Infobenua.com Samarinda: Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) terus meningkatkan perhatian terhadap atlet difabel, dengan memastikan mereka mendapatkan dukungan penuh dalam pelatihan dan kompetisi.
Kepala Seksi Olahraga dan Rekreasi Tradisional serta Layanan Khusus Dispora Kaltim, Thomas Alva Edison, menegaskan pentingnya pendampingan dan fasilitas yang ramah difabel untuk menunjang prestasi atlet difabel, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Menurut Thomas Alva Edison, sektor olahraga difabel memiliki tantangan yang berbeda dengan olahraga pada umumnya. Salah satu tantangan utama yang dihadapi adalah kebutuhan akan pendamping untuk setiap atlet difabel.
“Setiap atlet difabel setidaknya memerlukan satu pendamping. Jadi, jika ada sepuluh atlet, total yang terlibat bisa mencapai dua puluh orang. Pendampingan ini sangat penting, baik dalam proses latihan maupun saat pertandingan,” ujarnya (12/11/2024).
Pendampingan, menurut Thomas, tidak hanya berfungsi sebagai pengawas atau pelatih tambahan, tetapi juga sebagai penunjang keselamatan dan kenyamanan atlet selama beraktivitas, baik di lapangan maupun saat beristirahat. Hal ini menjadi lebih krusial untuk jenis atlet tertentu, seperti atlet tunanetra, yang memerlukan pendampingan lebih intensif.
Selain itu, ia menjelaskan bahwa biaya operasional untuk mendukung keikutsertaan atlet difabel dalam kompetisi lebih besar dibandingkan atlet non-difabel.
“Misalnya, atlet tunanetra membutuhkan pendamping khusus dalam berbagai aktivitas, mulai dari latihan hingga keperluan sehari-hari di hotel. Biaya ini tentu lebih tinggi, karena selain pelatihan, banyak kebutuhan lain yang harus dipenuhi agar atlet bisa fokus pada pertandingan,” tambahnya.
Thomas juga menyoroti pentingnya penyediaan fasilitas yang ramah difabel dalam setiap event atau kompetisi. Menurutnya, aksesibilitas adalah salah satu faktor utama yang harus diperhitungkan dalam penyelenggaraan acara olahraga.
“Tidak mungkin kita mengadakan acara tanpa memperhitungkan aksesibilitas. Akses untuk kursi roda, alat bantu lainnya, dan tempat-tempat yang mudah dijangkau oleh atlet difabel, harus disediakan dengan baik,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa fasilitas yang ramah difabel sangat berpengaruh pada kenyamanan dan performa atlet, baik saat latihan maupun di ajang kompetisi.
“Fasilitas seperti toilet yang mudah diakses, tempat duduk yang nyaman, dan jalur yang bebas hambatan, adalah beberapa contoh kecil yang sangat berpengaruh terhadap kualitas pengalaman atlet difabel dalam berkompetisi,” terang Thomas.
Lebih lanjut, Thomas berharap bahwa dukungan terhadap atlet difabel tidak hanya datang dari pemerintah, tetapi juga dari masyarakat luas.
“Kita perlu terus mengedukasi masyarakat tentang pentingnya perhatian terhadap atlet difabel. Bukan hanya dari segi fasilitas, tapi juga dari sisi pelatihan, pendampingan, dan persiapan kejuaraan,” ujarnya.
Thomas juga menegaskan bahwa pemerintah, melalui Dispora Kaltim, akan terus berusaha meningkatkan kualitas pelatihan dan kompetisi untuk atlet difabel. Hal ini menjadi bagian dari upaya untuk mempersiapkan mereka berprestasi di ajang nasional maupun internasional.
“Difabel butuh perhatian lebih. Tidak hanya dari segi fasilitas, tetapi juga dari aspek lain yang menunjang persiapan mereka dalam berkompetisi,” tambahnya.
Ke depan, ia berharap semakin banyak pihak yang peduli dengan kebutuhan atlet difabel, dan bahwa perhatian terhadap mereka bisa meningkat, agar mereka dapat terus berkembang dan meraih prestasi yang membanggakan.
“Kami yakin dengan dukungan yang maksimal, atlet difabel dari Kalimantan Timur bisa berprestasi di tingkat nasional dan internasional,” tutup Thomas.
Penulis Frida editor eka mandiri


















Users Today : 1044
Total Users : 1317324
Views Today : 1671
Total views : 6428314