Foto : Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kaltim, Armin.
Infobenua.com, Samarinda — Munculnya video testimoni ucapan terima kasih dari sejumlah sekolah di Kalimantan Timur usai menerima bantuan seragam gratis memicu perdebatan di ruang publik. Di satu sisi mendapat apresiasi, namun di sisi lain juga menuai kritik karena dinilai berpotensi mengarah pada politisasi di lingkungan pendidikan.
Konten tersebut diketahui berasal dari beberapa sekolah yang menerima bantuan seragam gratis, bagian dari program Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud dan Wakil Gubernur Seno Aji. Namun, penyebarannya di media sosial justru memunculkan beragam persepsi di tengah masyarakat.
Menanggapi hal itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kaltim, Armin, menegaskan bahwa pihaknya tidak pernah mengeluarkan arahan resmi kepada sekolah untuk membuat video testimoni tersebut.
“Sebagai organisasi perangkat daerah yang memberikan pelayanan kepada masyarakat, kami juga memiliki kewajiban menyampaikan pertanggungjawaban kepada publik,” ujarnya.
Menurut Armin, masyarakat berhak mengetahui pelaksanaan program pemerintah karena bersumber dari anggaran negara yang berasal dari pajak. Ia menilai, penyampaian ucapan terima kasih dari sekolah dapat menjadi bentuk keterbukaan informasi kepada publik.
“Selama ini ruang publik lebih banyak diisi kritik. Tidak ada yang salah ketika sekolah menunjukkan program yang telah dirasakan langsung oleh siswa,” jelasnya.
Ia juga menambahkan, unggahan tersebut dapat menjadi laporan langsung kepada kepala daerah terkait implementasi program di lapangan, sekaligus bentuk akuntabilitas pemerintah kepada masyarakat.
“Ini bagian dari pertanggungjawaban publik. Masyarakat perlu tahu karena mereka yang membayar pajak,” tegasnya.
Lebih lanjut, Armin menilai laporan langsung dari sekolah mampu menggambarkan kondisi riil di lapangan, tidak hanya berdasarkan laporan administratif semata.
“Kalau hanya laporan dari dinas, bisa saja dianggap tidak sesuai fakta. Dengan adanya testimoni dari sekolah, kondisi di lapangan bisa terlihat langsung,” katanya.
Selain itu, fenomena tersebut juga dipandang sebagai bagian dari proses pembelajaran karakter bagi siswa, khususnya dalam menanamkan nilai menghargai bantuan dan rasa syukur.
“Anak-anak belajar menghargai apa yang mereka terima. Itu juga bagian dari pendidikan karakter,” ujarnya.
Meski demikian, ia kembali menegaskan bahwa tidak ada kewajiban bagi sekolah untuk membuat konten serupa.
“Kami tidak pernah mengeluarkan instruksi resmi. Jika sekolah ingin menyampaikan kepada masyarakat bahwa program itu benar-benar ada, itu sah-sah saja,” pungkasnya.
Penulis : Nurfa | Editor : Redaksi



















Users Today : 774
Total Users : 1264032
Views Today : 1910
Total views : 6269382