InfoBenua.Com
  • Home
  • Redaksi
  • INFO PRODUK
  • Blog
  • Infografis
  • Video
  • KODE ETIK PERUSAHAAN PERS
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
No Result
View All Result
InfoBenua.Com
  • Home
  • Redaksi
  • INFO PRODUK
  • Blog
  • Infografis
  • Video
  • KODE ETIK PERUSAHAAN PERS
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
No Result
View All Result
No Result
View All Result

ASEAN Bahas Kabut Asap Lintas Batas, Malaysia Desak Indonesia Percepat Pemadaman

by Hery Kuswoyo
Selasa, 13 Oktober 2026, 20:58
in Internasional
Ilustrasi

Ilustrasi

Bagikan

Infobenua.com, Manila — ASEAN akan memasukkan persoalan kabut asap lintas batas ke dalam agenda pertemuan persiapan para menteri luar negeri menjelang Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke-49 di Manila pada November 2026. Pembahasan ini menyusul kebakaran hutan dan lahan di Indonesia yang berdampak pada kualitas udara di Malaysia dan Singapura.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Filipina, Dominic Xavier Imperial, mengonfirmasi bahwa isu tersebut akan dibahas dalam pertemuan para menteri luar negeri pada November.

“Persoalan ini masuk dalam agenda,” kata Imperial, Selasa (13/10), merujuk pada pertemuan menjelang KTT ASEAN ke-49.

Malaysia mendorong pembentukan mekanisme regional yang lebih efektif untuk menangani kabut asap lintas batas. Menteri Luar Negeri Malaysia, Mohamad Hasan, mengatakan mekanisme ASEAN yang selama ini digunakan untuk penanganan bencana belum mencakup persoalan kabut asap yang melintasi perbatasan negara.

Pada Senin (12/10), Mohamad menyatakan Malaysia telah menawarkan bantuan kepada Indonesia untuk memadamkan kebakaran. Namun, upaya penanganan di sejumlah lokasi menghadapi kendala berupa jarak pandang yang terbatas, sulitnya akses menuju titik api, serta kondisi cuaca yang tidak mendukung pelaksanaan penyemaian awan.

Menurut Mohamad, informasi mengenai kendala tersebut diperolehnya melalui komunikasi dengan mitranya dari Indonesia. Ia menyatakan Malaysia memahami tantangan yang dihadapi pemerintah Indonesia, tetapi berharap ada langkah tambahan untuk mempercepat pemadaman.

Malaysia berharap Indonesia “dapat melakukan sesuatu yang lebih efektif untuk segera memadamkan api,” kata Mohamad.

Sebelumnya, Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim mengatakan Presiden Indonesia Prabowo Subianto telah “sepakat untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan” guna merespons persoalan kabut asap dalam pembicaraan kedua pemimpin. Namun, Anwar tidak merinci bentuk tindakan yang disepakati.

Kualitas udara memburuk, penerbangan terdampak

Dampak kabut asap juga memicu langkah perlindungan kesehatan masyarakat di Singapura. Pada Senin (12/10), indeks kualitas udara atau Air Quality Index (AQI) di negara tersebut mencapai 191. Angka di atas 150 masuk kategori tidak sehat, sedangkan nilai di atas 300 tergolong berbahaya.

Kementerian Kesehatan Singapura mengumumkan subsidi pengobatan bagi sejumlah penyakit yang berkaitan dengan kabut asap, termasuk asma, bronkitis, infeksi saluran pernapasan atas, dan penyakit paru obstruktif kronis. Warga yang memenuhi persyaratan dikenai biaya maksimal 10 dolar Singapura atau sekitar Rp140.000. Sementara itu, warga berusia 67 tahun ke atas membayar maksimal 5 dolar Singapura atau sekitar Rp70.000.

Kongres Serikat Buruh Nasional Singapura juga membagikan masker N95 secara gratis kepada pekerja transportasi umum dan kurir pengiriman.

Di Malaysia, sekolah kembali beroperasi pada Senin di sebagian besar wilayah setelah kualitas udara sedikit membaik. Meski demikian, kegiatan belajar masih dihentikan di Johor bagian selatan serta sejumlah wilayah Kuala Lumpur dan Selangor bagian tengah.

Gangguan turut terjadi pada layanan penerbangan. Firefly, maskapai berbiaya rendah Malaysia, menghentikan sementara penerbangan pada rute Bandara Sultan Abdul Aziz Shah di dekat Kuala Lumpur menuju Bandara Seletar di Singapura sejak Sabtu. Pada Senin (12/10), pembatalan diperpanjang hingga Selasa sebagai langkah pencegahan demi keselamatan.

El Niño picu kekhawatiran terhadap ketahanan pangan

Krisis kabut asap di Asia Tenggara terjadi di tengah fenomena El Niño yang kuat tahun ini. Dalam laporan AFP pada Selasa (13/10), fenomena tersebut juga dikaitkan dengan kebakaran hutan di Amazon, potensi gangguan pasokan listrik di Myanmar, serta meningkatnya kekhawatiran terhadap ketahanan pangan global.

Di Indonesia, kebakaran hutan dan lahan dilaporkan menyebabkan puluhan ribu orang mengalami gangguan kesehatan. Kebakaran juga mengancam satwa liar. Otoritas konservasi bersama kelompok penyelamat satwa YIARI telah menyelamatkan 46 orangutan dari kebakaran pada periode Agustus hingga 9 Oktober.

Salah satu orangutan yang diselamatkan bernama Novita. Orangutan betina tersebut ditemukan bertahan di atas pohon dengan luka bakar pada tangan dan kakinya.

“Ia harus meninggalkan habitatnya, dan kami harus menyelamatkannya, terutama karena kobaran api,” kata Andi Muhammad Khadafi, kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Tengah, kepada AFP.

Dampak cuaca panas juga dirasakan negara lain di kawasan. Pemerintah Myanmar memperingatkan kemungkinan pemadaman listrik akibat meningkatnya konsumsi energi selama gelombang panas. Sementara itu, Filipina bersiap menghadapi kenaikan permintaan listrik dan potensi penurunan produksi tenaga air akibat kondisi cuaca yang lebih panas dan kering.

Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF), Kristalina Georgieva, menyampaikan kekhawatirannya terhadap dampak El Niño, khususnya pada ketersediaan pangan.

Georgieva mengatakan kepada AFP bahwa ia “sangat khawatir” terhadap dampak fenomena tersebut. IMF, tambahnya, tengah mempersiapkan dukungan bagi negara-negara yang mengalami kesulitan menghadapi dampaknya.

Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memperkirakan El Niño akan terus menguat hingga mencapai puncak pada Desember. Dalam laporan bulanannya, organisasi itu memperingatkan bahwa fenomena tersebut berpotensi mengubah pola suhu dan curah hujan di berbagai kawasan.

“Fenomena ini kemungkinan membawa suhu di atas rata-rata ke sebagian besar wilayah dunia dan mengubah pola curah hujan, sehingga meningkatkan risiko kekeringan dan banjir di berbagai kawasan,” kata WMO dalam laporan bulanannya.

Sementara itu, Layanan Perubahan Iklim Copernicus Uni Eropa melaporkan suhu permukaan laut di salah satu wilayah pemantauan utama Samudra Pasifik mencapai rekor 29,70 derajat Celsius pada September. Badan meteorologi Jepang juga menyebut intensitas El Niño kali ini sebagai yang terkuat dalam catatan mereka.

Pembahasan di tingkat ASEAN diharapkan membuka ruang koordinasi regional yang lebih kuat dalam menangani kabut asap lintas batas, di tengah dampak kebakaran terhadap kesehatan masyarakat, transportasi, lingkungan, dan aktivitas ekonomi di kawasan. (*)

Views Count: 3

Infobenua.com TVChannel

Statistik Pengunjung

1533389
Users Today : 2374
Total Users : 1533389
Views Today : 4470
Total views : 6986964
  • Home
  • Redaksi
  • INFO PRODUK
  • Blog
  • Infografis
  • Video
  • KODE ETIK PERUSAHAAN PERS
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami

Copyright © 2017-2025 InfoBenua.com