Infobenua.com, Jakarta — Menteri Luar Negeri Cina Wang Yi dan Menteri Pertahanan Cina Dong Jun berada di Jakarta pada Jumat (21/8) untuk melakukan pertemuan dengan pejabat Indonesia. Kunjungan tersebut berlangsung ketika Jakarta berupaya mempertahankan keseimbangan hubungan dengan Beijing dan Washington di tengah perselisihan perdagangan serta meningkatnya ketegangan di kawasan Laut Cina Selatan.
Pertemuan Wang dan Dong dengan pejabat Indonesia juga berlangsung tidak lama setelah latihan gabungan angkatan laut Indonesia dan Cina yang mendapat kritik dari Taiwan.
Menteri Luar Negeri Indonesia Sugiono menyebut pertemuan dengan Wang sebagai bagian penting dari perkembangan hubungan bilateral kedua negara.
“Ini berfungsi sebagai platform strategis yang berwawasan ke depan, yang memandu kemitraan bilateral kita di seluruh lima pilar, politik, ekonomi, maritim, antar-masyarakat, dan keamanan,” kata Sugiono saat menyambut Wang Yi.
Indonesia selama ini mempertahankan prinsip politik luar negeri “bebas dan aktif”, yang memungkinkan Jakarta menjalin hubungan dengan berbagai kekuatan tanpa berpihak pada satu blok tertentu.
Bahas koordinasi strategis
Kunjungan Wang dan Dong berlangsung pada awal pelaksanaan Mekanisme Dialog Strategis Komprehensif Cina-Indonesia. Forum tersebut dirancang untuk memperkuat koordinasi strategis dan menyelaraskan agenda pembangunan kedua negara.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina Lin Jian sebelumnya mengatakan mekanisme dialog tersebut bertujuan meningkatkan keselarasan strategi pembangunan antara Beijing dan Jakarta.
Dalam pertemuan di Jakarta, Wang menekankan perlunya memperkuat koordinasi di tengah situasi geopolitik yang dinilai semakin tidak stabil.
“Dunia saat ini penuh ketidakpastian dan gejolak,” katanya dalam pernyataan yang diterjemahkan oleh Kementerian Luar Negeri Indonesia.
“Kita menyaksikan munculnya unilateralisme dan hegemonisme. Keduanya telah memberikan pukulan telak bagi dunia ini serta agenda pembangunan global.”
Pembicaraan Wang dan Dong mencakup isu politik, keamanan, dan pertahanan, selain perkembangan situasi internasional serta kawasan.
Hubungan Indonesia dan Cina sendiri terus mengalami perkembangan dalam beberapa tahun terakhir. Indonesia bergabung dengan BRICS pada tahun lalu bersama sejumlah negara berkembang lainnya, termasuk Cina dan Rusia.
Pada saat yang sama, Presiden Prabowo Subianto juga memperkuat hubungan dengan Amerika Serikat, antara lain melalui kesepakatan perdagangan dengan Presiden Donald Trump dan keterlibatan Indonesia dalam forum yang disebut “Dewan Perdamaian”.
Peneliti hubungan internasional CSIS Pieter Pandie menilai kerja sama pertahanan Jakarta dan Beijing masih berada di bawah tingkat hubungan keamanan Indonesia dengan sejumlah mitra lainnya.
“Dari segi keamanan dan pertahanan, hubungan Indonesia-Tiongkok masih jauh lebih kurang berkembang… dibandingkan dengan kerja sama keamanan Indonesia dengan mitra-mitra Barat dan Asia lainnya,” katanya kepada AFP.
Pandie juga mengingatkan agar pertemuan tersebut tidak langsung dibaca sebagai perubahan arah kebijakan Indonesia terhadap Beijing.
“Saya tidak akan terlalu memikirkan apakah (pertemuan Jumat lalu) menandakan semacam ‘penyesuaian kembali’ sikap Indonesia terhadap Beijing,” tambah Pandie.
Cina-Indonesia perluas kerja sama pertahanan
Dong Jun mendapat penyambutan dengan upacara kehormatan militer saat tiba di Kementerian Pertahanan Indonesia pada Jumat (21/8). Dalam pertemuan dengan Menteri Pertahanan Indonesia Sjafrie Sjamsoeddin, Dong mengatakan kedua negara memiliki ruang yang luas untuk meningkatkan kerja sama militer.
Menurut Dong, kerja sama tersebut dapat mencakup peningkatan kemampuan pertahanan sekaligus menghadapi berbagai ancaman keamanan.
“Prospek kerja sama antara kedua angkatan bersenjata sangat luas, dan kerja sama tersebut semakin meningkat kualitasnya serta semakin efektif,” kata Dong.
Sjafrie mengatakan kedua negara akan memperluas sejumlah kegiatan pertahanan, termasuk latihan militer bersama, pertukaran perwira, dan kerja sama di sektor industri pertahanan.
“Ini merupakan langkah progresif yang diambil di era pembangunan kekuatan pertahanan Indonesia saat ini dan di masa depan,” kata Sjafrie.
Penguatan hubungan pertahanan itu berlangsung hanya beberapa hari setelah latihan angkatan laut Indonesia dan Cina di perairan sebelah timur Taiwan.
Taiwan mengecam latihan tersebut. Beijing menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayah Cina.
Angkatan Laut Indonesia menyatakan latihan tersebut merupakan kegiatan rutin yang juga dilakukan bersama negara lain, termasuk Jepang dan Amerika Serikat.
Namun, analis pertahanan Curie Maharani menilai lokasi latihan dapat menimbulkan interpretasi politik yang berbeda meskipun Jakarta menganggap kegiatan tersebut sebagai agenda rutin.
“Indonesia telah belajar pelajaran berharga tentang bagaimana negara-negara adidaya menggunakan diplomasi pertahanan lebih sebagai alat untuk memproyeksikan pengaruh,” katanya.
Persinggungan kepentingan di Laut Cina Selatan
Hubungan Indonesia dan Cina juga menghadapi perbedaan kepentingan terkait Laut Cina Selatan. Sebagian besar kawasan perairan tersebut diklaim Beijing, sementara sejumlah negara Asia Tenggara, termasuk Filipina, Malaysia, dan Vietnam, memiliki klaim yang saling beririsan.
Jakarta selama ini menegaskan tidak menjadi pihak dalam sengketa teritorial tersebut.
Prabowo berulang kali menyatakan Indonesia akan mempertahankan politik luar negeri “bebas dan aktif” sembari membangun hubungan dengan berbagai negara, termasuk Cina dan Amerika Serikat.
Di bidang ekonomi, Cina merupakan salah satu sumber investasi terbesar bagi Indonesia. Data pemerintah menunjukkan nilai investasi langsung Cina di Indonesia mencapai US$3,9 miliar pada semester pertama 2026.
Namun, investasi Cina juga menghadapi sejumlah persoalan regulasi.
Pada Mei lalu, perusahaan-perusahaan Cina yang beroperasi di Indonesia meminta pemerintah menciptakan kebijakan yang lebih kondusif bagi dunia usaha. Mereka menilai kenaikan pajak serta perubahan formula penetapan harga nikel telah meningkatkan biaya operasional dan memberikan tekanan terhadap iklim investasi.
Dalam surat yang diperoleh Reuters, Kamar Dagang Cina di Indonesia menyatakan perusahaan-perusahaan Cina menghadapi “regulasi yang terlalu ketat, penegakan hukum yang berlebihan”, serta dugaan korupsi dan pemerasan oleh pihak berwenang.
Sejumlah perusahaan Cina menjadi investor utama di Indonesia, termasuk Contemporary Amperex Technology (CATL), produsen baterai kendaraan listrik, serta Tsingshan Group yang mengoperasikan fasilitas peleburan.
Indonesia sendiri merupakan negara dengan cadangan nikel terbesar di dunia, sehingga menjadi lokasi strategis bagi investasi industri baterai dan rantai pasok kendaraan listrik global.
Kunjungan Wang dan Dong dengan demikian berlangsung di tengah upaya Jakarta memperluas kerja sama dengan Beijing, sembari mempertahankan hubungan strategis dengan Washington dan menegaskan kebijakan luar negeri yang tidak berpihak pada satu kekuatan besar. (*)



















Users Today : 1701
Total Users : 1437976
Views Today : 2639
Total views : 6768958