Infobenua.com, Kukar – Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) menunjukkan keseriusannya dalam membangun pasar rakyat yang tidak hanya representatif dari sisi fisik, tetapi juga menjadi cerminan peradaban dan kemajuan ekonomi lokal. Melalui Dinas Pekerjaan Umum (PU), Kukar melakukan studi tiru ke Pasar Pagi Samarinda, untuk menyerap pengalaman transformasi pasar tradisional menjadi pusat ekonomi modern yang adaptif terhadap zaman.
Kepala Bidang Cipta Karya Dinas PU Kukar, Muhammad Jamil, menyebutkan bahwa transformasi pasar bukan lagi semata soal bangunan, melainkan tentang membangun sistem yang mampu bertahan dalam perubahan zaman, terutama dengan tekanan dari digitalisasi dan shifting perilaku konsumen.
“Kami ingin pelajari bagaimana proses transformasi ini dirancang, bagaimana desain pasar bisa mengikuti kebutuhan pedagang, dan seperti apa sistem pengelolaannya diterapkan,” ujar Jamil, Rabu (28/5/25).
Menurut Jamil, salah satu tantangan besar yang dihadapi pasar rakyat saat ini adalah ketidaksiapan dalam menghadapi disrupsi teknologi dan perubahan pola belanja masyarakat. Dengan banyaknya platform jual beli daring, pemerintah harus menciptakan ruang fisik yang mampu bersaing dari sisi kenyamanan, keamanan, dan tata kelola.
“Digitalisasi menjadi tantangan tersendiri. Tapi justru karena itu, pasar harus kita bangun dengan pendekatan baru. Tidak hanya kuat secara struktur, tapi juga mampu memberikan pengalaman yang manusiawi bagi pedagang dan pembeli,” tegasnya.
Hendra Irawan, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Proyek Pasar Pagi Samarinda, menyambut hangat kunjungan tim dari Kukar. Dalam paparannya, ia menjelaskan bahwa transformasi Pasar Pagi adalah pekerjaan besar yang melibatkan banyak proses, dari revisi perencanaan, komunikasi intensif dengan pedagang, hingga penyesuaian desain berkala.
“Saya merasa terhormat, proyek Pasar Pagi dijadikan tempat studi banding oleh teman-teman dari PU Kukar. Kami tidak hanya memaparkan secara umum, tetapi juga menyampaikan hal-hal teknis maupun tantangan spesifik di lapangan. Ini proyek besar, penuh dinamika,” ujarnya.
Pasar Pagi dibangun dalam dua tahap, dengan tahap kedua dimulai sejak 2024 dan ditargetkan rampung pada Oktober 2025. Bangunan ini menjulang hingga tujuh lantai dengan luas total sekitar 54.000 meter persegi dan menampung 2.560 petak usaha. Seluruh area dibagi dalam zona-zona fungsional, mulai dari lapak basah dan kering, konveksi pakaian, kuliner, hingga zona emas.
“Tantangannya adalah bagaimana mengatur zonasi ini agar sesuai dengan kebutuhan pedagang. Bahkan desain layout pun harus fleksibel, karena kadang-kadang terjadi perubahan sesuai masukan dari Dinas Perdagangan sebagai pengelola maupun para pelaku pasar sendiri,” jelas Hendra.
Pasar Pagi Samarinda menjadi simbol dari keberhasilan kota dalam menata ulang wajah perdagangannya. Proyek ini bukan hanya revitalisasi fisik, melainkan rekonstruksi peran pasar sebagai tempat interaksi sosial, pertumbuhan ekonomi, dan simbol modernisasi kota.
Bagi tim PU Kukar, pengalaman tersebut menjadi sumber inspirasi dalam merancang pasar di Kukar yang relevan secara fungsi dan kuat secara nilai sosial. Hendra berharap, hasil kunjungan ini bisa menjadi referensi penting bagi pembangunan pasar-pasar baru di daerah lain.
“Pasar bukan sekadar bangunan ekonomi. Ia adalah wajah peradaban. Karena itu, kita bangun dengan visi jangka panjang, agar pedagang bisa naik kelas dan masyarakat bisa merasakan manfaatnya langsung,” ujarnya.
PU Kukar menegaskan bahwa hasil studi ini akan menjadi acuan penting dalam penyusunan desain teknis, sistem pengelolaan, hingga kebijakan penyerahan aset setelah pembangunan selesai. Dinas PU Kukar tak ingin pembangunan pasar berhenti hanya di tahap serah terima fisik, tapi benar-benar berlanjut hingga pada pengelolaan yang profesional dan partisipatif.
mengatur zonasi ini agar sesuai dengan kebutuhan pedagang. Bahkan desain layout pun harus fleksibel, karena kadang-kadang terjadi perubahan sesuai masukan dari Dinas Perdagangan sebagai pengelola maupun para pelaku pasar sendiri,” jelas Hendra.
Pasar Pagi Samarinda menjadi simbol dari keberhasilan kota dalam menata ulang wajah perdagangannya. Proyek ini bukan hanya revitalisasi fisik, melainkan rekonstruksi peran pasar sebagai tempat interaksi sosial, pertumbuhan ekonomi, dan simbol modernisasi kota.
Bagi tim PU Kukar, pengalaman tersebut menjadi sumber inspirasi dalam merancang pasar di Kukar yang relevan secara fungsi dan kuat secara nilai sosial. Hendra berharap, hasil kunjungan ini bisa menjadi referensi penting bagi pembangunan pasar-pasar baru di daerah lain.
“Pasar bukan sekadar bangunan ekonomi. Ia adalah wajah peradaban. Karena itu, kita bangun dengan visi jangka panjang, agar pedagang bisa naik kelas dan masyarakat bisa merasakan manfaatnya langsung,” ujarnya.
PU Kukar menegaskan bahwa hasil studi ini akan menjadi acuan penting dalam penyusunan desain teknis, sistem pengelolaan, hingga kebijakan penyerahan aset setelah pembangunan selesai. Dinas PU Kukar tak ingin pembangunan pasar berhenti hanya di tahap serah terima fisik, tapi benar-benar berlanjut hingga pada pengelolaan yang profesional dan partisipatif.
Penulis Lisa editor Redaksi


















Users Today : 1027
Total Users : 1373816
Views Today : 4149
Total views : 6638134