InfoBenua.Com
  • Home
  • Redaksi
  • INFO PRODUK
  • Blog
  • Infografis
  • Video
  • KODE ETIK PERUSAHAAN PERS
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
No Result
View All Result
InfoBenua.Com
  • Home
  • Redaksi
  • INFO PRODUK
  • Blog
  • Infografis
  • Video
  • KODE ETIK PERUSAHAAN PERS
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
No Result
View All Result
No Result
View All Result

Satelit NASA Swift Jatuh di Atas Sumatera Utara, Puing Diperkirakan Terbakar di Atmosfer

by Hery Kuswoyo
Kamis, 5 November 2026, 22:14
in Internasional
Ilustrasi

Ilustrasi

Bagikan

Infobenua.com – Satelit observatorium milik Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA), Neil Gehrels Swift Observatory, mengakhiri perjalanannya di luar angkasa setelah memasuki kembali atmosfer Bumi pada Rabu (4/11/2026). Satelit berbobot sekitar 1.452 kilogram tersebut dilaporkan memasuki atmosfer di atas wilayah Sumatera Utara, Indonesia.

Angkatan Antariksa Amerika Serikat (US Space Force) mengonfirmasi peristiwa tersebut terjadi pada pukul 07.39 waktu setempat di Amerika Serikat atau 12.39 GMT. NASA memperkirakan satelit melaju dengan kecepatan sekitar 22 kali kecepatan suara saat memasuki atmosfer, tepatnya di kawasan sekitar 322 kilometer di utara garis khatulistiwa.

Sebagian besar struktur satelit diperkirakan hancur akibat panas ekstrem yang dihasilkan gesekan dengan atmosfer. Meski demikian, NASA tidak menutup kemungkinan sejumlah pecahan masih dapat mencapai permukaan Bumi.

Badan antariksa tersebut melaporkan tidak terdapat kerusakan maupun korban luka akibat jatuhnya puing-puing Swift. Hingga kini, belum diketahui secara pasti seberapa dekat titik masuk kembali satelit tersebut dengan Kota Medan, ibu kota Sumatera Utara yang memiliki populasi sekitar 2,5 juta jiwa. Secara keseluruhan, provinsi tersebut dihuni sekitar 16 juta penduduk.

Sebelum kejadian, US Space Force telah memperkirakan kemungkinan dampak terhadap kawasan berpenduduk sangat kecil. Risiko seseorang mengalami cedera akibat jatuhnya serpihan satelit diperkirakan berada pada angka satu banding 2.100.

Dean Sladen, insinyur kedirgantaraan dari perusahaan pemasok komponen industri Accu Components yang berbasis di Inggris, menjelaskan bahwa sebagian besar material satelit akan terbakar sebelum mencapai permukaan Bumi.

“Hanya segelintir serpihan kecil yang hangus diperkirakan akan mencapai permukaan, tidak ada yang masih bisa dikenali sebagai teleskop,” kata Sladen melalui surat elektronik sebelum satelit memasuki atmosfer.

Ia menambahkan, masuknya kembali satelit berukuran serupa ke atmosfer merupakan peristiwa yang telah berulang kali terjadi selama era penerbangan antariksa.

“Selama hampir 70 tahun penerbangan antariksa, belum pernah ada orang yang meninggal akibat puing-puing satelit yang jatuh,” ujarnya.

Meski risiko terhadap manusia selama ini tergolong rendah, Sladen mengingatkan bahwa meningkatnya jumlah aktivitas dan objek di orbit Bumi dapat membuat persoalan keselamatan puing antariksa semakin penting pada masa mendatang.

“Itulah sebabnya merancang satelit agar dapat kembali ke Bumi dengan aman semakin penting,” tambahnya.

Swift merupakan observatorium antariksa senilai 500 juta dolar AS atau sekitar Rp9,05 triliun yang dikembangkan untuk mengamati gamma-ray bursts, yakni ledakan energi paling kuat yang diketahui di alam semesta.

Fasilitas tersebut dilengkapi tiga teleskop yang memungkinkan pengamatan berbagai fenomena kosmik melalui sejumlah panjang gelombang. Sejak diluncurkan pada 2004, Swift telah menghasilkan pengamatan terhadap ratusan ledakan supernova, lubang hitam yang menghancurkan bintang, semburan sinar-X dari bintang, asteroid, hingga komet.

Selama beroperasi, hasil pengamatan observatorium tersebut berkontribusi terhadap sekitar 7.000 publikasi ilmiah di berbagai bidang astronomi dan astrofisika.

Misi Swift sebenarnya dirancang hanya untuk berlangsung selama dua tahun. Namun, observatorium tersebut mampu bertahan dan menjalankan tugasnya selama lebih dari dua dekade sebelum resmi menghentikan operasional pada 20 Oktober 2026.

Berakhirnya misi tersebut tidak terlepas dari kondisi orbit satelit yang semakin tidak stabil dalam beberapa bulan terakhir. Tanpa sistem penggerak mandiri, Swift tidak mampu mempertahankan orbitnya sehingga secara bertahap mengalami penurunan hingga akhirnya memasuki atmosfer Bumi.

NASA sebelumnya sempat mengupayakan penyelamatan observatorium tersebut melalui kerja sama dengan perusahaan rintisan asal Arizona, Katalyst. Pada Juli 2026, keduanya meluncurkan wahana antariksa bernama LINK untuk mendekati Swift, mengaitkan diri dengan satelit, kemudian memindahkannya ke orbit yang lebih tinggi dan stabil.

Namun, rencana tersebut tidak berjalan sesuai harapan. Tidak lama setelah mencapai luar angkasa, LINK mengalami putaran yang tidak terkendali. Pengelola misi akhirnya memutuskan membatalkan operasi penyelamatan pada pertengahan Agustus.

Setelah upaya tersebut gagal, NASA membiarkan Swift melanjutkan pergerakannya hingga kembali memasuki atmosfer Bumi. Peristiwa pada Rabu sekaligus mengakhiri perjalanan observatorium yang selama lebih dari 20 tahun membantu para ilmuwan mengungkap berbagai fenomena ekstrem di alam semesta. (*)

Views Count: 5

Infobenua.com TVChannel

Statistik Pengunjung

1603744
Users Today : 2436
Total Users : 1603744
Views Today : 4032
Total views : 7121591
  • Home
  • Redaksi
  • INFO PRODUK
  • Blog
  • Infografis
  • Video
  • KODE ETIK PERUSAHAAN PERS
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami

Copyright © 2017-2025 InfoBenua.com