Infobenua.com, New Delhi – Perdana Menteri India Narendra Modi meningkatkan diplomasi luar negerinya dengan menjadikan kerja sama mineral kritis dan teknologi energi bersih sebagai salah satu agenda utama. Dalam beberapa pekan terakhir, Modi mengunjungi Australia dan Indonesia untuk memperkuat kemitraan di sektor yang dinilai semakin penting bagi ketahanan energi dan industri India.
Menurut laporan Financial Times, lawatan tersebut merupakan bagian dari strategi India untuk mengamankan pasokan uranium dan mineral kritis, memperluas bauran energi, serta memperkuat ketahanan rantai pasok. New Delhi juga berupaya mempercepat pengembangan industri dalam negeri guna memproduksi baterai, panel surya, dan berbagai teknologi energi hijau.
Di balik langkah tersebut, India dinilai tengah menyesuaikan diri dengan perubahan lanskap keamanan energi global.
Badan Energi Internasional (IEA) mencatat bahwa fokus keamanan energi yang selama puluhan tahun bertumpu pada minyak dan gas kini bergeser ke penguasaan mineral kritis, baterai, jaringan listrik, serta rantai pasok industri. Pergeseran itu membuat kebijakan energi semakin erat kaitannya dengan kebijakan industri, keamanan nasional, dan politik luar negeri.
Ilmuwan politik dari German Institute for Global and Area Studies (GIGA) di Hamburg, Soumya Chaturvedi, menilai strategi India tidak hanya didorong oleh agenda transisi energi, tetapi juga kepentingan geopolitik.
“Perlindungan iklim merupakan bagian penting dari kebijakan tersebut. Namun, pada saat yang sama, isu ini juga menyangkut geopolitik, keseimbangan kekuatan, dan otonomi strategis,” ujar Chaturvedi kepada DW.
Menurutnya, Modi telah menyadari keterkaitan tersebut sejak awal melalui gagasan pembentukan Aliansi Surya Internasional (International Solar Alliance), yang tidak hanya bertujuan memperluas pemanfaatan energi surya, tetapi juga memperkuat posisi India dalam tatanan energi global masa depan.
Pendekatan serupa juga diterapkan China, meski dengan strategi yang berbeda.
Kepala Kantor Yayasan Konrad Adenauer di Beijing, Johann Fuhrmann, mengatakan Beijing tidak berupaya mencapai swasembada penuh, melainkan membangun hubungan saling ketergantungan yang tetap berada di bawah kendali strategisnya.
“Cina tidak mengejar swasembada sepenuhnya. Yang diinginkan adalah saling ketergantungan yang tetap berada dalam kendali strategis,” kata Fuhrmann kepada DW.
Menurutnya, China berusaha mengurangi ketergantungan terhadap impor energi fosil tanpa menciptakan ketergantungan baru terhadap satu pemasok tertentu.
Fuhrmann menilai ketegangan di Timur Tengah kembali memperlihatkan tingginya risiko ketergantungan pada energi fosil, terutama karena jalur pelayaran strategis rentan terganggu oleh konflik geopolitik.
Meski demikian, berkurangnya konsumsi minyak tidak otomatis membuat suatu negara menjadi lebih mandiri.
Badan Energi Terbarukan Internasional (IRENA) menyebut transisi menuju energi bersih memang mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar fosil, tetapi pada saat yang sama menciptakan kerentanan baru pada pasokan mineral kritis, baterai, dan teknologi strategis.
Dalam kajiannya, IRENA menilai sumber pengaruh geopolitik kini perlahan bergeser dari kepemilikan cadangan minyak dan gas menuju penguasaan teknologi, industri bernilai tambah, dan rantai pasok strategis.
Chaturvedi menilai perubahan tersebut menjadi tantangan besar bagi India.
“Transisi energi menciptakan bentuk ketergantungan yang baru,” ujarnya.
Saat ini, pengolahan mineral kritis masih terkonsentrasi di sejumlah kecil negara. Untuk mengurangi ketergantungan, terutama terhadap China, India meluncurkan National Critical Mineral Mission, memperluas kemitraan internasional di bidang bahan baku, serta menjalankan inisiatif Atmanirbhar Bharat atau India Mandiri.
Namun, menurut Chaturvedi, kemandirian penuh bukanlah tujuan yang realistis. Yang lebih penting adalah menghindari ketergantungan yang bersifat asimetris terhadap satu negara.
Sementara itu, Fuhrmann menilai China memiliki posisi awal yang lebih kuat karena telah membangun kapasitas produksi besar untuk panel surya, baterai, dan berbagai teknologi energi lainnya.
“Cina ingin dirinya semakin tidak bergantung pada dunia. Pada saat yang sama, dunia justru dibuat semakin bergantung kepada Cina,” katanya.
Ia menilai strategi tersebut bertujuan mengubah keunggulan teknologi menjadi instrumen pengaruh geopolitik.
Persaingan dalam sektor energi bersih juga menjadi bagian dari rivalitas yang semakin intens antara Amerika Serikat dan China.
Kajian Center for Strategic and International Studies (CSIS) menunjukkan fokus kompetisi kedua negara kini bergeser ke penguasaan teknologi masa depan, seperti baterai, kendaraan listrik, panel surya, serta rantai pasok yang menopang industri tersebut.
Dalam situasi tersebut, India berupaya menjaga keseimbangan hubungan luar negerinya. New Delhi terus memperluas kerja sama dengan Amerika Serikat, Eropa, Australia, dan Indonesia, namun tetap mempertahankan hubungan ekonomi dengan China di sejumlah sektor.
Menurut Chaturvedi, strategi tersebut bertujuan memperluas jaringan kemitraan sehingga risiko politik akibat ketergantungan terhadap satu negara dapat diminimalkan, bukan memutus seluruh hubungan ekonomi.
Para pakar menilai transisi energi tidak serta-merta mengakhiri persaingan geopolitik.
IRENA menyebut ketergantungan terhadap minyak dan gas memang menurun, tetapi digantikan oleh tantangan baru berupa persaingan atas mineral kritis, teknologi, dan rantai pasok industri.
Chaturvedi mengingatkan risiko ketergantungan yang tidak seimbang, sementara Fuhrmann menilai China tengah mengubah keunggulan teknologinya menjadi pengaruh geopolitik yang lebih besar.
IEA juga menyimpulkan bahwa kebijakan energi kini tidak lagi berdiri sendiri, melainkan semakin menyatu dengan kebijakan industri, keamanan, dan politik luar negeri.
Dengan demikian, transisi energi bukan mengakhiri kompetisi geopolitik global, melainkan menggeser medan persaingannya ke penguasaan teknologi, mineral strategis, dan rantai pasok industri. (*)


















Users Today : 950
Total Users : 1403408
Views Today : 1989
Total views : 6706766