Infobenua.com, BALIKPAPAN — Indeks Harga Konsumen (IHK) Kota Balikpapan dan Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur, mengalami kenaikan pada September 2026.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Balikpapan Robi Ariadi mengatakan, berdasarkan perkembangan IHK September 2026, Balikpapan mengalami inflasi sebesar 0,08 persen secara bulanan (month to month/mtm).
Sementara itu, Kabupaten PPU mencatat inflasi lebih tinggi, yakni sebesar 0,56 persen (mtm).
“Inflasi yang terjadi di kedua wilayah terutama disebabkan oleh kenaikan harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau,” kata Robi dalam keterangan tertulis, Jumat (2/10/2026).
Menurut dia, kenaikan harga tersebut dipengaruhi menurunnya pasokan dari sejumlah daerah sentra produksi, terutama Jawa Timur dan Sulawesi Selatan.
Kondisi tersebut berkaitan dengan dampak El Nino dan cuaca kemarau yang memengaruhi tingkat produksi sejumlah komoditas pangan.
Secara tahunan, inflasi Balikpapan tercatat sebesar 3,93 persen (year on year/yoy), sedangkan PPU sebesar 4,18 persen (yoy).
Realisasi tersebut berada di atas inflasi nasional yang mencapai 3,28 persen (yoy).
Jika dilihat dari inflasi regional Kalimantan Timur, inflasi tahunan Balikpapan masih lebih rendah dibandingkan inflasi gabungan empat kota di Kaltim sebesar 3,98 persen. Sementara inflasi PPU tercatat lebih tinggi.
Adapun inflasi tahun kalender Januari-September 2026 di Balikpapan mencapai 2,55 persen. Sedangkan PPU mencapai 4,11 persen.
Realisasi inflasi Balikpapan masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional 2026, yakni 2,5 persen plus-minus 1 persen. Sementara PPU telah berada di atas batas rentang sasaran tersebut.
Cabai hingga jagung dorong inflasi Balikpapan
Di Balikpapan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan andil 0,15 persen (mtm).
Lima komoditas yang memberikan sumbangan inflasi terbesar yakni cabai rawit, kangkung, tomat, tas sekolah, dan jagung manis.
Harga cabai rawit, tomat, dan jagung manis meningkat karena pasokan dari daerah sentra produksi, khususnya Jawa Timur dan Sulawesi Selatan, menurun akibat kondisi cuaca kemarau.
Kondisi tersebut terjadi ketika permintaan terhadap komoditas tersebut masih cukup kuat.
Sementara kenaikan harga kangkung dipengaruhi menurunnya pasokan dari petani lokal di Balikpapan dan sekitarnya akibat kondisi kemarau.
Adapun kenaikan harga tas sekolah dipengaruhi kebijakan produsen yang mengompensasi peningkatan biaya produksi melalui harga jual. Kondisi itu berlangsung di tengah dampak lanjutan meningkatnya permintaan pada tahun ajaran baru.
Di sisi lain, sejumlah komoditas memberikan tekanan deflasi di Balikpapan.
Komoditas tersebut antara lain ikan layang, angkutan udara, bahan bakar rumah tangga, sawi hijau, dan udang basah.
Penurunan harga ikan layang didukung meningkatnya hasil tangkapan nelayan di perairan PPU dan sekitarnya. Kondisi cuaca dan gelombang laut yang membaik mendorong peningkatan pasokan di pasar.
Sementara tarif angkutan udara turun seiring dampak lanjutan penurunan harga avtur pada 1 Agustus 2026 di Bandara Sepinggan Balikpapan.
Harga avtur tercatat turun menjadi Rp 21.825 per liter dari sebelumnya Rp 22.104 per liter.
Inflasi PPU lebih tinggi
Di Kabupaten PPU, kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberikan andil terbesar terhadap inflasi September 2026, yakni sebesar 0,48 persen (mtm).
Lima komoditas utama penyumbang inflasi PPU adalah cabai rawit, tomat, jagung manis, kacang panjang, dan jeruk.
Cabai rawit, tomat, dan jagung manis mengalami kenaikan harga akibat berkurangnya pasokan dari daerah sentra produksi di Jawa Timur dan Sulawesi Selatan.
Sementara harga kacang panjang meningkat karena pasokan dari petani lokal PPU dan wilayah sekitarnya menurun akibat kondisi kemarau.
Harga jeruk juga meningkat karena terbatasnya pasokan akibat kemarau panjang, kenaikan biaya logistik, serta berakhirnya masa panen raya.
Di sisi lain, deflasi PPU terutama disumbang oleh komoditas ikan tongkol, ikan layang, udang basah, ikan kembung, dan telur ayam ras.
Penurunan harga sejumlah jenis ikan didukung melimpahnya hasil tangkapan nelayan di perairan PPU dan sekitarnya.
Sementara harga udang basah turun seiring melimpahnya pasokan dari hasil budidaya tambak dan tangkapan nelayan.
Adapun harga telur ayam ras turun karena pasokan dari daerah sentra produksi meningkat.
BI dan TPID perkuat pengendalian inflasi
Robi mengatakan, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di Balikpapan dan PPU terus melakukan sejumlah langkah untuk menjaga pasokan dan stabilitas harga pangan.
Langkah tersebut dilakukan melalui Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS), termasuk Gerakan Pangan Murah (GPM), Pasar Murah, dan Operasi Pasar.
Kegiatan tersebut dilakukan dengan prinsip tepat waktu, tepat lokasi, dan tepat sasaran.
Selain itu, pemerintah daerah bersama BI juga memperkuat kerja sama antardaerah dengan wilayah sentra produksi untuk menjaga kesinambungan pasokan pangan.
Sepanjang Januari-September 2026, TPID Kota Balikpapan telah melaksanakan 104 kali GPM, termasuk 10 kali pada September 2026.
Sementara TPID Kabupaten PPU telah melaksanakan 32 kali GPM, Pasar Murah, dan Operasi Pasar, termasuk lima kali pada September 2026.
Risiko inflasi ke depan masih perlu diantisipasi, terutama dampak El Nino, kekeringan, dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berpotensi mengganggu produksi dan pasokan pangan.
Ketergantungan terhadap pasokan pangan dari luar Kalimantan Timur serta produktivitas pangan lokal yang masih terbatas juga menjadi tantangan.
Selain itu, ketersediaan energi, termasuk BBM dan LPG, perlu terus dijaga untuk mengantisipasi peningkatan permintaan.
Perluasan operasional SPPG pada semester II 2026 juga berpotensi meningkatkan permintaan sejumlah komoditas pangan sehingga perlu diimbangi dengan penguatan stok dan pasokan.
“Ke depan, KPw BI Balikpapan akan terus membangun dan memperkuat sinergi dengan berbagai pihak dalam wadah TPID untuk mendorong implementasi GPIPS secara konsisten, terukur, dan berkesinambungan,” ujar Robi.
Langkah tersebut ditujukan untuk menjaga inflasi daerah tetap berada dalam rentang sasaran inflasi nasional 2026 sebesar 2,5 persen plus-minus 1 persen.
Penyunting: Irwanto sianturi







Users Today : 1314
Total Users : 1511006
Views Today : 2901
Total views : 6941192