Ket foto: Suasana peluncuran Program Sinergitas Desa Wisata dan Ekonomi Kreatif (Ekraf) di Kampung Tenun, Samarinda Seberang, yang ditandai dengan kolaborasi antara Pemprov Kaltim dan Pemkot Samarinda.
Infobenua.com Samarinda – Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur bersama Pemerintah Kota Samarinda terus mendorong percepatan pengembangan desa wisata dengan meluncurkan Program Sinergitas Desa Wisata dan Ekonomi Kreatif (Ekraf) di Kampung Tenun, Samarinda Seberang, Selasa (31/3/2026).
Kegiatan yang digelar di Kantor Kelurahan Tenun, Jalan Pangeran Bendahara tersebut tidak hanya menjadi seremoni peluncuran, tetapi juga dirangkai dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS), peluncuran program sektor pariwisata dan ekonomi kreatif, serta pelaksanaan BIMA Etam seri ke-11. Program ini dirancang sebagai langkah strategis untuk mengoptimalkan potensi lokal agar mampu menjadi penggerak ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
Dalam implementasinya, pemerintah mengedepankan pendekatan kolaboratif pentahelix yang melibatkan berbagai unsur, mulai dari pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas, hingga media. Pendekatan ini dinilai penting untuk memastikan pengembangan desa wisata berjalan secara terintegrasi.
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bidang III, Arief Murdiyatno, yang hadir mewakili gubernur, menegaskan bahwa keberhasilan program sangat bergantung pada kekuatan sinergi lintas sektor.
“Pengembangan desa wisata harus dilakukan secara terpadu. Kolaborasi antar pihak menjadi kunci agar program ini dapat berjalan optimal dan berkelanjutan,” ujarnya.
Sejumlah pemangku kepentingan turut ambil bagian dalam kegiatan tersebut, di antaranya Kepala OJK Kaltim-Kaltara Misran Pasaribu, Kepala Dinas Pariwisata Kaltim Ririn Sari Dewi, Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kaltim Bayuadi Hardiyanto, serta Kepala Disporapar Samarinda Muslimin.
Kepala Dinas Pariwisata Kaltim, Ririn Sari Dewi, menjelaskan bahwa program ini merupakan tindak lanjut dari Peraturan Gubernur Kaltim Nomor 38 Tahun 2025 tentang pengembangan desa wisata, sekaligus mendukung visi pembangunan berbasis JOSPOLL.
“Pembangunan desa wisata diarahkan agar masyarakat menjadi pelaku utama, sehingga manfaat ekonomi dapat dirasakan secara langsung dan berkelanjutan,”
katanya.
Kampung Tenun dipilih sebagai lokasi percontohan karena memiliki nilai sejarah yang kuat serta potensi ekonomi yang menjanjikan.
Kawasan ini dinilai mampu berkembang menjadi destinasi unggulan yang berdaya saing, tidak hanya di tingkat nasional tetapi juga internasional.
Dari perspektif ekonomi,
sektor pariwisata disebut memiliki peluang besar sebagai alternatif penggerak pertumbuhan daerah. Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kaltim, Bayuadi Hardiyanto, menyampaikan bahwa sektor ini dapat mengurangi ketergantungan pada industri ekstraktif.
“Pariwisata memiliki keunggulan karena tidak memerlukan investasi sebesar sektor industri. Potensinya sudah tersedia, tinggal bagaimana dikelola secara maksimal,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti peluang yang muncul seiring hadirnya Ibu Kota Nusantara (IKN), yang diperkirakan akan meningkatkan arus kunjungan wisatawan ke wilayah Samarinda.
“Kehadiran IKN membuka peluang kunjungan wisatawan yang lebih besar. Ini harus dimanfaatkan, termasuk dengan memperkuat daya tarik Kampung Tenun sebagai destinasi budaya,” tambahnya.
Meski memiliki potensi besar, pengembangan kawasan ini masih menghadapi sejumlah tantangan, seperti keterbatasan akses pembiayaan, pemasaran, serta minimnya regenerasi perajin dari kalangan muda.
Sebagai solusi, program BIMA Etam dihadirkan untuk mendukung pelaku UMKM melalui pembiayaan, edukasi, dan literasi keuangan. Hingga saat ini, program tersebut telah menjangkau 833 UMKM dengan total pembiayaan mencapai Rp16,97 miliar kepada 163 pelaku usaha.
Dalam pelaksanaannya, Pemprov Kaltim mengusung empat pilar utama, yaitu penguatan kelembagaan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, perbaikan infrastruktur dan aksesibilitas, serta penguatan digitalisasi dan promosi.
Ke depan, sinergi ini akan diperluas dengan melibatkan 13 mitra strategis tambahan di berbagai daerah di Kalimantan Timur. Langkah ini diharapkan mampu mempercepat pemerataan pengembangan desa wisata.
Peluncuran program tersebut menjadi bukti keseriusan pemerintah dalam membangun sektor pariwisata yang mandiri, inovatif, dan kompetitif, sekaligus memperkuat posisi Kalimantan Timur sebagai daerah penyangga Ibu Kota Nusantara.
Penulis Nisnun Editor Eka Mandiri










Users Today : 1705
Total Users : 1593628
Views Today : 2249
Total views : 7105269