Infobenua.com, Samarinda — Kalimantan Timur bersiap mengembangkan fasilitas pengolahan metanol dengan kapasitas produksi hingga 2 juta ton per tahun melalui Proyek Strategis Nasional gasifikasi batu bara berkalori rendah di Kabupaten Kutai Timur. Proyek hilirisasi tersebut dikembangkan di kawasan Batuta Chemical Industrial Park, Bengalon, dengan nilai investasi mencapai Rp41,2 triliun dan memanfaatkan lahan seluas 93 hektare.
Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kaltim Bambang Arwanto mengatakan proyek tersebut diarahkan untuk mengolah batu bara berkalori rendah menjadi metanol yang dapat digunakan sebagai bahan baku berbagai kebutuhan industri.
“Proyek hilirisasi ini dirancang untuk mengolah komoditas batu bara berkalori rendah menjadi produk metanol yang sangat dibutuhkan industri,” kata Bambang di Samarinda, Kamis (1/10/2026).
Fasilitas tersebut diproyeksikan menggunakan batu bara berkalori rendah sekitar 7,7 juta ton per tahun sebagai bahan baku. Batu bara yang digunakan memiliki nilai kalori sekitar 3.400 kilokalori per kilogram.
Menurut Bambang, proyek tersebut juga diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah batu bara yang selama ini memiliki nilai jual relatif rendah karena tidak memenuhi spesifikasi tertentu. Melalui teknologi gasifikasi, batu bara tersebut akan diubah menjadi produk metanol cair dengan standar internasional yang mengacu pada ketentuan International Methanol Producers and Consumers Association (IMPCA).
“Pengolahan batu bara kalori rendah melalui teknologi gasifikasi ini berpotensi menghemat devisa negara hingga Rp7,1 triliun setiap tahun,” ujar Bambang.
Metanol yang dihasilkan nantinya dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan industri, termasuk sebagai bahan campuran bahan bakar minyak dan pasokan bagi sektor petrokimia.
“Hasil olahan produk metanol tersebut akan difungsikan secara optimal sebagai bahan campuran bahan bakar minyak serta pasokan industri petrokimia,” tutur Bambang.
Serap Ribuan Tenaga Kerja
Proyek tersebut dikembangkan PT Bumi Etam Chemical, konsorsium yang terdiri atas PT Arutmin Indonesia dan PT Kaltim Prima Coal. Selain memberikan nilai tambah terhadap komoditas batu bara, pembangunan fasilitas pengolahan metanol diperkirakan memberikan dampak terhadap penyerapan tenaga kerja.
Pada puncak konstruksi, proyek tersebut diperkirakan membutuhkan hingga 5.000 tenaga kerja. Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur meminta pengembang memberikan prioritas kepada tenaga kerja dari daerah dalam memenuhi kebutuhan pekerja proyek.
“Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur secara tegas menekankan agar jajaran pengembang proyek senantiasa memprioritaskan penyerapan tenaga kerja lokal daerah,” kata Bambang.
Setelah memasuki tahap operasi penuh, fasilitas pengolahan metanol tersebut diperkirakan membutuhkan sekitar 800 tenaga kerja tetap. Pemprov Kaltim menyatakan akan terus mengawal investasi hilirisasi energi tersebut agar proyek dapat memberikan dampak ekonomi yang lebih luas bagi daerah.
“Kami berkomitmen penuh memastikan proyek hilirisasi ini berjalan tuntas hingga tahap produksi demi mewujudkan kedaulatan energi nasional,” ujar Bambang. (*)








Users Today : 1855
Total Users : 1509544
Views Today : 3325
Total views : 6938005