Infobenua.com, Hamburg — Pengadilan Tinggi Hamburg menjatuhkan hukuman penjara kepada delapan anggota dan pendukung kelompok neo-Nazi “Letzte Verteidigungswelle” atau “Gelombang Pertahanan Terakhir” setelah mereka dinyatakan bersalah atas sejumlah aksi kekerasan bermotif ekstremisme sayap kanan, termasuk percobaan pembunuhan, pembakaran, dan penganiayaan berat.
Kelompok tersebut diketahui berupaya menggulingkan sistem politik Jerman melalui aksi kekerasan yang menyasar migran dan pihak-pihak yang mereka anggap sebagai “lawan politik”, bukan melalui proses demokrasi.
Dalam pamflet yang disebarkan organisasi itu tertulis kalimat, “kami adalah gelombang yang akan menyapu bersih sampah dari negeri kami.”
Mayoritas anggota kelompok tersebut masih berusia sangat muda, yakni antara 14 hingga 21 tahun.
Pengadilan memproses perkara tersebut berdasarkan hukum pidana anak dan remaja. Tujuh anggota serta satu pendukung organisasi dijatuhi hukuman penjara antara satu setengah hingga lima tahun.
Terdakwa termuda dijatuhi hukuman satu setengah tahun penjara, namun pelaksanaannya ditangguhkan dengan masa percobaan.
Selain dinyatakan sebagai anggota atau pendukung organisasi teroris, para terdakwa juga terbukti melakukan sejumlah tindak pidana serius, termasuk percobaan pembunuhan, pembakaran, dan penganiayaan berat.
Majelis hakim menyatakan kelompok itu melakukan serangan pembakaran terhadap sebuah gedung kebudayaan di Altdöbern, negara bagian Brandenburg, pada Oktober 2024.
Menurut hasil penyelidikan, para pelaku keliru mengira bangunan tersebut sebagai tempat berkumpul kelompok sayap kiri. Kebakaran menghanguskan seluruh bangunan dan menyebabkan kerugian material mencapai ratusan ribu euro.
Wali Kota Altdöbern, Peter Winzer, mengatakan dirinya masih terguncang atas peristiwa tersebut.
“Kebakaran ini sungguh bencana. Tempat itu adalah pusat pertemuan masyarakat: untuk kegiatan budaya, rapat, dan semua acara yang kami selenggarakan di sini.”
Penyidik juga mengungkap dua percobaan serangan lain terhadap tempat penampungan pengungsi di Senftenberg, Brandenburg, dan Schmölln, Thüringen, pada awal 2025.
Tidak ada korban jiwa dalam kedua insiden tersebut. Namun, menurut penyidik, hal itu semata-mata terjadi karena faktor kebetulan, bukan karena pelaku mengurungkan niatnya.
Persidangan dimulai pada Desember tahun lalu dan sebagian besar berlangsung tertutup mengingat usia para terdakwa yang masih di bawah umur atau tergolong remaja.
Kasus ini juga menyoroti peran seorang jurnalis Jerman yang bekerja untuk majalah Stern dan stasiun televisi RTL dalam membongkar aktivitas kelompok tersebut.
Jurnalis tersebut berhasil menyusup ke lingkaran dalam organisasi secara diam-diam. Dari penyusupan itu ia memperoleh informasi mengenai rencana serangan di Senftenberg sebelum akhirnya melaporkannya kepada kepolisian.
Penangkapan pertama dilakukan pada Februari 2025. Aparat kemudian menggelar serangkaian penggerebekan di Mecklenburg-Vorpommern, Hessen, dan Brandenburg yang berujung pada penangkapan anggota lainnya.
Salah satu tersangka yang ditahan kemudian diduga mengancam akan membunuh jurnalis yang mengungkap keberadaan kelompok tersebut.
Menteri Dalam Negeri Brandenburg, Jan Redmann, menilai fenomena radikalisasi anak muda menjadi salah satu aspek paling mengkhawatirkan dalam perkara ini.
Dalam wawancara dengan Deutschlandfunk, dia mengatakan, “Kami juga menemukan kesinambungan yang cukup mengejutkan. Ada hubungan keluarga pada sebagian pelaku muda, yang keluarganya sudah dikenal sebagai pelaku radikalisme sayap kanan sejak dekade 1990-an, pada masa yang dikenal sebagai Baseballschläger-Jahre.”
Istilah Baseballschläger-Jahre atau “era tongkat bisbol” merujuk pada gelombang kekerasan terhadap para pengungsi yang meluas di wilayah bekas Jerman Timur setelah reunifikasi pada awal 1990-an.
Sementara itu, beberapa hari setelah persidangan dimulai, Kejaksaan Agung Federal kembali melakukan penggerebekan terhadap sepuluh tersangka lain di Mecklenburg-Vorpommern, Nordrhein-Westfalen, Sachsen, Sachsen-Anhalt, dan Schleswig-Holstein.
Pada akhir Juni, dua remaja lainnya juga ditangkap di Thüringen karena diduga menjadi anggota “Gelombang Pertahanan Terakhir”.
Menurut perkiraan aparat keamanan, jaringan neo-Nazi tersebut masih memiliki anggota dalam jumlah “puluhan tingkat menengah” yang tersebar di berbagai wilayah Jerman, sehingga penyelidikan terhadap kelompok itu masih terus berlanjut. (*)



















Users Today : 1611
Total Users : 1407432
Views Today : 2712
Total views : 6714654