Infobenua.com, Kukar – Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) tengah mengupayakan terobosan baru dalam pengelolaan infrastruktur air dengan mengubah wajah Embung Maluhu, bukan sekadar sebagai bendungan air, tapi sebagai ruang produktif dan sosial milik bersama.
Transformasi ini tidak berhenti pada aspek fisik semata, tetapi menekankan kolaborasi antara pemerintah dan warga sebagai inti dari keberlanjutan.
Kepala Dinas PU Kukar, Wiyono, menegaskan bahwa pengembangan kawasan embung akan berhasil jika masyarakat tidak hanya menjadi penonton, tetapi pelaku utama yang ikut menjaga dan menghidupkan ruang tersebut.
“Warga perlu ikut merawat alam sekitar embung, tidak bisa kita sendiri. Dengan itu keberlanjutan air dan fungsinya bisa terus terjaga,” tegas Wiyono, belum lama ini.
Embung Maluhu sendiri merupakan infrastruktur penting yang berfungsi sebagai sumber irigasi utama bagi lahan pertanian di Kelurahan Maluhu, mencakup RT 17 hingga RT 21. Dibangun di atas lahan seluas setengah hektare, embung ini memiliki kapasitas tampung hingga 3.000 meter kubik air, dan disokong oleh anggaran pembangunan sebesar Rp3 miliar dari Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara.
Namun, nilai strategis embung ini tak berhenti pada aspek pertanian. Potensinya terus dikembangkan menjadi ruang publik yang multi-fungsi, baik sebagai ruang wisata keluarga, ruang edukasi, hingga ruang ekonomi warga.
Dalam perencanaannya, Embung Maluhu akan dilengkapi berbagai fasilitas publik seperti gazebo, jalur pedestrian, jembatan penghubung, hingga taman edukatif. Fasilitas ini disiapkan bukan sekadar untuk estetika, tetapi agar embung bisa berfungsi sebagai ruang rekreasi, ruang belajar, hingga ruang ekonomi masyarakat.
“Kawasan ini ke depan bisa menjadi tempat anak-anak sekolah belajar ekosistem air dan lingkungan. Bisa juga dimanfaatkan untuk kegiatan komunitas dan UMKM seperti jualan makanan, minuman, dan hasil kerajinan warga,” jelasnya.
Fokus penting lain dari proyek ini adalah pemberdayaan komunitas lokal. Pemerintah secara aktif ingin melibatkan warga sejak tahap awal perencanaan, pembangunan, hingga pengelolaan kawasan.
“Bukan hanya pemerintah yang bergerak. Warga harus dilibatkan agar merasa memiliki. Jika mereka merasa dilibatkan, otomatis akan ikut menjaga,” ujar Wiyono.
Lebih jauh, pemerintah juga menyiapkan upaya penghijauan kawasan embung dengan menanam pohon pinus dan vegetasi peneduh lainnya. Ini tidak hanya untuk mempercantik lanskap, tetapi juga menjaga fungsi ekologis embung sebagai cadangan air dan pengendali banjir.
Transformasi Embung Maluhu merupakan bagian dari upaya lebih besar Pemkab Kukar dalam menciptakan infrastruktur hijau berbasis kolaborasi dan kemandirian lokal. Dengan menjadikan embung sebagai ruang terbuka yang hidup, harapannya warga tidak hanya mendapat manfaat langsung, tetapi juga terdorong menjadi penjaga alamnya sendiri.
“Embung ini harus jadi kebanggaan bersama. Kalau warga merasa punya, maka keberlanjutan tidak akan menjadi beban pemerintah saja,” tutup Wiyono.
Penulis Lisa editor Eka mandiri


















Users Today : 878
Total Users : 1374700
Views Today : 3876
Total views : 6642045