Infobenua.com, Bogota – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,4 mengguncang Kolombia pada Senin (10/8) pagi, menewaskan sedikitnya 132 orang, merusak ribuan bangunan, dan menyebabkan ratusan warga masih dinyatakan hilang. Tim penyelamat terus melakukan pencarian di wilayah yang paling terdampak, sehingga jumlah korban diperkirakan masih akan bertambah.
Berdasarkan data Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), gempa terjadi pada pukul 07.34 waktu setempat dengan pusat gempa berada di dekat Kota San Jose del Palmar, Provinsi Choco. Dampak terparah dilaporkan terjadi di kawasan penghasil kopi di wilayah timur episentrum, meliputi sejumlah daerah di kawasan Pasifik dan Andes bagian tengah.
Asocapitales, asosiasi kota-kota ibu kota di Kolombia, melaporkan korban meninggal dunia telah mencapai 132 orang. Sementara itu, operasi pencarian korban selamat masih berlangsung di berbagai lokasi yang dipenuhi reruntuhan bangunan.
Dalam pidato yang disiarkan televisi, Presiden Abelardo de la Espriella mengatakan lebih dari 5.000 rumah mengalami kerusakan, tiga rumah sakit runtuh, dan sekitar 188 orang masih dinyatakan hilang hanya di Provinsi Valle del Cauca.
Kerusakan juga melanda Provinsi Caldas dan Risaralda yang merupakan bagian dari kawasan penghasil kopi utama Kolombia dengan kontribusi sekitar seperempat produksi nasional. Hingga kini belum diketahui besarnya dampak terhadap industri kopi, namun sejumlah jalur transportasi utama terputus akibat longsor yang dipicu gempa.
Otoritas penerbangan Kolombia menghentikan operasional lima bandara di wilayah terdampak. Hingga saat ini belum ada laporan mengenai kerusakan pada infrastruktur energi utama.
Bencana tersebut menjadi ujian pertama bagi Presiden De la Espriella yang baru dilantik pada Jumat lalu di Cali. Sedikitnya 19 bangunan di kota tersebut dilaporkan runtuh dan menjebak sejumlah warga.
Presiden semula berencana mengunjungi Provinsi Risaralda, namun kemudian memutuskan menuju Bogota untuk memimpin koordinasi bersama Badan Nasional Penanggulangan Risiko dan Bencana sebelum akhirnya bertolak ke Quibdo, ibu kota Provinsi Choco, pada Senin sore.
Gubernur Choco, Nubia Córdoba, mengatakan sebagian besar infrastruktur konektivitas di provinsi tersebut telah berusia lebih dari lima dekade dan sedikitnya 10 munisipalitas masih terisolasi akibat kerusakan.
Dalam kunjungannya, De la Espriella berjanji pemerintah akan memberikan perhatian khusus kepada Choco yang menurutnya telah “dilupakan dan dibiarkan menghadapi nasibnya sendiri.”
Di Kota Manizales, ibu kota Provinsi Caldas, kerusakan terlihat di berbagai sudut kota. Fasad bangunan berlubang, pecahan kaca menutupi jalan, sementara puing-puing beton menghambat arus lalu lintas. Sejumlah kabel listrik putus berserakan dan kerusakan jaringan pipa mengganggu pasokan air bersih. Layanan gas rumah tangga juga dihentikan di beberapa kawasan sebagai langkah antisipasi.
Natalia Aguirre, tenaga kesehatan berusia 40 tahun, mengatakan dirinya berlari kembali ke rumah untuk menyelamatkan anak-anaknya ketika gempa terjadi.
“Mereka selamat, tetapi semua yang ada di dalam apartemen hancur,” katanya.
Warga lainnya, Jacobo Pelaez, mengatakan sejumlah bangunan di kompleks tempat tinggalnya kini tidak lagi aman untuk dihuni.
“Menakutkan untuk kembali masuk karena Anda tidak tahu apakah akan ada gempa susulan,” tambahnya.
Sirene kendaraan darurat terus terdengar di berbagai wilayah terdampak. Polisi menutup sejumlah lokasi berbahaya menggunakan pita peringatan, sementara keterbatasan personel membuat warga turut membantu proses evakuasi.
Sebastián Guzmán, seorang ahli biologi berusia 29 tahun, mengatakan ia bersama teman-temannya membantu penghuni sebuah gedung mengambil barang-barang mereka sebelum petugas pemadam kebakaran meminta seluruh warga segera meninggalkan lokasi.
“Pemadam Kebakaran tiba dan mengatakan kami harus pergi karena ada risiko bangunan runtuh.”
Sekitar 225 kilometer di utara, Kota Medellin juga merasakan guncangan. Sejumlah bangunan mengalami retakan, namun hingga kini belum ada laporan mengenai korban jiwa maupun korban luka.
Di tengah kondisi darurat, warga Kolombia memanfaatkan media sosial untuk mencari anggota keluarga yang hilang dan mengoordinasikan bantuan. Platform Colombia Te Busca, yang sebelumnya digunakan saat gempa Venezuela pada Juni lalu, mencatat lebih dari 2.000 laporan orang hilang.
Badan Nasional Penanggulangan Risiko dan Bencana Kolombia (UNGRD) membuka sistem pelaporan daring bagi masyarakat untuk mendata korban meninggal, korban luka, orang hilang, serta kerusakan infrastruktur. Pemerintah juga meminta seluruh instansi menyalurkan laporan resmi melalui UNGRD guna memusatkan koordinasi bantuan.
UNGRD merekomendasikan pemerintah menetapkan status bencana nasional agar proses bantuan kemanusiaan, rehabilitasi, dan rekonstruksi dapat dipercepat.
Sejumlah anggota parlemen juga mendesak Presiden menetapkan status darurat ekonomi yang memungkinkan pemerintah menaikkan pajak tanpa persetujuan Kongres guna membiayai penanganan bencana.
Getaran gempa turut dirasakan hingga ibu kota Bogota. Banyak warga berhamburan keluar rumah meski masih mengenakan pakaian tidur. Wali Kota Bogota mengatakan belum ada laporan kerusakan berarti di ibu kota.
Dukungan internasional mulai berdatangan. Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio menyatakan Washington memantau perkembangan situasi dan “siap memberikan dukungan kepada rakyat Kolombia.”
Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum, Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva, dan Presiden Ekuador Daniel Noboa juga menyampaikan kesiapan negara masing-masing untuk membantu proses penanganan bencana.
Gempa tersebut membangkitkan kembali ingatan terhadap gempa besar pada 1999 yang melanda kawasan yang sama dan menewaskan hampir 1.200 orang.
Peristiwa ini juga terjadi kurang dari dua bulan setelah dua gempa besar mengguncang Venezuela pada Juni. Bencana di negara tetangga itu telah menewaskan lebih dari 6.000 orang dan menjadi salah satu gempa paling mematikan di Amerika Latin dalam beberapa tahun terakhir.
Di Quibdo, Carlos Andrés Valoyes, seorang insinyur sistem berusia 27 tahun, mengatakan ia bersama istri dan bayi perempuannya kehilangan aliran listrik dan layanan komunikasi hampir sepanjang hari setelah gempa.
Menjelang sore, ia mengatakan banyak warga masih bertahan di trotoar karena khawatir rumah mereka tidak lagi aman dan takut terjadi gempa susulan. Survei Geologi Kolombia mencatat sedikitnya 18 gempa susulan hingga tengah hari dengan magnitudo antara 1,4 hingga 4,8.
Valoyes mengatakan kini ia menampung dua keluarga tetangganya yang rumahnya tidak lagi layak dihuni.
“Saya pikir malam ini akan menjadi salah satu malam terpanjang,” kata Valoyes.(*)


















Users Today : 1001
Total Users : 1419892
Views Today : 1561
Total views : 6732786