InfoBenua.Com
  • Home
  • Redaksi
  • INFO PRODUK
  • Blog
  • Infografis
  • Video
  • KODE ETIK PERUSAHAAN PERS
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
No Result
View All Result
InfoBenua.Com
  • Home
  • Redaksi
  • INFO PRODUK
  • Blog
  • Infografis
  • Video
  • KODE ETIK PERUSAHAAN PERS
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
No Result
View All Result
No Result
View All Result

Inflasi Balikpapan Naik Jadi 0,15 Persen, PPU Justru Deflasi pada Oktober 2026

by Irwan Balikpapan
Rabu, 4 November 2026, 19:28
in Balikpapan
Bagikan

BALIKPAPAN – Perkembangan harga kebutuhan pokok di Kota Balikpapan dan Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur, menunjukkan pergerakan berbeda pada Oktober 2026. Balikpapan mencatat kenaikan inflasi menjadi 0,15 persen secara bulanan (month to month/mtm), sedangkan PPU mengalami deflasi sebesar 0,18 persen.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Balikpapan, Robi Ariadi, mengatakan inflasi Balikpapan meningkat dibandingkan September 2026 yang tercatat sebesar 0,08 persen (mtm). Sementara PPU berbalik mengalami deflasi setelah pada bulan sebelumnya mencatat inflasi sebesar 0,56 persen.

“Perkembangan inflasi Kota Balikpapan terutama disebabkan kenaikan harga sejumlah komoditas hortikultura dan tarif angkutan udara. Sementara deflasi Kabupaten PPU terutama didorong penurunan harga komoditas ikan, daging ayam ras, dan aneka bawang,” kata Robi dalam siaran pers, Selasa (3/11/2026).

Meski demikian, secara tahunan inflasi kedua wilayah justru mengalami peningkatan. Balikpapan mencatat inflasi sebesar 4,06 persen (year on year/yoy), naik dari 3,93 persen pada September 2026.

Adapun inflasi tahunan PPU mencapai 4,50 persen (yoy), meningkat dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 4,18 persen.

Realisasi inflasi tahunan kedua daerah tersebut berada di atas inflasi gabungan empat kabupaten/kota IHK di Kalimantan Timur sebesar 4,04 persen dan inflasi nasional sebesar 3,23 persen.

Sementara itu, inflasi tahun kalender hingga Oktober 2026 tercatat sebesar 2,71 persen di Balikpapan dan 3,92 persen di PPU.

Harga Sayuran dan Tiket Pesawat Picu Inflasi Balikpapan

Robi menjelaskan, inflasi Balikpapan pada Oktober 2026 terutama disumbang kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil sebesar 0,06 persen (mtm).

Lima komoditas yang memberikan kontribusi terbesar terhadap inflasi adalah sawi hijau, jagung manis, kacang panjang, tomat, dan angkutan udara.

Kenaikan harga sawi hijau dan kacang panjang dipengaruhi berkurangnya pasokan dari petani lokal Balikpapan dan daerah sekitarnya akibat kondisi cuaca El Nino yang berdampak terhadap produksi.

Sementara kenaikan harga jagung manis dan tomat dipicu penurunan pasokan dari daerah sentra produksi, terutama Jawa Timur dan Sulawesi Selatan. Kondisi tersebut terjadi di tengah permintaan masyarakat yang masih relatif kuat.

Selain komoditas pangan, tarif angkutan udara juga memberikan tekanan terhadap inflasi.

“Tarif angkutan udara meningkat seiring diberlakukannya kembali fuel surcharge maksimal 40 persen dari tarif batas atas mulai 1 Oktober 2026, sejalan dengan rata-rata harga avtur yang mencapai Rp23.315 per liter,” jelasnya.

Di sisi lain, tekanan deflasi Balikpapan terutama berasal dari kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga dengan andil sebesar 0,02 persen (mtm).

Lima komoditas yang menjadi penyumbang deflasi terdalam adalah ikan layang, ikan tongkol, emas perhiasan, semangka, dan bayam.

Penurunan harga ikan layang dan ikan tongkol didukung meningkatnya hasil tangkapan nelayan di perairan Balikpapan dan sekitarnya. Kondisi gelombang laut yang kembali normal membuat pasokan ikan di pasar meningkat.

Sementara penurunan harga emas perhiasan sejalan dengan pelemahan harga emas global, yang antara lain dipengaruhi pergeseran preferensi sebagian investor ke instrumen investasi selain emas.

Adapun penurunan harga semangka didukung peningkatan pasokan dari daerah sentra produksi di Pulau Jawa. Harga bayam juga mengalami penurunan karena meningkatnya pasokan dari petani lokal dan daerah lain seiring berlangsungnya panen secara bersamaan.

PPU Deflasi karena Harga Ikan dan Ayam Turun

Berbeda dengan Balikpapan, deflasi PPU pada Oktober 2026 terutama bersumber dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil sebesar 0,24 persen (mtm).

Lima komoditas utama penyumbang deflasi adalah ikan tongkol, ikan layang, daging ayam ras, bawang merah, dan bawang putih.

Penurunan harga ikan tongkol dan ikan layang didukung kondisi gelombang serta perairan laut yang relatif membaik dibandingkan puncak gelombang tinggi pada Agustus lalu. Kondisi tersebut mendorong peningkatan pasokan hasil tangkapan nelayan lokal.

Harga daging ayam ras juga mengalami penurunan seiring meningkatnya produksi di tingkat peternak, sementara permintaan relatif stabil. Kondisi ini membuat pasokan daging ayam di pasar lebih tersedia dengan harga normal.

Penurunan harga bawang merah didukung meningkatnya frekuensi operasi pasar hingga tingkat kelurahan, kecukupan stok, serta distribusi pasokan dari daerah sentra produksi di Jawa dan Sulawesi.

Sementara harga bawang putih turun karena tingginya pasokan impor yang mendukung kelancaran distribusi dan meningkatkan ketersediaan stok di pasar.

Meski mengalami deflasi, PPU tetap mencatat tekanan inflasi dari kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga dengan andil sebesar 0,03 persen (mtm).

Komoditas yang menjadi penyumbang inflasi tertinggi meliputi tomat, kacang panjang, sawi hijau, cabai merah, dan cabai rawit.

Kenaikan harga tomat, cabai merah, dan cabai rawit dipengaruhi berkurangnya pasokan dari sentra produksi di Jawa Timur dan Sulawesi Selatan akibat dampak El Nino terhadap produksi, sementara permintaan masih relatif kuat.

Adapun kenaikan harga kacang panjang dan sawi hijau dipicu penurunan pasokan dari petani lokal Balikpapan dan wilayah sekitarnya.

BI Perkuat Pasokan Pangan Antisipasi El Nino

Menghadapi tekanan inflasi ke depan, Bank Indonesia bersama pemerintah daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Balikpapan, PPU, dan Paser terus memperkuat berbagai langkah pengendalian harga dan menjaga ketersediaan pasokan pangan.

Salah satu upaya yang dilakukan melalui implementasi Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS), antara lain dengan menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM), pasar murah, dan operasi pasar secara tepat waktu, tepat lokasi, serta tepat sasaran.

Sepanjang Oktober 2026, TPID Balikpapan melaksanakan GPM secara berkala melalui sinergi dengan Bulog sebanyak empat kali seminggu, serta kegiatan yang diinisiasi Bulog sebanyak lima kali seminggu.

Upaya tersebut diperkuat dengan GPM dan operasi pasar LPG 3 kilogram pada 21-23 Oktober 2026 dalam rangka Hari Pangan Sedunia.

Selain itu, terdapat pasar murah mobile yang menyasar kawasan permukiman di sejumlah kelurahan, Gerakan Stabilisasi Inflasi Terkendali (GESIT) Sembako Murah pada 13-31 Oktober 2026, serta optimalisasi Kios Penyeimbang Manuntung di Pasar Klandasan dan Pasar Pandansari.

Di PPU, GPM dilaksanakan pada 15 dan 21 Oktober 2026, disertai operasi pasar sembako dan LPG 3 kilogram pada 14-15 Oktober 2026.

Dari sisi produksi, penguatan pangan lokal dilakukan melalui penyebaran bibit hortikultura di Balikpapan dan pengembangan kawasan cabai seluas 10 hektare di Kabupaten Paser dengan dukungan Kementerian Pertanian.

Sementara untuk menjaga kelancaran distribusi, dilakukan koordinasi penyaluran BBM bersama Pertamina Patra Niaga pada 1 Oktober 2026. TPID juga menggelar rapat koordinasi integrasi penguatan stabilisasi harga pangan pada 14 Oktober 2026.

Selain itu, penjajakan kerja sama antardaerah (KAD) antara Balikpapan dan PPU dengan Kabupaten Enrekang serta Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, telah dilakukan pada 16 Oktober 2026.

Robi mengatakan, kerja sama tersebut menjadi salah satu strategi untuk menjaga kesinambungan pasokan pangan sekaligus mengurangi dampak El Nino terhadap harga komoditas.

Risiko Inflasi Masih Membayangi hingga Awal 2027

BI Balikpapan mencatat sejumlah risiko yang berpotensi meningkatkan tekanan inflasi dalam beberapa bulan mendatang.

Salah satunya adalah potensi berlanjutnya El Nino hingga awal 2027 yang dapat memengaruhi produksi dan pasokan pangan. Kondisi tersebut berisiko menyebabkan keterlambatan masa tanam, keterbatasan air, hingga gagal panen yang berdampak terhadap produktivitas pertanian.

Selain itu, ketergantungan pasokan pangan dari Jawa Timur dan Sulawesi Selatan membuat harga komoditas rentan terhadap perubahan biaya logistik. Fluktuasi harga minyak global juga berpotensi meningkatkan biaya distribusi dan harga pangan, khususnya kelompok volatile food.

Risiko lainnya mencakup potensi peningkatan permintaan BBM dan LPG yang perlu diantisipasi agar tidak menimbulkan kelangkaan stok, serta bertambahnya kebutuhan komoditas pangan seiring perluasan operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) pada triwulan IV 2026.

Karena itu, BI bersama TPID akan terus memperkuat sinergi untuk memastikan ketersediaan stok, kelancaran distribusi, dan stabilitas harga pangan.

“Ke depan, KPwBI Balikpapan akan terus membangun dan memperkuat sinergi dengan berbagai pihak dalam wadah TPID untuk mendorong implementasi GPIPS secara konsisten, terukur, dan berkesinambungan, sehingga inflasi daerah tetap berada pada rentang sasaran inflasi nasional 2026, yaitu 2,5 persen plus minus 1 persen,” ungkap Robi.

Dia menambahkan, pada akhir November 2026, KPwBI Balikpapan bersama TPID Balikpapan, PPU, dan Paser berencana menjalin kerja sama pasokan melalui KAD dengan Kabupaten Bulukumba dan Kabupaten Enrekang.

Kerja sama tersebut menjadi bagian dari optimalisasi program dan kebijakan yang telah dirancang dalam peta jalan pengendalian inflasi daerah 2025-2027.

Penulis: Irwanto Sianturi| sumber: KPwBI Balikpapan

Views Count: 3

Infobenua.com TVChannel

Statistik Pengunjung

1599978
Users Today : 3050
Total Users : 1599978
Views Today : 4315
Total views : 7115133
  • Home
  • Redaksi
  • INFO PRODUK
  • Blog
  • Infografis
  • Video
  • KODE ETIK PERUSAHAAN PERS
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami

Copyright © 2017-2025 InfoBenua.com