BANDUNG — Mempertahankan bisnis fashion selama lebih dari satu dekade bukan perkara mudah. Apalagi industri busana muslim terus berkembang dengan tren yang berganti cepat dan persaingan yang semakin ketat.
Namun, tantangan itu berhasil dilewati Nonne Noer Pujiane, sosok pengusaha sekaligus desainer di balik jenama busana muslim asal Bandung, Nonnetedy.
Berdiri sejak 2010, Nonnetedy tumbuh dari sebuah produk yang awalnya dibuat Nonne untuk kebutuhan pribadi. Hijab instan yang dirancang dengan mengutamakan kepraktisan tersebut ternyata mendapat respons positif dari lingkungan sekitar.
Anggota Bhayangkari Pengurus Daerah Jawa Barat menjadi salah satu kelompok konsumen awal yang memberikan dukungan terhadap produk tersebut. Dari sana, pemasaran berkembang secara organik melalui rekomendasi dari mulut ke mulut.
Minat terhadap produk Nonnetedy kemudian meluas ke berbagai organisasi perempuan, seperti Persit, PIA Ardhya Garini hingga Dharma Wanita.
Tingginya antusiasme konsumen membuat Nonne tidak hanya menjual produk, tetapi juga kerap diundang untuk berbagi pengetahuan mengenai cara menggunakan hijab secara praktis dalam berbagai kegiatan internal organisasi.
Dari komunitas itulah bisnis Nonnetedy perlahan berkembang. Pemasaran yang semula dilakukan secara personal kemudian merambah bazar, pameran, hingga toko fisik.
Pada fase awal pertumbuhannya, Nonnetedy bahkan menggunakan konsep “mobil kerudung” untuk menjangkau konsumen di dalam maupun luar kota.
Dari Komunitas ke Panggung Fashion
Perjalanan Nonnetedy kemudian memasuki tahap ekspansi ritel dan pameran.
Selain mengikuti berbagai bazar, Nonnetedy membuka sejumlah gerai di Bandung. Jaringan penjualan tersebut antara lain mencakup lima gerai di Pasar Baru Trade Center dan tiga toko di Metro Indah Mall.
Nonnetedy juga pernah mengoperasikan butik sekaligus workshop di Jalan Karawitan, Buahbatu, Bandung.
Eksistensi di pasar lokal turut diperkuat melalui keikutsertaan dalam berbagai pameran hijab di pusat perbelanjaan besar Bandung, seperti Trans Studio Mall, Bandung Indah Plaza, Paris Van Java dan Istana Plaza.
Jangkauan pameran kemudian berkembang hingga Jakarta dan sejumlah kota di luar Pulau Jawa.
Nama Nonnetedy juga pernah tampil dalam panggung mode berskala besar. Pada 2014, misalnya, Nonnetedy mengisi sesi Hijab Tutorial dalam Urban Fest yang digelar di GSG ITENAS Bandung pada 29 Mei hingga 1 Juni 2014.
Setahun kemudian, Nonnetedy kembali hadir dalam Hijab Fashion Week 2015 di Graha Manggala Siliwangi, Bandung.
Kehadiran dalam berbagai kegiatan tersebut menjadi bagian dari perjalanan Nonnetedy membangun kedekatan dengan konsumen sekaligus memperkenalkan konsep hijab praktis yang menjadi salah satu identitas produknya.
Mempertahankan Karakter di Tengah Perubahan Tren
Lebih dari sekadar mengikuti perkembangan mode, Nonnetedy berupaya mempertahankan karakter produknya.
Salah satu ciri yang dikenal dari koleksinya adalah hijab instan bergaya curly dengan detail kerutan artistik pada bagian atas kepala.
Karakter tersebut dipertahankan sebagai identitas desain, sembari produk terus dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan muslimah dengan aktivitas yang beragam.
Koleksi Nonnetedy kini mencakup berbagai model hijab dan ciput. Pilihannya dirancang untuk kebutuhan harian, aktivitas profesional, menghadiri undangan, hingga padu padan dengan kebaya dan kain batik.
Selain itu, tersedia pula pilihan busana hijab syar’i, perlengkapan hijab untuk ibadah umrah, hijab lembaran serta berbagai model ciput.
Kepraktisan menjadi salah satu perhatian utama dalam pengembangan produk. Ciput, misalnya, dirancang agar mampu membantu menjaga rambut tetap rapi sekaligus memberikan kenyamanan ketika digunakan bersama hijab.
Sementara hijab instan dikembangkan untuk memberikan kemudahan penggunaan tanpa proses styling yang rumit.
“Kunci dari ketahanan UMKM lokal adalah kemampuan untuk tidak hanya mengikuti tren, tetapi juga mempertahankan karakter dan merawat kepercayaan konsumen pertama kami,” ujar perwakilan manajemen CV Nonnetedy.
Bertahan Saat Pandemi
Ketangguhan Nonnetedy kembali diuji ketika pandemi Covid-19 melanda pada 2020.
Di tengah tekanan terhadap aktivitas ekonomi dan perdagangan, perusahaan memilih untuk tidak melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap karyawannya.
Sebaliknya, Nonnetedy melakukan adaptasi produk dengan menghadirkan set hijab dan masker. Produk tersebut mendapat respons pasar yang positif dan mendorong peningkatan aktivitas produksi.
Pada periode tersebut, kapasitas produksi bahkan disebut mencapai sekitar 4.000 pieces per bulan.
Pertumbuhan permintaan juga membuka kesempatan bagi penambahan tenaga kerja dan memperluas jaringan reseller di berbagai daerah.
Bagi Nonne, perjalanan tersebut tidak hanya berbicara tentang mempertahankan sebuah merek, tetapi juga bagaimana bisnis dapat menciptakan kesempatan ekonomi bagi orang lain.
Melalui CV Nonnetedy, aktivitas usaha melibatkan berbagai bidang pekerjaan, mulai dari produksi, pengelolaan konten digital hingga pengembangan penjualan melalui live streaming dan e-commerce.
Bertransformasi ke Dunia Digital
Perubahan perilaku konsumen setelah pandemi kemudian mendorong Nonnetedy memperkuat transformasi digital.
Jika pada masa awal bisnis mengandalkan komunitas, bazar dan toko fisik, kini kanal digital menjadi bagian penting dalam distribusi produk.
Nonnetedy memanfaatkan marketplace dan social commerce, sekaligus membangun kolaborasi dengan kreator konten dan afiliator.
Dukungan dari sejumlah kreator digital turut memperluas pengenalan produk kepada konsumen baru.
Transformasi tersebut juga membuka peluang Nonnetedy untuk menjangkau konsumen di luar Indonesia.
Melalui program ekspor marketplace, produk Nonnetedy disebut telah menjangkau sejumlah pasar mancanegara, termasuk Malaysia dan Singapura.
Perjalanan ekspansi bahkan tidak berhenti di Asia Tenggara. Produk Nonnetedy juga disebut telah menjangkau Brunei Darussalam, Taiwan hingga Senegal di Afrika Barat.
Ketertarikan konsumen dari Senegal bahkan berlanjut dengan kunjungan langsung ke gerai Nonnetedy di Bandung untuk melihat produk dan proses bisnis secara lebih dekat.
Dari Bandung untuk Muslimah di Berbagai Negara
Perjalanan Nonnetedy selama lebih dari 16 tahun menunjukkan bagaimana sebuah bisnis lokal dapat tumbuh dari kebutuhan sederhana menjadi jenama yang memiliki pasar lebih luas.
Kekuatan komunitas menjadi fondasi awal. Karakter produk menjadi pembeda. Kemampuan beradaptasi membantu bisnis melewati pandemi, sementara transformasi digital membuka pintu menuju pasar yang lebih luas.
Bagi Nonne Noer Pujiane, perjalanan tersebut sekaligus menjadi gambaran bahwa perempuan memiliki ruang yang besar untuk mandiri melalui kewirausahaan.
Nonnetedy tidak hanya berkembang sebagai bisnis fashion, tetapi juga menjadi bagian dari ekosistem ekonomi yang melibatkan pekerja, reseller, kreator konten dan konsumen dari berbagai daerah.
Dari Bandung, jenama tersebut kini berupaya mempertahankan eksistensinya dengan satu prinsip utama: terus berinovasi tanpa kehilangan karakter yang sejak awal membuat konsumen percaya.
Bagi konsumen yang ingin melihat koleksi Nonnetedy, produk tersedia melalui sejumlah kanal penjualan resmi, yakni Shopee, TikTok Shop Nonnetedy Hijab, serta layanan WhatsApp.
Untuk menjelajahi ratusan koleksi hijab instan premium dan inner ergonomis berstandar global, konsumen dapat mengakses katalog resmi Nonnetedy melalui saluran distribusi berikut:
Shopee: https://s.shopee.co.id/904t2hV0We
TikTok Shop (Nonnetedy Hijab): https://vt.tiktok.com/ZSVoaARwC/?page=Mall
WhatsApp (Info & Pemesanan): 08886390411




















Users Today : 416
Total Users : 1462384
Views Today : 1301
Total views : 6840688