Infobenua.com, Samarinda — Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur menawarkan 12 proyek investasi siap tawar atau Investment Project Ready to Offer (IPRO) dengan nilai indikatif sekitar US$3,8 miliar, setara sekitar Rp68,7 triliun.
Daftar proyek tersebut mencakup sektor hilirisasi komoditas, kawasan industri, logistik, penyediaan air minum, peternakan hingga pariwisata. Pemerintah daerah menyatakan penawaran diarahkan untuk mendorong transformasi ekonomi Kaltim dari sektor berbasis komoditas mentah menuju kegiatan yang menghasilkan nilai tambah.
“Jadi, proyek investasi yang ditawarkan diarahkan ke hilirisasi dan kegiatan yang memberi nilai tambah, termasuk pariwisata berkelanjutan,” ujar Kepala Bidang Perencanaan, Pengembangan Iklim, dan Penanaman Modal DPMPTSP Kaltim, Riawati, kepada wartawan, Selasa (29/9/2026).
Berdasarkan East Kalimantan Presentation Book Q3 2026, nilai yang tercantum dalam daftar IPRO merupakan estimasi kebutuhan investasi masing-masing proyek dan **bukan nilai investasi yang telah terealisasi**.
Berikut 12 proyek yang ditawarkan:
1. Pabrik crumb rubber — Kutai Barat
Proyek pabrik karet remah senilai US$3,64 juta tersebut dirancang memiliki kapasitas produksi 10.000 ton per tahun. Fasilitas ini diarahkan untuk mengolah karet dari Kutai Barat sehingga bahan baku tidak seluruhnya dikirim ke Kalimantan Selatan. Skema yang tercantum dalam dokumen promosi adalah kerja sama pemerintah dengan badan usaha (KPBU).
2. Pabrik pupuk NPK — Bontang
Pabrik pupuk NPK berbasis nitrat di kawasan Kaltim Industrial Estate (KIE), Bontang, ditawarkan dengan nilai sekitar US$52,5 juta. Kapasitas produksinya direncanakan mencapai 100.000 ton per tahun dengan amonium nitrat sebagai bahan baku. Proyek membutuhkan lahan sekitar 4 hektare.
3. Industri oleofood — KEK MBTK
Industri pangan berbasis turunan kelapa sawit di Kawasan Ekonomi Khusus Maloy Batuta Trans Kalimantan (KEK MBTK), Kutai Timur, ditawarkan senilai US$190,63 juta. Produk yang direncanakan meliputi minyak goreng, margarin dan shortening dengan kebutuhan lahan sekitar 8 hektare.
4. Industri oleokimia — KEK MBTK
Proyek senilai US$537,5 juta ini diarahkan untuk menghasilkan produk kimia turunan kelapa sawit. Lokasinya berada di KEK MBTK dengan kebutuhan lahan sekitar 21 hektare. Dokumen promosi mencantumkan proyeksi internal rate of return (IRR) 13,56 persen.
5. Industri hilir karet — KEK MBTK
Kaltim menawarkan proyek pengembangan industri hilir karet senilai US$298,75 juta. Salah satu produk yang diarahkan untuk dikembangkan adalah ban. Proyek tersebut membutuhkan lahan sekitar 40 hektare.
6. Industri turunan kakao — KEK MBTK
Proyek pengolahan biji kakao menjadi produk bernilai tambah di Kutai Timur ditawarkan dengan nilai sekitar US$13,12 juta dan membutuhkan lahan sekitar 4 hektare.
Menurut Riawati, proyek kakao tersebut bersama tiga proyek industri lainnya di KEK MBTK disusun Pemerintah Kabupaten Kutai Timur bersama Sucofindo.
7. Depo kontainer — Balikpapan
Depo kontainer di Balikpapan ditawarkan dengan nilai investasi sekitar US$19,59 juta. Fasilitas tersebut dirancang untuk memindahkan muatan dari kontainer berukuran besar sebelum distribusi ke dalam kota dilakukan menggunakan kendaraan yang lebih kecil.
Dokumen IPRO mencantumkan lahan milik Pemerintah Kota Balikpapan seluas **114.415 meter persegi** dengan skema KPBU.
8. SPAM Sepaku Semoi
Proyek Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Sepaku Semoi ditawarkan dengan nilai sekitar US$125 juta. Proyek ini ditujukan untuk menambah pasokan air ke Balikpapan sekaligus mendukung kebutuhan kawasan Ibu Kota Nusantara.
Rencana pengembangan mencakup jaringan pipa dan instalasi pengolahan air dengan tambahan kapasitas antara 500 hingga 1.000 liter per detik.
9. Peternakan sapi potong terpadu — PPU
Proyek peternakan sapi potong terpadu di Penajam Paser Utara ditawarkan sekitar US$9,19 juta. Pengembangannya meliputi penggemukan sapi serta budidaya hijauan pakan ternak. Proyek dengan kebutuhan lahan sekitar 40 hektare tersebut diarahkan untuk memenuhi kebutuhan daging sapi di Kalimantan Timur dan kawasan IKN.
10. Hotel dan resor — PPU
Pembangunan hotel dan resor di Penajam Paser Utara ditawarkan senilai sekitar **US$11,87 juta**. Fasilitas yang direncanakan meliputi hotel, ballroom, kafe, restoran dan sarana rekreasi di atas lahan sekitar 6 hektare.
11. Pengembangan KEK MBTK — Kutai Timur
Pengembangan kawasan KEK MBTK menjadi proyek dengan nilai penawaran terbesar, yakni sekitar US$2,39 miliar. Proyek ini berbeda dari empat proyek industri yang juga ditawarkan di dalam kawasan tersebut. Kawasan seluas sekitar 509 hektare diarahkan untuk pengembangan industri turunan kelapa sawit, pengolahan kayu dan kegiatan logistik. Investor juga dapat berpartisipasi melalui skema pengelolaan kawasan.
12. Pengembangan KIE — Bontang
Pengembangan Kaltim Industrial Estate (KIE) di Bontang ditawarkan senilai sekitar US$234 juta. Kawasan industri seluas sekitar 202 hektare tersebut telah dilengkapi sejumlah fasilitas pendukung, termasuk dermaga, pasokan listrik, pengolahan limbah dan utilitas industri.
Penawaran pengembangan kawasan ini terpisah dari proyek pabrik pupuk NPK yang juga direncanakan berlokasi di KIE.
Pemasaran Melalui Mahakam Investment Forum
Untuk mempertemukan proyek dengan calon investor, DPMPTSP Kaltim bekerja sama dengan Bank Indonesia melalui Mahakam Investment Forum. Menurut Riawati, BI membantu melakukan penjajakan calon investor sekaligus mempertemukan mereka dengan proyek yang sesuai. Forum tersebut juga menjadi sarana bagi perwakilan kedutaan untuk melihat peluang investasi di Kalimantan Timur.
“Jadi, penawarannya tidak berhenti pada daftar proyek saja,” katanya.
Meski telah berstatus siap tawar, proyek-proyek tersebut belum berarti telah mendapatkan investor maupun memasuki tahap konstruksi. Pemerintah daerah menyiapkan dokumen IPRO dan perhitungan bisnis awal, sementara calon investor tetap melakukan kajian kelayakan berdasarkan parameter bisnis mereka.
“Kita menyiapkan hitungan dasarnya, tetapi investor pasti akan menghitung lagi apakah proyek itu layak dan menguntungkan bagi mereka,” ujarnya.
Menurut Riawati, ketersediaan infrastruktur dan struktur biaya produksi masih menjadi pertimbangan penting bagi investor. Kedekatan dengan sumber bahan baku menjadi salah satu keunggulan Kaltim, tetapi calon investor juga akan membandingkan biaya logistik, tenaga kerja dan fasilitas produksi dengan daerah lain, terutama di Pulau Jawa.
“Namun, kalau infrastruktur dan biaya produksinya lebih mahal, investor tetap akan melihat efisiensi usahanya,” tuturnya.
Dengan nilai indikatif yang mencapai US$3,8 miliar, daftar IPRO tersebut menjadi salah satu instrumen pemerintah daerah untuk menawarkan proyek bernilai tambah sekaligus mendorong diversifikasi ekonomi Kalimantan Timur. (*)









Users Today : 1735
Total Users : 1507653
Views Today : 3339
Total views : 6934589