Infobenua.com, Dubai — Iran mengancam Amerika Serikat dengan “perang ekonomi” dan mengatakan telah menggunakan rudal balistik baru untuk menyerang kapal perang AS, sementara kelompok Houthi yang didukung Teheran melancarkan serangan ke sejumlah kota di Arab Saudi pada Selasa (8/9/2026).
Serangan Houthi di Abha, Khamis Mushait, Jazan, dan Najran dilaporkan melukai 73 orang dan memicu kebakaran di sejumlah fasilitas energi. Serangan tersebut menjadi salah satu eskalasi terbesar dalam konflik yang telah berlangsung selama enam bulan dan meningkatkan kekhawatiran perang akan meluas ke seluruh kawasan Teluk.
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, mengatakan Washington telah menerima peringatan melalui rudal-rudal baru Iran. Teheran juga mengancam memberlakukan zona eksklusi maritim di Teluk Persia sebagai respons terhadap tekanan ekonomi dan blokade AS.
“Dalam beberapa hari terakhir, Washington telah menerima peringatan yang jelas dari rudal-rudal baru Iran. Perang ekonomi akan dibalas dengan zona eksklusi maritim di seluruh Teluk Persia hingga perimeter blokade. Postur operasional terhadap kapal perang dan pangkalan AS telah dikalibrasi ulang secara fundamental,” kata Rezaei melalui X.
Iran sebelumnya mengatakan akan mengumumkan zona pembatasan baru di Teluk sekaligus rute pelayaran alternatif di Selat Hormuz. Namun, waktu dan rincian penerapannya belum diumumkan.
Ketegangan di Selat Hormuz telah berdampak langsung pada lalu lintas pelayaran. Data pelayaran yang dikutip Reuters menunjukkan rata-rata hanya sekitar 10 kapal komoditas per hari yang melewati selat tersebut dalam 10 hari terakhir, terendah sejak Mei.
Iran mengklaim rudal balistik Qassem Basir telah digunakan untuk menyerang kapal perang AS di sekitar Selat Hormuz. Media pemerintah Iran menggambarkan Qassem Basir sebagai rudal yang telah ditingkatkan dengan kemampuan manuver dan sistem panduan yang dirancang untuk menghadapi pertahanan rudal serta peperangan elektronik.
Associated Press melaporkan Iran menyebut rudal tersebut memiliki jangkauan sedikitnya 1.200 kilometer dan hulu ledak sekitar setengah ton. Klaim mengenai penggunaan rudal tersebut terhadap kapal perang AS belum sepenuhnya dapat diverifikasi secara independen.
Amerika Serikat sebelumnya melaporkan telah menyerang tiga kapal tanker minyak Iran pada Sabtu (5/9). Pada hari yang sama, pasukan AS dan Iran terlibat kontak bersenjata di perairan sekitar Iran.
Houthi serang fasilitas energi Saudi
Eskalasi juga menyebar ke Arab Saudi. Kelompok Houthi menyerang sejumlah sasaran di bagian selatan negara tersebut menggunakan rudal dan drone.
Komando koalisi pimpinan Saudi mengatakan serangan di Abha, Khamis Mushait, Jazan, dan Najran menyebabkan 73 orang terluka. Sasaran yang dilaporkan termasuk fasilitas energi, pangkalan udara, dan lokasi milik perusahaan minyak negara Saudi Aramco.
Kementerian Energi Saudi mengatakan sejumlah fasilitas dan instalasi sektor energi di wilayah selatan menjadi sasaran serangan.
“Serangan tersebut menyebabkan kebakaran di beberapa lokasi, yang mengakibatkan penghentian sementara beberapa operasi,” kata sumber Kementerian Energi Saudi seperti dikutip Saudi Press Agency.
Petugas pemadam kebakaran dan tim tanggap darurat dikerahkan untuk memadamkan kebakaran dan menilai kerusakan pada fasilitas yang terdampak.
Komando gabungan koalisi menyebut serangan tersebut menargetkan fasilitas sipil dan ekonomi.
“Serangan tanpa alasan dari milisi teroris Houthi, yang terbaru menargetkan lokasi sipil dan ekonomi, mengakibatkan 73 warga sipil cedera,” kata komando tersebut.
Arab Saudi mengatakan akan mengambil tindakan sebagai respons. Kementerian Luar Negeri Saudi menyerukan “penghentian segera semua bentuk eskalasi yang dilakukan oleh milisi ini”, termasuk serangan terhadap pelayaran.
Houthi sebelumnya menuduh Arab Saudi melakukan serangan udara terhadap wilayah Yaman. Media Houthi Almasirah melaporkan serangan terhadap sebuah penjara di Al-Hazm yang disebut menewaskan 11 orang dan menyebabkan sekitar 20 tahanan tertimbun reruntuhan.
Laporan mengenai serangan tersebut belum diverifikasi secara independen.
Pertempuran di Yaman juga meningkat dalam beberapa hari terakhir. AFP melaporkan lebih dari 300 orang tewas dalam pertempuran di sekitar pesisir Laut Merah, sementara ratusan keluarga terpaksa mengungsi.
Houthi berupaya memperluas pengaruhnya di wilayah yang berdekatan dengan Selat Bab al-Mandab, jalur strategis yang menjadi pintu masuk selatan menuju Laut Merah.
Risiko terhadap pasokan energi global
Perkembangan tersebut memperbesar risiko gangguan terhadap perdagangan energi global. Selat Hormuz merupakan jalur utama bagi ekspor minyak dan gas dari kawasan Teluk, sementara Bab al-Mandab menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan Samudra Hindia.
Harga minyak langsung merespons eskalasi tersebut. Harga minyak Brent sempat mendekati US$100 per barel pada Selasa setelah serangan terhadap fasilitas energi Saudi dan ancaman Iran terhadap jalur pelayaran.
Presiden AS Donald Trump mengatakan harga minyak akan turun tajam jika Amerika Serikat memenangkan perang melawan Iran.
“Harga minyak akan turun drastis, seperti hal lainnya yang sedang turun, ketika kita MEMENANGKAN perang melawan Iran. Tiga dolar per galon, tetapi pada akhirnya menjadi di bawah dua dolar per galon. Semuanya akan terjadi dengan cepat, dan Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir,” kata Trump melalui media sosial.
Sementara itu, lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz terus menurun setelah serangkaian serangan terhadap kapal tanker. Reuters melaporkan Iran masih memiliki kemampuan rudal dan drone untuk mengancam kapal yang melewati selat tersebut serta menyerang negara-negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer AS.
Sejumlah negara Teluk juga mulai mencari jalur alternatif untuk mengurangi ketergantungan pada Hormuz. Uni Emirat Arab, misalnya, tengah memperluas rute alternatif bagi ekspor energi dan perdagangan untuk mengurangi dampak konflik.
Di tengah eskalasi tersebut, belum terlihat tanda-tanda terobosan diplomatik yang dapat mengakhiri perang. Pemimpin Iran tetap berada dalam kekuasaan, sementara Teheran menuntut pelonggaran sanksi dan berupaya mempertahankan pengaruhnya atas lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz.
Rangkaian serangan terbaru memperlihatkan bagaimana konflik AS-Iran semakin meluas dari wilayah kedua negara ke jalur pelayaran dan fasilitas energi negara-negara Teluk, meningkatkan risiko gangguan pasokan energi global dan konfrontasi regional yang lebih luas. (*)



















Users Today : 747
Total Users : 1470203
Views Today : 2146
Total views : 6858529