InfoBenua.Com
  • Home
  • Redaksi
  • INFO PRODUK
  • Blog
  • Infografis
  • Video
  • KODE ETIK PERUSAHAAN PERS
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
No Result
View All Result
InfoBenua.Com
  • Home
  • Redaksi
  • INFO PRODUK
  • Blog
  • Infografis
  • Video
  • KODE ETIK PERUSAHAAN PERS
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
No Result
View All Result
No Result
View All Result

Korea Utara Uji Dua Rudal Jelajah dari Kapal Selam, Perlombaan Senjata dengan Korea Selatan Meningkat

by Hery Kuswoyo
Jumat, 16 Oktober 2026, 22:31
in Internasional
Ilustrasi

Ilustrasi

Bagikan

Infobenua.com, Pyongyang — Korea Utara terus mengembangkan kemampuan persenjataannya di tengah persaingan militer dengan Korea Selatan. Pyongyang mengumumkan telah menguji dua jenis rudal jelajah yang diluncurkan dari kapal selam di perairan lepas pantai timur pada Rabu (14/10).

Sehari sebelumnya, kantor berita pemerintah Korea Utara, Korean Central News Agency (KCNA), melaporkan bahwa pemimpin Kim Jong Un mengunjungi museum industri pertahanan yang baru dibangun. Dalam kunjungan tersebut, Kim juga meninjau rudal balistik antarbenua (intercontinental ballistic missile/ICBM) yang diklaim mampu menjangkau daratan Amerika Serikat.

Perkembangan itu berlangsung di tengah upaya kedua Korea memperkuat kemampuan rudal hipersonik. Pada 9 Oktober, Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung menyaksikan uji peluncuran rudal hipersonik pertama yang dikembangkan sepenuhnya di dalam negeri. Sebelumnya, pada 3 Oktober, Pyongyang mengumumkan pengujian rudal hipersonik jarak menengah yang disebut mencapai sasaran setelah menempuh jarak 350 kilometer.

Dalam laporan mengenai kunjungan Kim ke fasilitas industri pertahanan, KCNA mengutip pernyataan pemimpin Korea Utara tersebut mengenai kesiapan militernya.

“Kim Jong Un menyampaikan harapan dan keyakinannya bahwa seluruh pasukan rudal negara akan tetap setia pada misinya untuk mempertahankan kedaulatan dan keamanan republik dengan kesiapan tempur yang bertanggung jawab,” demikian laporan KCNA.

Rudal hipersonik menjadi salah satu teknologi yang diperebutkan kedua negara karena kecepatannya dan kemampuannya bermanuver selama penerbangan. Senjata ini secara umum didefinisikan mampu melaju setidaknya lima kali kecepatan suara atau Mach 5, setara lebih dari 6.100 kilometer per jam.

Selain kecepatannya, rudal hipersonik dapat mengubah arah, menukik, dan melakukan manuver saat terbang. Karakteristik tersebut menyulitkan sistem pertahanan untuk mendeteksi, melacak, dan mencegatnya. Rudal jenis ini juga dapat membawa hulu ledak konvensional maupun nuklir.

Chris Green, penasihat senior Semenanjung Korea di International Crisis Group, menilai pengembangan senjata hipersonik merupakan bagian dari persaingan militer yang telah berlangsung lama di kawasan tersebut.

“Perlombaan senjata di Semenanjung Korea sudah berlangsung selama bertahun-tahun, dan senjata hipersonik hanyalah manifestasi terbaru dari perlombaan itu,” kata Green.

Menurut Green, pengembangan teknologi tersebut menjadi prioritas bagi Seoul seiring peningkatan kemampuan militer Pyongyang serta semakin eratnya hubungan militer dan ekonomi Korea Utara dengan Rusia.

“Korea Utara memang memiliki senjata nuklir, tetapi penggunaannya tidak realistis,” kata Green. “Selama ini ancamannya selalu sama, yakni jika senjata itu digunakan, Amerika Serikat akan menghancurkan negara tersebut.”

Green menilai situasi geopolitik mendorong Korea Utara mengembangkan persenjataan konvensional yang lebih canggih untuk memperkuat posisinya di Semenanjung Korea. Namun, ia mengingatkan bahwa kemampuan aktual Pyongyang tidak selalu dapat dipastikan hanya berdasarkan pengumuman resminya.

“Kita tidak tahu kemampuan mereka yang sebenarnya, dan mungkin saja semua ini propaganda. Namun, sudah banyak contoh ketika kemampuan Korea Utara diremehkan, lalu mereka justru membuktikan bahwa mereka memang mampu melakukan apa yang mereka klaim,” ujarnya.

Chun In-bum, purnawirawan jenderal Angkatan Darat Korea Selatan yang kini menjadi peneliti senior di National Institute for Deterrence Studies, menyampaikan pandangan serupa. Ia menilai perencana militer harus mempertimbangkan kemungkinan bahwa klaim kemampuan senjata Korea Utara benar adanya.

“Sulit memastikan apakah mereka mengatakan yang sebenarnya. Namun, setiap perencana militer yang bijak harus selalu bersiap menghadapi skenario terburuk,” kata Chun.

Chun juga menyoroti belum jelasnya sumber teknologi yang memungkinkan Korea Utara mengembangkan sistem rudal canggih dalam waktu relatif cepat. Ia menduga Pyongyang memperoleh sebagian teknologi tersebut melalui cara-cara ilegal, termasuk dengan mengincar informasi dari perusahaan asing.

“Mereka kemungkinan mendapatkannya melalui cara-cara ilegal,” kata Chun. “Mereka mengintai perusahaan-perusahaan di Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Jepang untuk memperoleh informasi semacam ini. Mereka juga melakukannya terhadap negara-negara yang dianggap ‘teman.'”

Menurut Chun, peningkatan kemampuan serangan dapat memperbesar ancaman militer Korea Utara, terutama jika negara itu mampu mengembangkan rudal yang semakin sulit dicegat.

“Kemampuan serangan yang lebih besar berarti tingkat ancaman dari Korea Utara juga meningkat. Jika mereka memiliki senjata yang lebih sulit ditembak jatuh, maka godaan untuk menggunakannya bisa saja bertambah,” ujar Chun.

Ia mengakui penilaiannya mengenai kemungkinan penggunaan senjata tersebut masih berupa spekulasi. Namun, menurutnya, upaya untuk menemukan cara efektif menetralkan ancaman rudal hipersonik masih menghadapi tantangan besar.

“Saya memang berspekulasi,” lanjutnya. “Tetapi saya yakin kami sedang mencari cara untuk menetralkan ancaman ini. Sejauh yang saya pahami, saat ini belum ada solusi yang benar-benar memadai.”

Meski demikian, Green berpandangan bahwa pengembangan rudal oleh kedua Korea belum tentu mengubah keseimbangan kekuatan militer secara mendasar. Menurutnya, Korea Utara tetap mengandalkan daya tangkal nuklir dan strategi yang dikenal sebagai strategi “landak”, yakni membangun kemampuan pertahanan dan serangan yang cukup berbahaya untuk menghalangi lawan.

“Saya tidak melihat ini mengubah keseimbangan kekuatan,” kata Green.

Ia juga menilai perkembangan teknologi tersebut belum memberikan perubahan mendasar bagi posisi militer Korea Selatan.

“Dan teknologi ini juga tidak terlalu mengubah permainan bagi Korea Selatan.”

Namun, Green memperingatkan bahwa pengerahan rudal Korea Utara dalam jumlah besar dapat meningkatkan kebutuhan untuk memperkuat sistem pertahanan rudal di kawasan, termasuk di Korea Selatan dan Jepang.

“Yang jelas, jika Korea Utara terus mengembangkan sistem persenjataannya dan mampu mengerahkannya dalam jumlah besar,” kata Green, “maka butuh pembahasan lebih lanjut tentang penguatan pertahanan rudal, bukan hanya di Korea Selatan, tetapi juga di Jepang. Dan itu akan memunculkan berbagai persoalan yang tidak mudah untuk dijawab.” (*)

Views Count: 7

Infobenua.com TVChannel

Statistik Pengunjung

1542979
Users Today : 2786
Total Users : 1542979
Views Today : 5435
Total views : 7008580
  • Home
  • Redaksi
  • INFO PRODUK
  • Blog
  • Infografis
  • Video
  • KODE ETIK PERUSAHAAN PERS
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami

Copyright © 2017-2025 InfoBenua.com