terus berlanjut terhadap kapal-kapal Saudi dapat mendorong Riyadh untuk mengambil tindakan militer,” kata Al-Muslimi.
Siddiqa menilai belum dapat dipastikan apakah Arab Saudi memiliki kapasitas untuk menjalankan konflik berkepanjangan melawan Houthi.
“Meskipun Arab Saudi dapat meningkatkan intensitas serangan udara, mungkin saja itu tidak cukup untuk membuat kerajaan itu lebih aman,” ujarnya.
Secara umum, para analis menilai Pakistan kemungkinan akan tetap berfokus pada pengamanan jalur pelayaran dan keamanan maritim di kawasan, sambil menghindari keterlibatan langsung dalam serangan terhadap Houthi di tengah ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Namun, jika situasi di Laut Merah terus memburuk, tekanan dari Riyadh maupun Teheran diperkirakan akan semakin menyulitkan Islamabad mempertahankan sikap netral.
“Arah perkembangan konflik dengan Iran akan menentukan sejauh mana Arab Saudi bersedia menoleransi serangan Houthi,” kata Kugelman.
Ia menambahkan, “Jika jeda ketegangan antara AS dan Iran saat ini bertahan, Riyadh kemungkinan akan memilih menahan diri alih-alih memperbesar eskalasi. Namun, Arab Saudi akan tetap memandang Pakistan sebagai mitra keamanan penting karena serangan Houthi kecil kemungkinan akan berhenti, bahkan jika konflik dengan Iran berakhir.” (*)



















Users Today : 1088
Total Users : 1395464
Views Today : 2737
Total views : 6691666