Infobenua.com, Teheran – Iran menyatakan tidak akan membuka kembali Selat Hormuz untuk pelayaran komersial sebelum Amerika Serikat memenuhi sejumlah tuntutan yang diajukan Teheran. Persyaratan tersebut mencakup penghentian blokade terhadap pelabuhan Iran, pencabutan sanksi ekonomi, pembebasan aset yang dibekukan, serta pembayaran kompensasi atas kerusakan akibat perang.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei mengatakan pembukaan jalur pelayaran strategis tersebut sepenuhnya bergantung pada pemenuhan tuntutan tersebut oleh Washington.
“Pihak AS harus menghentikan dan memperbaiki tindakannya yang ilegal dan merusak,” kata Baghaei.
Ia menambahkan bahwa pembicaraan antara Iran dan Oman mengenai pengaturan pelayaran di Selat Hormuz pada Senin (10/8) berlangsung positif. Menurutnya, kedua pihak telah mencapai kesepakatan mengenai jalur pelayaran, meski sejumlah persoalan teknis masih dibahas.
“Kami telah mencapai kesepakatan mengenai peta jalur pelayaran,” kata Baghaei.
Ia menjelaskan pembahasan juga mencakup aspek “navigasi yang aman, perlindungan lingkungan, layanan maritim dan pemberantasan kejahatan”.
Sebelumnya, Iran menyatakan berencana mengenakan biaya kepada kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz. Gagasan tersebut selama ini ditolak Amerika Serikat, yang menentang pemberlakuan biaya akses terhadap salah satu jalur pelayaran energi terpenting di dunia.
Menurut Reuters, sebagian besar tuntutan Iran sejalan dengan rancangan kesepakatan damai awal yang ditandatangani pada Juni, namun implementasinya kemudian gagal terlaksana.
Selat Hormuz secara efektif masih tertutup sejak pecahnya perang. Sebelum konflik, sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair dunia melewati jalur tersebut. Iran menegaskan pembukaan kembali selat tetap bergantung pada penghentian sanksi dan ancaman militer Amerika Serikat serta pembayaran ganti rugi atas dampak perang.
Pernyataan Teheran langsung mendapat tanggapan dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Dalam keterangannya di Gedung Putih pada Senin (10/8), Trump menyatakan Washington juga akan mengajukan tuntutan kompensasi kepada Iran dalam setiap proses perundingan damai.
“Kami akan meminta uang untuk kerusakan yang mereka timbulkan selama periode 50 tahun,” kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih.
Ia mengatakan kompensasi tersebut mencakup korban sipil dalam demonstrasi serta personel militer Amerika Serikat yang tewas di kawasan Timur Tengah.
“Jika ada kerusakan yang harus dibayar, saya pikir Iran harus membayar kerusakan tersebut,” ujar Trump.
Dalam unggahan di media sosial, Trump juga menyatakan Iran harus bertanggung jawab atas “kerusakan dan kematian” yang terjadi di Lebanon, Suriah, Yaman, dan Gaza. Ia mengatakan tuntutan tersebut akan dimasukkan ke dalam agenda perundingan dengan Teheran.
Trump juga meminta kompensasi bagi keluarga 17 pelaut Amerika Serikat yang tewas dalam serangan terhadap kapal perang USS Cole pada 2000. Namun, Reuters mencatat serangan tersebut selama ini dikaitkan dengan kelompok al-Qaeda, bukan Iran.
Saling mengajukan tuntutan kompensasi diperkirakan akan semakin mempersulit proses negosiasi mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz. Pasar energi merespons perkembangan tersebut dengan kenaikan harga minyak mentah sekitar lima persen pada penutupan perdagangan Senin setelah pernyataan Trump mengurangi optimisme terhadap tercapainya kesepakatan.
Di tengah proses diplomasi, Washington dan Teheran juga menyampaikan pernyataan berbeda mengenai kondisi aktual di Selat Hormuz.
Trump mengatakan jalur pelayaran itu telah dibersihkan dari ranjau dan kini kembali aman untuk lalu lintas kapal komersial.
“Ada sedikit kerumitan karena mereka [Iran] terkadang menjatuhkan ranjau, dan kami menemukan ranjau tersebut. Kami telah membersihkan seluruh selat dari ranjau,” kata Trump.
Ia juga menyatakan Amerika Serikat memiliki “100 persen” kendali atas jalur tersebut.
Senada dengan itu, Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan Iran memasang sejumlah besar ranjau pada awal perang. Menurutnya, Washington kini tengah menyiapkan mekanisme keamanan pelayaran, termasuk operasi pembersihan ranjau dan komitmen Iran untuk tidak menyerang kapal-kapal komersial.
Namun, Reuters melaporkan Selat Hormuz pada praktiknya masih tetap tertutup sejak konflik dimulai. Iran sebelumnya menegaskan pembukaan kembali jalur tersebut hanya dapat dilakukan setelah tercapai kesepakatan dengan Amerika Serikat beserta sekutunya.
Di sisi lain, Washington terus meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Teheran melalui kebijakan Operation Economic Fury.
Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent menyebut langkah tersebut sebagai “padanan finansial” dari kampanye pengeboman, termasuk ancaman sanksi terhadap negara-negara yang membeli minyak Iran maupun bertransaksi dengan sistem perbankan Iran.
Departemen Keuangan AS melaporkan ekspor minyak Iran turun dari sekitar 1,8 juta barel per hari sebelum perang menjadi kurang dari 500.000 barel per hari dalam sebulan terakhir. Sementara itu, Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan ekonomi Iran mengalami kontraksi sebesar 5,4 persen, sedangkan pemerintah Iran mencatat inflasi tahunan mencapai 88,6 persen.
Peneliti senior Columbia University, Richard Nephew, menilai tekanan ekonomi Washington belum disertai sasaran yang jelas.
“Tekanan ekonomi mungkin menjadi bagian dari strateginya, tetapi dia belum menjelaskan tujuannya,” kata Nephew.
Pandangan serupa disampaikan mantan Wakil Penasihat Keamanan Nasional Amerika Serikat, Juan Zarate. Menurutnya, sanksi dan blokade memang memberikan tekanan finansial terhadap Iran, tetapi hasilnya tidak dapat diperoleh dalam waktu singkat.
“Pertanyaan utamanya adalah seberapa jauh Amerika Serikat bersedia mempersempit perdagangan minyak Iran dan mengancam negara ketiga dengan sanksi berat,” kata Zarate.
Perkembangan tersebut berlangsung ketika Trump menghadapi tekanan politik di dalam negeri untuk mengakhiri konflik. Kenaikan harga bahan bakar juga menjadi isu sensitif menjelang pemilihan paruh waktu Amerika Serikat pada November mendatang.(*)


















Users Today : 1001
Total Users : 1419892
Views Today : 1556
Total views : 6732781