BALIKPAPAN, infobenua.com – Kota Balikpapan dan Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) sama-sama mencatat deflasi pada Agustus 2025. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Balikpapan mencatat deflasi 0,73 persen secara bulanan (month-to-month/mtm), sementara PPU deflasi 0,78 persen (mtm).
Secara tahunan (year-on-year/yoy), inflasi Balikpapan sebesar 1,31 persen, lebih rendah dari inflasi nasional 2,31 persen maupun gabungan empat kota di Kalimantan Timur sebesar 1,79 persen. Angka ini masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional 2025, yakni 2,5±1 persen.
Balikpapan Deflasi 0,73 Persen
Deflasi Balikpapan terutama disumbang kelompok transportasi dengan andil 0,30 persen.
Lima komoditas utama penyumbang deflasi adalah:
1. Angkutan udara
2. Tomat
3. Bahan bakar rumah tangga
4. Cabai rawit
5. Biaya Sekolah Menengah Pertama
Penurunan tarif angkutan udara terjadi karena belum kembali normalnya harga setelah adanya diskon, tambahan rute, serta berakhirnya masa libur sekolah. Sementara itu, harga tomat dan cabai rawit turun seiring panen raya di sejumlah daerah.
Adapun inflasi Balikpapan bersumber dari kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya dengan andil 0,02 persen. Komoditas penyumbang inflasi antara lain bawang merah, ikan layang, angkutan laut, ketimun, dan kacang panjang.
PPU Deflasi 0,78 Persen
Di PPU, deflasi terutama berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil 0,81 persen.
Lima komoditas utama penyumbang deflasi adalah:
1. Tomat
2. Cabai rawit
3. Semangka
4. Sawi hijau
5. Kacang panjang
Harga semangka turun signifikan karena memasuki puncak panen Juli–Agustus 2025. Sementara itu, sawi hijau dan kacang panjang juga melimpah seiring meningkatnya pasokan lokal.
Sebaliknya, inflasi PPU terutama bersumber dari kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga dengan andil 0,02 persen. Komoditas pendorong inflasi meliputi ikan layang, beras, ikan tongkol, bawang merah, dan ketimun.
Risiko ke Depan
Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Balikpapan mencermati sejumlah risiko inflasi ke depan, antara lain cuaca kemarau basah di daerah sentra produksi serta gelombang laut tinggi yang berpotensi mengganggu pasokan pangan dan perikanan.
Meski demikian, survei konsumen BI Balikpapan pada Agustus 2025 menunjukkan indeks keyakinan konsumen masih berada di level optimistis, yakni 129,8, meski sedikit menurun dibanding Juli 2025 yang sebesar 134,5.
Kepala Perwakilan BI Balikpapan, Robi Ariadi, menegaskan pihaknya bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) akan terus menjaga stabilitas harga melalui operasi pasar, kerja sama antar daerah, hingga program Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP).


















Users Today : 814
Total Users : 1366228
Views Today : 4874
Total views : 6607583