Infobenua.com, Bishkek — Perdana Menteri India Narendra Modi dan Presiden Rusia Vladimir Putin dijadwalkan bertemu di Bishkek, Kirgizstan, di sela-sela KTT Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO). Pertemuan tersebut berlangsung ketika hubungan India-Rusia menghadapi perubahan akibat perang Ukraina, gejolak energi global, serta tekanan Amerika Serikat terhadap New Delhi terkait pembelian minyak Rusia.
SCO kerap dipandang sebagai salah satu wadah yang dapat menyeimbangkan dominasi Amerika Serikat. Namun, India selama ini berupaya mencegah organisasi tersebut berkembang menjadi blok yang secara terbuka berseberangan dengan negara-negara Barat.
Pendekatan tersebut sejalan dengan strategi India mempertahankan hubungan dengan berbagai kekuatan besar, termasuk negara-negara yang memiliki kepentingan yang saling bertentangan.
Mantan Duta Besar India untuk AS Meera Shankar mengatakan hubungan strategis New Delhi dengan Moskwa tidak dibangun untuk menghadapi Washington.
“India memiliki hubungan strategis jangka panjang dengan Rusia. Hubungan ini tidak ditujukan untuk melawan negara mana pun, melainkan untuk membantu India mencapai kepentingan nasionalnya,” kata Shankar.
Minyak Rusia Jadi Titik Tegang dengan AS
Energi menjadi salah satu sektor yang mengalami perubahan paling besar dalam hubungan India-Rusia sejak Moskwa melancarkan invasi skala penuh ke Ukraina pada 2022. Sebelum perang, Rusia hanya menyumbang sebagian kecil kebutuhan minyak mentah India. Namun, penawaran minyak Rusia dengan harga diskon membuat impor India dari Moskwa meningkat tajam dan menjadikan Rusia salah satu pemasok utama energi bagi New Delhi.
Kondisi tersebut kemudian menjadi salah satu sumber ketegangan dalam hubungan India dan Amerika Serikat. Washington mendesak India mengurangi pembelian minyak Rusia, sementara New Delhi menilai akses terhadap energi yang stabil dan terjangkau merupakan bagian dari kepentingan nasionalnya.
Tekanan tersebut semakin kompleks akibat gangguan pasokan energi global. Perang AS-Israel melawan Iran dan terganggunya pelayaran melalui Selat Hormuz telah memengaruhi pembelian energi India dari negara-negara Teluk sekaligus mendorong kenaikan harga.
India merespons situasi tersebut dengan memperluas sumber pasokan, termasuk dari Rusia dan Amerika Serikat.
“Dalam jangka panjang, transisi menuju ekonomi yang tidak bergantung pada bahan bakar fosil akan memperkuat kemandirian energi India. Namun, hal ini tidak akan terjadi dalam waktu singkat,” tambah Shankar.
Menurut Shankar, sampai transisi tersebut terealisasi, New Delhi akan mengambil langkah yang diperlukan untuk menjaga pasokan energi dan melindungi masyarakat dari dampak gejolak harga.
Ketergantungan Pertahanan Mulai Berkurang
Pertahanan tetap menjadi salah satu fondasi hubungan India-Rusia. Namun, India secara bertahap mengurangi ketergantungannya terhadap persenjataan dan perlengkapan militer Rusia.
Perang Ukraina memunculkan persoalan mengenai kapasitas produksi Rusia, waktu pengiriman, serta kemampuan memasok suku cadang. Masalah tersebut penting bagi India karena Rusia selama puluhan tahun menjadi salah satu pemasok utama kebutuhan militernya.
“India tetap menjadi salah satu pembeli senjata Rusia yang tertua dan terbesar, bahkan mungkin pembeli besar terakhirnya,” kata Aravind Yelery, profesor madya di Jawaharlal Nehru University, New Delhi.
“New Delhi semakin enggan berkomitmen pada program jet tempur generasi kelima Rusia dan tidak terlalu berminat membeli peralatan militer Rusia yang baru, kecuali jika dapat dimasukkan ke dalam rencana produksi dalam negeri India,” tambahnya.
India kini memperluas sumber pengadaan persenjataan ke negara lain. Namun, langkah tersebut tidak serta-merta mengakhiri kerja sama pertahanan dengan Moskwa.
Sebaliknya, New Delhi menginginkan kerja sama pertahanan dengan Rusia turut memperkuat industri militer domestiknya, bukan sekadar menjadikan India sebagai pembeli sistem persenjataan siap pakai.
Kedekatan Rusia-Cina Ubah Perhitungan India
Perubahan lain yang memengaruhi hubungan India-Rusia adalah semakin eratnya hubungan Moskwa dengan Beijing.
Sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022, Cina menjadi semakin penting bagi perekonomian Rusia sebagai pasar, pemasok, dan mitra ekonomi. Kondisi tersebut mengurangi kemampuan Rusia untuk memainkan peran sebagai kekuatan yang dapat membantu India mengimbangi pengaruh Cina. Yelery membedakan karakter hubungan Rusia dengan kedua negara tersebut.
“Secara strategis, hubungan Rusia dengan Cina pada dasarnya tetap bersifat transaksional, sebuah ketergantungan yang tidak mampu dikorbankan Rusia. Sementara itu, hubungan Rusia dengan India didasarkan pada kemitraan,” katanya.
India tetap memiliki sejumlah kepentingan untuk mempertahankan hubungan dengan Rusia, termasuk energi, pertahanan, perdagangan, akses pasar, teknologi, dan hubungan politik yang telah terbentuk selama puluhan tahun. Namun, nilai strategis Rusia bagi New Delhi tidak lagi sama seperti sebelum perang Ukraina.
Pakar strategi C Raja Mohan menilai semakin dekatnya Moskwa dengan Beijing telah mengurangi kemampuan Rusia untuk membantu India menghadapi Cina.
“Rusia tidak lagi berada dalam posisi untuk membantu India mengimbangi Cina,” kata Mohan, profesor studi Amerika di Jindal Global University, kepada DW.
Karena itu, India mulai mengarahkan hubungan dengan Moskwa pada kepentingan yang lebih konkret, seperti keamanan energi, pasokan pertahanan, perdagangan, dan teknologi.
Pada saat yang sama, New Delhi memperluas hubungan strategis dengan Washington dan negara-negara lain, termasuk Prancis dan Israel, terutama di bidang pertahanan dan teknologi.
Mohan menggambarkan strategi tersebut sebagai pendekatan “America plus”, yakni mempertahankan kemitraan dengan Amerika Serikat sembari memperluas hubungan dengan kekuatan besar lainnya.
“India berusaha mengurangi risiko jika kebijakan Amerika berubah-ubah, tetapi tetap menyadari bahwa Washington adalah mitra terpentingnya,” katanya.
Putin Cari Kepastian dari Modi
Pertemuan di Bishkek diperkirakan menjadi kesempatan bagi Putin dan Modi untuk mempertahankan hubungan politik kedua negara di tengah tekanan eksternal. Rajan Kumar, profesor studi Rusia di Jawaharlal Nehru University, menilai Putin membutuhkan kepastian bahwa New Delhi tidak akan menjauh dari Moskwa akibat tekanan Amerika Serikat.
“Presiden Putin membutuhkan jaminan dari Perdana Menteri Modi bahwa India tidak akan meninggalkan Rusia ketika negara itu menghadapi krisis terburuknya sejak dekade 1990-an,” kata Kumar kepada DW.
Ia tidak memperkirakan pertemuan tersebut menghasilkan perubahan besar dalam hubungan bilateral.
“Menurut saya, pertemuan ini lebih membahas kelanjutan hubungan yang sudah ada di tengah tekanan AS,” tambahnya.
Sejumlah isu yang kemungkinan dibahas mencakup perdagangan energi dan mekanisme pembayarannya, upaya meningkatkan ekspor India ke Rusia, kerja sama pertahanan, serta posisi kedua negara terhadap perang Ukraina dan konflik Iran.
Ujian berikutnya akan berlangsung di New Delhi pada September ketika Putin diperkirakan kembali mengunjungi India untuk menghadiri KTT BRICS.
Pertemuan di Bishkek dapat membantu mempertahankan hubungan politik India-Rusia. Namun, pertemuan di New Delhi akan menjadi kesempatan untuk melihat apakah hubungan tersebut mampu menghasilkan kemajuan konkret dalam perdagangan, energi, pertahanan, dan teknologi.
Hubungan bilateral itu kini telah mengalami perubahan mendasar. Energi mengambil peran yang jauh lebih besar, India mulai mengurangi ketergantungannya terhadap persenjataan Rusia, sementara kedekatan Moskwa dengan Beijing telah mengubah posisi Rusia dalam kalkulasi strategis New Delhi.
“Hubungan ini memiliki nilai yang lebih luas daripada sekadar transaksi atau kesepakatan tertentu. Putin tampaknya memahami bahwa India memiliki posisi dan pengaruh strategisnya sendiri, sesuatu yang tidak bisa digantikan hanya oleh besarnya pengaruh Cina terhadap Rusia,” kata Yelery. (*)



















Users Today : 895
Total Users : 1459586
Views Today : 2516
Total views : 6833915