Infobenua.com, Kukar – Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) terus menunjukkan keseriusannya dalam membangun infrastruktur berbasis ekonomi dan hiburan rakyat. Salah satu terobosan terbaru adalah rencana pembangunan bioskop representatif pertama di Kota Tenggarong, yang digagas sebagai upaya mendekatkan fasilitas hiburan dan memperkuat ekosistem ekonomi kreatif daerah.
Kepala Dinas PU Kukar, Wiyono, menjadi sosok sentral dalam mendorong rencana besar ini. Ia menyampaikan bahwa pembangunan bioskop tidak hanya menjadi jawaban atas kebutuhan hiburan masyarakat Kukar, tetapi juga merupakan bagian dari strategi jangka panjang Pemkab Kukar untuk memperkuat sirkulasi ekonomi lokal.
Ia menyatakan, bioskop akan menjadi katalisator baru yang mampu menggerakkan sektor ekonomi masyarakat dari berbagai sisi, mulai dari UMKM, pelaku kreatif, hingga potensi destinasi wisata urban.
“Bioskop ini bukan sekadar ruang nonton. Ini ruang ekonomi, ruang edukasi, ruang ekspresi. Kita ingin membuat tempat yang bisa menyatukan semuanya, tempat yang hidup. Dan ini bagian dari arahan langsung Bapak Bupati, agar pembangunan tidak hanya fisik, tapi juga bernilai manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat,” jelas Wiyono, belum lama ini.
Saat ini, kata Wiyono, ada dua opsi lokasi yang tengah dipertimbangkan untuk pembangunan bioskop tersebut. Pertama, di kawasan Terminal Tangga Arung. Jika dibangun di sana, struktur bioskop akan dirancang bertingkat. Lantai bawah akan dimanfaatkan sebagai area parkir, sementara lantai atas akan diisi ruang teater film dengan fasilitas modern.
Yang menarik, Pemkab Kukar berencana mengintegrasikan lokasi ini dengan Pasar Tangga Arung melalui pembangunan Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) yang menghubungkan langsung kedua kawasan strategis tersebut.
“Kalau kita bangun bioskop di terminal, di lantai dasar tetap kita sediakan parkir. Lantai atas itu bioskop. Dan kita bangun jembatan penyeberangan orang langsung ke pasar. Jadi masyarakat yang datang tidak perlu lagi turun ke jalan, tinggal menyeberang langsung dari terminal ke pasar. Terhubung,” terangnya.
Namun, Wiyono tidak menutup kemungkinan bahwa opsi pembangunan juga bisa dilakukan di kawasan Gedung Ekonomi Kreatif (Kekraf) Kukar, yang kini tengah dibangun sebagai sentra kegiatan para pelaku ekonomi kreatif.
Jika bioskop dibangun di kawasan Kekraf, maka posisinya akan semakin kuat sebagai ruang interaksi kreatif. Tidak hanya sebagai tempat menonton film, tapi juga tempat pemutaran film lokal, screening karya pelaku ekraf, hingga festival komunitas.
“Kalau kita bangun di Gedung Kekraf, itu jadi daya ungkit untuk pelaku ekraf kita. Jadi bioskop ini bukan hanya komersial, tapi juga ruang untuk pelaku kreatif menampilkan karya mereka. Kita ingin bioskop ini jadi ruang hidup yang beririsan dengan dunia seni dan ekonomi kreatif,” tegasnya.
Meski antusiasme tinggi, Wiyono menekankan bahwa semua rencana pembangunan bioskop harus melalui kajian teknis dan finansial yang mendalam. Kajian tersebut meliputi kelayakan lokasi, arsitektur bangunan, skema pengelolaan, hingga sinkronisasi dengan anggaran keuangan daerah.
“Anggaran ini akan mengikuti hasil kajian. Tapi yang pasti kami ingin menghadirkan bioskop yang representatif dan tidak kalah dari kota-kota besar,” ucapnya.
Ia menambahkan, bioskop ini bukan hanya akan memberi ruang hiburan untuk masyarakat Kukar, tapi juga menggerakkan perputaran uang di daerah. Selama ini, kata dia, banyak warga Kukar yang harus ke Samarinda untuk menikmati hiburan bioskop, yang artinya terjadi kebocoran ekonomi ke luar daerah.
Jika fasilitas bioskop tersedia di Tenggarong, maka perputaran ekonomi bisa tetap berada di Kukar, bahkan menjadi magnet baru untuk menarik kunjungan dari luar daerah.
“Kita ingin perputaran uang itu tetap di Kukar. Bahkan masyarakat dari luar bisa kita tarik untuk belanja dan rekreasi di sini. Dengan bioskop, kita harapkan banyak dampak turunan positif, termasuk bagi pedagang kaki lima dan UMKM sekitar,” jelasnya.
Bioskop ini juga akan disinergikan dengan pengembangan ruang terbuka hijau (RTH) dan zona publik lainnya di sekitar pusat kota. Pemkab Kukar melalui Dinas PU berkomitmen membangun ruang kota yang manusiawi, aman, dan nyaman bagi semua lapisan masyarakat.
Rencana pembangunan jembatan penyeberangan, integrasi kawasan pasar, hingga optimalisasi ruang publik di sekitar Terminal Tangga Arung dan Gedung Kekraf, semuanya dirancang dalam satu visi besar, membangun pusat pertumbuhan ekonomi dan kreativitas berbasis komunitas.
“Yang kita rancang bukan hanya bangunan, tapi sebuah sistem ruang hidup yang saling mendukung. Terminal, pasar, RTH, bioskop, Kekraf—semuanya akan kita sambungkan dalam satu alur. Ini yang kita siapkan secara bertahap, dan kami terus laporkan perkembangan ini ke Pak Gubernur dan pimpinan daerah,” urai Wiyono panjang lebar.
Wiyono menyadari bahwa rencana ini tidak bisa instan, tapi pihaknya berkomitmen menjalankan setiap tahapan dengan detail dan akuntabel.
“Kami tidak ingin ini jadi proyek asal jadi. Kami ingin benar-benar memberi manfaat untuk masyarakat. Dan kami terbuka, semua bisa ikut mengawal rencana ini,” tutupnya.
penulis Lisa editor redaksi



















Users Today : 988
Total Users : 1374810
Views Today : 4219
Total views : 6642388