Teks foto: Pasar Pagi Samarinda
Infobenua.com.Samarinda —Aktivitas jual beli di Pasar Pagi Samarinda yang telah menempati gedung baru hasil revitalisasi senilai Rp468,5 miliar belum berjalan sesuai harapan.
Sejumlah pedagang mengeluhkan penurunan omzet hingga kesulitan menjual barang dagangan dalam beberapa bulan terakhir.
Kondisi tersebut ditemukan Ketua Komisi II DPRD Samarinda Iswandi saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Pasar Pagi (31/7/2026).
Selama kurang lebih empat jam, Iswandi menyusuri area pasar mulai dari lantai satu hingga lantai tujuh. Ia menemukan sejumlah kios masih tutup dan aktivitas perdagangan belum merata di seluruh area gedung.
“Ada pedagang yang tiga bulan terakhir belum mendapatkan pembeli sama sekali. Ada juga yang dalam satu minggu hanya satu pembeli, bahkan sehari hanya satu barang yang terjual,” ujar Iswandi.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi perhatian karena pasar dengan fasilitas baru seharusnya mampu meningkatkan aktivitas ekonomi para pedagang.
“Pasar ini sudah dibangun dengan anggaran besar, tetapi manfaat ekonominya belum dirasakan maksimal oleh pedagang,” katanya.
Iswandi menduga salah satu persoalan yang menyebabkan pasar belum ramai adalah penataan kios yang belum optimal. Ia menemukan sejumlah pedagang memiliki lebih dari satu kios dengan lokasi yang berbeda-beda.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat pedagang kesulitan mengelola seluruh lapak karena harus menambah biaya operasional, sementara satu kios saja belum tentu menghasilkan keuntungan.
“Ada yang punya dua sampai tiga kios tetapi letaknya tersebar. Kalau semua dibuka, tentu membutuhkan tambahan tenaga dan biaya. Tapi kalau satu kios saja belum maksimal, ini perlu dicari jalan keluarnya,” jelasnya.
Selain persoalan sepinya pengunjung, Iswandi juga menerima keluhan terkait kondisi beberapa fasilitas pasar. Salah satunya mengenai adanya bagian gedung yang mengalami tempias ketika hujan.
Ia menilai keberadaan bangunan yang megah harus diikuti dengan fungsi ekonomi yang berjalan. Jika tidak, tujuan revitalisasi pasar untuk meningkatkan kesejahteraan pedagang tidak akan tercapai.
“Yang harus kita cari tahu, kenapa pasar ini belum ramai. Apakah persoalan akses, tata letak, promosi, atau faktor lainnya. Semua harus dibicarakan,” ujarnya.
Komisi II DPRD Samarinda berencana memanggil sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) terkait untuk membahas persoalan tersebut. Di antaranya Dinas Perdagangan, Dinas Perhubungan, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang, hingga Inspektorat.
Pertemuan bersama pemerintah dan perwakilan pedagang itu ditargetkan digelar sebelum akhir Agustus 2026.
“Kita ingin duduk bersama mencari solusi agar pasar ini kembali hidup. Bukan untuk mencari siapa yang salah, tapi bagaimana aktivitas ekonomi pedagang bisa bergerak,” demikian Iswandi.
Penulis Frida editor Eka mandiri


















Users Today : 1483
Total Users : 1400308
Views Today : 2903
Total views : 6699889