InfoBenua.Com
  • Home
  • Redaksi
  • INFO PRODUK
  • Blog
  • Infografis
  • Video
  • KODE ETIK PERUSAHAAN PERS
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
No Result
View All Result
InfoBenua.Com
  • Home
  • Redaksi
  • INFO PRODUK
  • Blog
  • Infografis
  • Video
  • KODE ETIK PERUSAHAAN PERS
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
No Result
View All Result
No Result
View All Result

Puncak Musim Hujan Kaltim Diprediksi Desember 2026, Banjir dan Longsor Perlu Diwaspadai

by Hery Kuswoyo
Kamis, 5 November 2026, 21:11
in Kaltim
Ilustrasi

Ilustrasi

Bagikan

Infobenua.com, Samarinda – Puncak musim hujan di Kalimantan Timur (Kaltim) diprakirakan berlangsung pada Desember 2026, setelah sebagian besar wilayah provinsi tersebut mulai memasuki musim hujan pada Dasarian II November. Kondisi ini meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi, mulai dari banjir, angin kencang, hingga tanah longsor.

Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan Balikpapan, Djoko Sumardiono, mengatakan awal musim hujan di Kaltim berlangsung secara bertahap. Sejumlah wilayah di bagian utara hingga barat laut telah lebih dahulu memasuki musim hujan sejak sekitar 3 Oktober 2026 dan mengalami hujan hingga akhir bulan.

Sementara itu, wilayah lain mulai menunjukkan tanda-tanda masuknya musim hujan pada Dasarian I November. Daerah tersebut mencakup sebagian wilayah utara Kutai Kartanegara (Kukar), sebagian kecil Kabupaten Berau, serta Kota Balikpapan.

”Khusus Balikpapan, tanda-tanda masuknya musim hujan terlihat dari aktivitas hujan yang terjadi selama sepekan terakhir. Bahkan, pada pagi hari mulai terdengar suara guntur disertai hujan dengan intensitas ringan,”ungkap Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan Balikpapan, Djoko Sumardiono, saat menjadi pembicara terkait mengawak kesiapsiagaan bencana banjir di Kaltim, Kamis (5/11/2026).

Berdasarkan prakiraan meteorologi, sebagian besar wilayah Kaltim baru akan memasuki musim hujan pada Dasarian II November. Periode musim hujan diperkirakan berakhir pada April hingga Mei 2027, dengan durasi yang relatif lebih pendek dibandingkan periode sebelumnya.

Meski berlangsung lebih singkat, karakteristik curah hujan pada musim ini diprediksi berada dalam kategori normal. Prediksi tersebut mengacu pada perbandingan rata-rata curah hujan selama 30 tahun terakhir.

Djoko menjelaskan, kondisi tersebut berpotensi memberikan manfaat sekaligus menghadirkan risiko bagi masyarakat. Tingginya potensi curah hujan dalam periode yang relatif singkat dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan air baku.

Untuk mengantisipasi kebutuhan air pada periode kering, pemerintah dan instansi terkait didorong mengoptimalkan penampungan air hujan melalui pembangunan embung maupun fasilitas penyimpanan air lainnya. Upaya ini dinilai penting untuk menjaga ketersediaan sumber air dalam jangka panjang.

Di sisi lain, masa peralihan menuju musim hujan menjadi periode yang perlu mendapat perhatian karena berpotensi memicu bencana hidrometeorologi. Banjir secara tiba-tiba dan angin kencang menjadi sejumlah ancaman yang perlu diantisipasi sejak dini.

Masyarakat yang bermukim di kawasan pesisir juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi banjir rob selama November. Fenomena bulan purnama berpotensi meningkatkan ketinggian pasang air laut. Risiko genangan pesisir dapat bertambah apabila kondisi tersebut berlangsung bersamaan dengan hujan berintensitas tinggi.

Memasuki Desember, intensitas dan frekuensi hujan diperkirakan meningkat. Curah hujan juga berpotensi terjadi lebih merata di berbagai wilayah Kaltim. Situasi tersebut tidak hanya meningkatkan risiko banjir dan angin kencang, tetapi juga ancaman tanah longsor, terutama di kawasan dengan kondisi geografis berupa lereng.

Djoko menerangkan, pada awal musim hujan, air belum tentu meresap secara optimal hingga lapisan tanah bagian bawah. Akibatnya, struktur tanah belum memiliki daya ikat yang cukup kuat untuk menopang beban di bagian atas. Ketika hujan deras terjadi, kondisi tersebut dapat memicu pergeseran tanah dan meningkatkan risiko longsor.

“Pada masa peralihan, lapisan tanah bagian bawah belum tentu kuat mengikat karena air belum terserap secara optimal. Sehingga beban di bagian atas bisa menggeser atau menggoyangkan tanah dan berpotensi menyebabkan longsor. Ini yang harus diwaspadai,” jelasnya.

Dengan puncak musim hujan yang diperkirakan terjadi tidak lama setelah awal musim, kesiapsiagaan pemerintah, instansi terkait, dan masyarakat menjadi faktor penting dalam mengurangi risiko bencana.

Selain memanfaatkan potensi curah hujan untuk memperkuat cadangan air baku, langkah mitigasi perlu dilakukan sejak dini, khususnya di kawasan rawan banjir, longsor, dan banjir rob. Upaya tersebut diperlukan agar dampak musim hujan di Kalimantan Timur dapat ditekan. (*)

Views Count: 3

Infobenua.com TVChannel

Statistik Pengunjung

1603755
Users Today : 2447
Total Users : 1603755
Views Today : 4045
Total views : 7121604
  • Home
  • Redaksi
  • INFO PRODUK
  • Blog
  • Infografis
  • Video
  • KODE ETIK PERUSAHAAN PERS
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami

Copyright © 2017-2025 InfoBenua.com