BALIKPAPAN – Inflasi di Kota Balikpapan meningkat pada Mei 2026, sementara Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mencatatkan deflasi. Meski demikian, tingkat inflasi di kedua daerah tersebut masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional 2026 sebesar 2,5 persen ± 1 persen.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Robi Ariadi, mengatakan inflasi Balikpapan pada Mei 2026 tercatat sebesar 0,27 persen secara bulanan (month to month/mtm). Kenaikan harga terutama dipicu oleh kelompok transportasi dan energi.
“Inflasi Balikpapan didorong oleh penyesuaian harga BBM non-subsidi dan fuel surcharge penerbangan domestik di tengah meningkatnya permintaan tiket pesawat selama dua periode long weekend pada Mei 2026,” kata Robi dalam keterangan tertulis, Kamis (4/6/2026).
Sementara itu, Kabupaten PPU mengalami deflasi sebesar 0,06 persen (mtm). Kondisi tersebut didukung oleh terjaganya pasokan dan stok berbagai komoditas pangan strategis meskipun permintaan meningkat menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idul Adha.
Secara tahunan (year on year/yoy), inflasi Balikpapan tercatat sebesar 2,75 persen, sedangkan PPU sebesar 2,33 persen. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 3,08 persen maupun inflasi gabungan empat kota di Kalimantan Timur sebesar 3,04 persen.
Menurut Robi, penyumbang terbesar inflasi di Balikpapan berasal dari kelompok transportasi dengan andil 0,43 persen. Lima komoditas yang paling berkontribusi terhadap inflasi adalah angkutan udara, pelumas atau oli mesin, roti manis, beras, dan solar.
Kenaikan harga angkutan udara dipengaruhi oleh penyesuaian fuel surcharge penerbangan domestik yang diberlakukan pemerintah sejak 13 Mei 2026 sebagai respons terhadap kenaikan harga avtur. Sementara itu, harga solar dan pelumas meningkat seiring naiknya harga minyak dunia.
Selain itu, harga roti manis dan beras turut mengalami kenaikan akibat meningkatnya biaya logistik dan kemasan. Untuk beras premium, kenaikan harga juga dipengaruhi terbatasnya pasokan di tengah tingginya permintaan selama periode Idul Adha.
Di sisi lain, deflasi di Balikpapan terutama berasal dari kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga dengan andil sebesar 0,08 persen. Komoditas yang menjadi penyumbang deflasi terbesar antara lain bahan bakar rumah tangga, kangkung, emas perhiasan, daging ayam ras, dan tomat.
Adapun di PPU, deflasi terdalam berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil 0,26 persen. Penurunan harga terutama terjadi pada komoditas daging ayam ras, ikan tongkol, cabai rawit, udang basah, dan tomat.
Meski demikian, beberapa komoditas masih memberikan tekanan inflasi di PPU, antara lain beras, buncis, solar, sawi hijau, dan sigaret kretek mesin.
Bank Indonesia memperkirakan inflasi di Balikpapan dan PPU tetap terkendali hingga akhir tahun. Namun, sejumlah risiko perlu diantisipasi, termasuk potensi penurunan produksi pertanian akibat musim kemarau serta meningkatnya permintaan pangan seiring percepatan operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Untuk menjaga stabilitas harga, Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Balikpapan, PPU, dan Paser terus memperkuat berbagai program pengendalian inflasi, antara lain gerakan pangan murah, pasar murah, operasi pasar, serta penguatan kerja sama antardaerah guna menjamin pasokan pangan.
Sepanjang Mei 2026, telah dilaksanakan 11 kali Gerakan Pangan Murah di Balikpapan, enam kali operasi pasar di PPU, dan empat kali operasi pasar di Paser. Upaya tersebut diharapkan mampu menjaga inflasi daerah tetap berada dalam sasaran yang ditetapkan pemerintah.(IRW)
Sumber: KPwBi balikpapan

















Users Today : 1779
Total Users : 1323727
Views Today : 3220
Total views : 6441285