Infobenua.com, Kuching — Kabut asap yang berasal dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan mulai berdampak terhadap kualitas udara di negara tetangga. Di Sarawak, Malaysia, sebanyak 108 sekolah ditutup sementara setelah kualitas udara di sejumlah wilayah mencapai tingkat yang tidak sehat.
Dilansir Bernama, Kamis (20/08), Komite Manajemen Bencana Negara Bagian Sarawak (JPBN) menyebut penutupan sekolah dilakukan di wilayah Serian setelah Indeks Pencemaran Udara (API) melampaui ambang batas yang ditetapkan.
Kegiatan belajar kemudian dialihkan ke Pembelajaran dan Pengajaran Berbasis Rumah (PdPR) agar proses pendidikan tetap berlangsung tanpa meningkatkan paparan siswa terhadap polusi udara.
JPBN Sarawak mengatakan penutupan sekolah mengikuti ketentuan dalam Rencana Aksi Kabut Nasional.
“Berdasarkan Rencana Aksi Kabut Nasional, yang berada di bawah yurisdiksi direktur Departemen Pendidikan Negara Bagian Sarawak, sekolah, taman kanak-kanak, dan tempat penitipan anak akan segera ditutup begitu API mencapai 200,” kata JPBN Sarawak dalam sebuah pernyataannya.
Dalam sistem penilaian API Malaysia, angka 0-50 menunjukkan kualitas udara baik, 51-100 berada pada kategori sedang, 101-200 tidak sehat, 201-300 sangat tidak sehat, sedangkan angka di atas 300 masuk kategori berbahaya.
JPBN Sarawak mengatakan kualitas udara di wilayah tersebut menunjukkan kecenderungan memburuk sejak awal Agustus.
“Hingga pukul 4 sore hari ini, dua wilayah mencatat pembacaan API dalam kategori sangat tidak sehat, yaitu 212 di Tebedu dan 202 di Serian, sementara 11 wilayah berada dalam kategori tidak sehat, yaitu Kuching, Samarahan, Sri Aman, Sarikei, Sibu, Bintulu, Samalaju, Miri, Lundu, Lubok Antu, dan Lawas,” katanya.
Pemerintah Sarawak meminta masyarakat mengurangi kegiatan di luar ruangan, khususnya ketika kualitas udara berada pada kategori tidak sehat atau lebih buruk.
“Kelompok berisiko tinggi, termasuk anak-anak, lansia, ibu hamil, dan individu dengan masalah pernapasan atau jantung, harus membatasi paparan mereka terhadap udara yang tercemar,” ujarnya.
Hotspot Kalimantan capai 1.487 titik
Di Indonesia, pemerintah masih memantau peningkatan jumlah titik panas di Kalimantan selama periode musim kemarau. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut Kalimantan Tengah menjadi wilayah dengan konsentrasi hotspot tertinggi.
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan pemantauan menggunakan Satelit NOAA-20 hingga Kamis (20/08) menunjukkan terdapat 1.487 titik panas yang tersebar di lima provinsi di Kalimantan.
“Jumlah tersebut tersebar dengan konsentrasi tertinggi berada di Kalimantan Tengah sebanyak 767 titik, disusul Kalimantan Barat 560 titik. Sementara itu, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur masing-masing terpantau 74 titik, sedangkan Kalimantan Utara sebanyak 3 titik,” kata Berton dalam keterangannya, Kamis (20/08).
Data tersebut menunjukkan Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat menyumbang sebagian besar titik panas yang terdeteksi. Pemerintah kemudian memperkuat koordinasi lintas sektor untuk mengantisipasi kemungkinan meluasnya kebakaran.
BNPB bersama pemerintah daerah terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan hotspot, memetakan wilayah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi, serta berkoordinasi dalam menentukan langkah penanganan sesuai kondisi lapangan.
Pemerintah perkuat kesiapsiagaan
BNPB meminta pemerintah daerah dan masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman bencana hidrometeorologi selama musim kemarau, terutama kebakaran hutan dan lahan.
Pemerintah daerah diminta memperkuat sistem kesiapsiagaan dan pemantauan, termasuk meningkatkan kemampuan deteksi dini serta memastikan ketersediaan peralatan dan infrastruktur yang dibutuhkan untuk menangani kebakaran.
Masyarakat juga diminta tidak melakukan pembakaran di wilayah yang memiliki potensi tinggi mengalami kebakaran. Setiap kejadian kebakaran yang ditemukan di lapangan diharapkan segera dilaporkan kepada otoritas setempat agar penanganan dapat dilakukan secepat mungkin.
Dampak kabut asap yang telah mencapai Sarawak menunjukkan bahwa karhutla di Kalimantan tidak hanya menjadi persoalan lingkungan dan kesehatan di dalam negeri, tetapi juga berpotensi menimbulkan dampak lintas batas ketika asap terbawa ke wilayah negara tetangga. (*)



















Users Today : 1701
Total Users : 1437976
Views Today : 2637
Total views : 6768956