Infobenua.com, Seoul — Korea Utara mengklaim latihan militer dengan skenario tembak langsung yang digelar akhir pekan lalu menunjukkan kemampuan penghancuran yang sangat besar. Pyongyang menyatakan latihan tersebut sekaligus ditujukan untuk meningkatkan moral pasukan dan kemampuan menghancurkan musuh secara menyeluruh.
Kantor berita pemerintah Korea Utara, KCNA, melaporkan latihan berlangsung pada Sabtu (12/9/2026) dengan melibatkan lima unit angkatan darat. Sejumlah sistem persenjataan digunakan secara bersamaan, mulai dari drone serang, rudal jelajah taktis, hingga rudal balistik taktis.
Latihan tersebut dilaksanakan ketika ketegangan militer di Semenanjung Korea tetap tinggi, meskipun Amerika Serikat dan Korea Selatan baru-baru ini mengurangi skala latihan militer bersama. Kebijakan itu disebut sebagai bagian dari upaya Presiden AS Donald Trump untuk membuka kembali jalur diplomasi dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un.
Uji Kemampuan Melumpuhkan Musuh
Marsekal Korea Utara Pak Jong Chon mengatakan latihan dirancang untuk meningkatkan kemampuan pasukan dalam melumpuhkan kekuatan militer lawan setelah menerima perintah.
“meningkatkan tingkat spesialisasi agar dapat melumpuhkan angkatan bersenjata musuh secara organisatoris dan struktural begitu perintah diberikan.”
Ia juga mengeklaim sistem persenjataan yang digunakan dalam latihan memperlihatkan kemampuan serangan terkonsentrasi dengan tingkat kerusakan yang besar. Menurut KCNA, penggunaan berbagai jenis senjata dalam satu latihan merupakan bagian dari upaya meningkatkan kemampuan operasional pasukan Korea Utara.
Rudal Terbang 250 Kilometer
Kepala Staf Gabungan Korea Selatan mengatakan sejumlah rudal ditembakkan Korea Utara pada Sabtu (12/9). Rudal-rudal tersebut terbang sekitar 250 kilometer atau 155 mil sebelum jatuh di perairan lepas pantai timur Korea Utara.
Jangkauan tersebut mengindikasikan kemampuan sistem persenjataan yang digunakan untuk menyerang sasaran di Korea Selatan, termasuk fasilitas militer Amerika Serikat yang berada di negara tersebut.
Latihan Korea Utara digelar hanya sehari setelah Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Jepang menyelesaikan latihan militer trilateral. Pyongyang selama ini memandang latihan gabungan ketiga negara tersebut sebagai bentuk provokasi terhadap Korea Utara.
AS Kurangi Skala Latihan dengan Korsel
Pada Agustus, Trump memerintahkan Pentagon untuk mengurangi secara signifikan skala latihan Ulchi Freedom Shield bersama Korea Selatan. Trump menyatakan keputusan tersebut berkaitan dengan hubungannya yang baik dengan Kim Jong Un. Latihan akhirnya berakhir enam hari lebih cepat dibandingkan jadwal semula.
Namun, Pyongyang menolak menganggap perubahan tersebut sebagai tanda berkurangnya ancaman. Korea Utara menyatakan pemangkasan durasi latihan tidak mengubah “sifat provokatif dan agresifnya.”
Para pakar menilai langkah Washington tersebut berpotensi memperkuat posisi Kim dalam menghadapi kemungkinan perundingan baru dengan Amerika Serikat. Kim, yang sebelumnya bertemu Trump pada 2018 dan 2019, dinilai dapat melihat pengurangan latihan militer AS-Korea Selatan sebagai indikasi meningkatnya daya tawar Pyongyang.
Syarat Korea Utara untuk Kembali Berunding
Kim Jong Un sebelumnya menyatakan kesediaan untuk kembali ke meja perundingan apabila Amerika Serikat menghentikan apa yang disebutnya sebagai “kebijakan bermusuhan” terhadap Korea Utara. Pyongyang juga menuntut pengakuan terhadap status Korea Utara sebagai negara nuklir, sebagaimana klaim yang terus disampaikan pemerintah Korea Utara.
Di tengah upaya Washington menghidupkan kembali diplomasi tersebut, Pyongyang tetap mempertahankan pengembangan dan pengujian persenjataannya. Bagi para pengamat, kombinasi antara aktivitas militer dan sinyal diplomatik tersebut menunjukkan bahwa Korea Utara belum mengubah pendekatan strategisnya terhadap Amerika Serikat dan Korea Selatan. (*)



















Users Today : 778
Total Users : 1482694
Views Today : 1579
Total views : 6882960