Infobenua.com, Riyadh — Ambisi Arab Saudi membangun Stadion Neom, yang dirancang berada 350 meter di atas permukaan tanah, terancam kandas seiring pemangkasan proyek kota futuristik The Line. Perubahan ini mencerminkan evaluasi terhadap investasi besar kerajaan, termasuk di sektor olahraga, menjelang Piala Dunia 2034.
Reuters melaporkan stadion yang semula direncanakan menjadi lokasi pertandingan hingga babak perempat final itu tidak lagi akan dibangun untuk turnamen tersebut.
Pakar Timur Tengah dari Middle East Institute, F. Gregory Gause III, mengatakan tanda-tanda perubahan arah proyek Neom telah terlihat sejak akhir 2025.
“Ketika saya berada di Arab Saudi pada Desember (2025) lalu, sudah banyak tanda bahwa seluruh proyek Neom sedang dipinggirkan atau malah ditinggalkan sama sekali,” kata Gause kepada DW.
Menurutnya, tekanan fiskal, dinamika pasar minyak, dan dampak perang mendorong pemerintah Saudi meninjau kembali prioritas belanja.
“Saya melihat ini sebagai bagian dari evaluasi ulang secara umum terhadap kondisi fiskal mereka, baik dalam konteks pasar minyak sebelum perang saat ini maupun kerugian yang ditimbulkan perang itu. Mundurnya dari komitmen olahraga hanyalah bagian dari penilaian ulang yang lebih luas atas prioritas dalam situasi yang kini semakin sulit,” kata Gause.
Penyesuaian investasi juga terlihat pada sejumlah agenda olahraga Saudi, termasuk pendanaan LIV Golf dan rencana penyelenggaraan Kejuaraan Olahraga Musim Dingin Asia 2029 di Neom. Padahal, investasi olahraga merupakan bagian dari Visi 2030 untuk mengurangi ketergantungan ekonomi terhadap minyak dan memperluas pengaruh internasional kerajaan.
Kristian Coates Ulrichsen, peneliti senior Universitas Rice sekaligus penulis Kingdom of Football: Saudi Arabia and the Remaking of World Soccer, menilai perubahan fungsi Neom menunjukkan pergeseran prioritas strategis.
“Dampak perang tidak hanya membuat rasionalisasi ekonomi semakin penting, tetapi juga mempercepat keinginan untuk meninjau ulang sejumlah proyek ini. Neom kini sedang dialihfungsikan sebagai pusat industri di Laut Merah, yang jelas menjadi jauh lebih mendesak sejak Selat Hormuz secara efektif tersumbat,” kata Ulrichsen kepada DW.
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai rencana 15 stadion untuk Piala Dunia 2034 yang diproyeksikan diikuti 64 tim. Hingga laporan DW diterbitkan, otoritas penyelenggara Saudi, Kementerian Olahraga, dan FIFA belum memberikan tanggapan mengenai kemungkinan pengurangan jumlah stadion.
Meski demikian, Gause menilai Piala Dunia tetap menjadi prioritas utama bagi Saudi karena nilai global turnamen dan ambisi untuk melampaui penyelenggaraan Qatar pada 2022.
“Menurut saya, ini tetap menjadi prioritas utama, karena kepentingannya yang global dan karena Arab Saudi ingin tampil setidaknya setara, atau bahkan melampaui, penyelenggaraan Qatar sebelumnya,” katanya.
Ulrichsen memperkirakan Riyadh dan Jeddah berpotensi menjadi pusat pertandingan, sementara sejumlah lokasi di pesisir timur, seperti Al Khobar dan Al Ahsa, dapat dievaluasi kembali karena kedekatannya dengan kawasan Teluk Persia dan Selat Hormuz.
Piala Asia yang dijadwalkan berlangsung di Saudi pada Januari 2027 juga akan menjadi tolok ukur kesiapan negara tersebut menggelar turnamen besar di tengah ketidakpastian geopolitik.
Dengan sekitar delapan tahun tersisa sebelum Piala Dunia 2034, Saudi masih memiliki waktu untuk menyesuaikan rencana. Namun, potensi pembatalan Stadion Neom memperlihatkan bahwa penyelenggaraan turnamen tersebut mungkin tidak akan terwujud persis seperti rancangan awal.(*)









Users Today : 2021
Total Users : 1524784
Views Today : 4615
Total views : 6970709