InfoBenua.Com
  • Home
  • Redaksi
  • INFO PRODUK
  • Blog
  • Infografis
  • Video
  • KODE ETIK PERUSAHAAN PERS
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
No Result
View All Result
InfoBenua.Com
  • Home
  • Redaksi
  • INFO PRODUK
  • Blog
  • Infografis
  • Video
  • KODE ETIK PERUSAHAAN PERS
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
No Result
View All Result
No Result
View All Result

Keberatan Warga Muncul, Proyek Sodetan Loa Janan Ditunda Sementara

by Eka Mandiri
Selasa, 29 September 2026, 16:23
in Berita, Kaltim, Samarinda
Bagikan

Ket Foto: Wali Kota Samarinda, Andi Harun.

Infobenua.com Samarinda — Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda memutuskan menangguhkan sementara pekerjaan fisik proyek sodetan di kawasan Loa Janan Ilir. Penghentian sementara ini dilakukan setelah muncul keberatan dari warga Desa Loa Janan Ulu, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar).

Wali Kota Samarinda, Andi Harun, mengatakan masa penundaan akan dimanfaatkan untuk memperkuat komunikasi dengan masyarakat serta pemerintah di wilayah yang terdampak rencana pembangunan.

Menurutnya, persoalan yang berkembang lebih berkaitan dengan komunikasi dan penyampaian informasi dibandingkan dengan tujuan teknis proyek dalam menangani banjir.

“Yang menjadi persoalan saat ini bukan konsep penanganan banjirnya, tetapi komunikasi yang masih perlu diperbaiki,” ujar Andi Harun, Selasa (29/9/2026).

Ia menyebut perkembangan persoalan tersebut telah dilaporkan kepadanya melalui sejumlah unsur pemerintah, di antaranya Dinas Pekerjaan Umum, pihak kecamatan dan kelurahan, serta Tim Wali Kota untuk Akselerasi Pembangunan (TWAP).

Andi Harun menjelaskan, rencana pembangunan sodetan di Loa Janan Ilir bukan keputusan yang baru muncul setelah kawasan tersebut dilanda banjir. Program itu bermula dari aspirasi warga, terutama masyarakat di sekitar Perumahan Haji Saleh, yang menginginkan adanya solusi terhadap genangan yang berulang.

Pemkot Samarinda kemudian melakukan kajian terhadap kondisi aliran air di kawasan tersebut. Hasil kajian menunjukkan adanya backwater atau aliran balik dari arah Waduk Barito menuju kawasan Tani Aman hingga Loa Janan Ilir.

Selain aliran balik, kapasitas saluran air di sisi Jalan Poros Samarinda-Balikpapan juga dinilai menjadi persoalan karena terdapat penyempitan atau bottleneck yang menghambat aliran.

“Jadi ada dua kondisi yang perlu ditangani, yakni aliran balik dari Waduk Barito dan kapasitas saluran yang terbatas karena adanya penyempitan,” jelasnya.

Atas kondisi tersebut, sodetan dirancang sebagai bagian dari rekayasa sistem aliran air. Infrastruktur tersebut diharapkan dapat membantu mengurangi tekanan pada saluran yang selama ini menerima limpasan air dan memicu genangan di Loa Janan Ilir.

Andi Harun menyebut Pemkot Samarinda sebelumnya juga memiliki pengalaman pembangunan sodetan di kawasan Jalan Rel, Samarinda Seberang. Menurut dia, keberadaan sodetan di lokasi tersebut turut membantu mengurangi genangan.

Namun, kondisi di Loa Janan memiliki persoalan tambahan karena jalur rencana pembangunan berhubungan dengan kawasan yang secara administratif masuk Desa Loa Janan Ulu, Kukar.

Keberatan dari warga Kukar salah satunya berkaitan dengan kekhawatiran terhadap kemungkinan bertambahnya debit atau beban aliran air setelah sodetan beroperasi. Pemkot Samarinda menilai kekhawatiran tersebut perlu dijawab melalui penjelasan teknis yang dapat dipahami masyarakat.

Andi Harun menyebut lahan yang berada di sekitar jalur rencana sodetan juga telah dibebaskan oleh Pemkot Samarinda. Meski demikian, pemerintah memilih tidak langsung melanjutkan pekerjaan fisik sebelum komunikasi dengan pihak-pihak terkait diperkuat.

Komunikasi lintas daerah pun menjadi bagian penting dalam penyelesaian persoalan tersebut. Terlebih, rencana pembangunan berkaitan dengan wilayah administratif Kukar.

Andi Harun mengatakan komunikasi secara informal dengan Bupati Kukar Aulia Rahman telah dilakukan. Namun, ia menilai penyelesaian persoalan tidak cukup hanya melalui komunikasi antarpimpinan daerah.

Ia meminta perangkat pemerintahan di tingkat bawah ikut berkoordinasi, mulai dari camat dan lurah di Samarinda hingga pemerintah kecamatan dan desa di wilayah Kukar. Tokoh masyarakat dari kedua wilayah juga diharapkan terlibat dalam pembahasan.

Langkah itu dinilai penting agar tidak terjadi perbedaan informasi mengenai tujuan, desain, maupun mekanisme pembangunan sodetan.

“Program ini sejak awal berasal dari kebutuhan warga Loa Janan Ilir, khususnya masyarakat di kawasan kilo 3 yang menghadapi persoalan banjir,” kata Andi Harun.

Ia menambahkan, penanganan banjir di kawasan tersebut sebelumnya telah masuk dalam perencanaan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur. Namun, ketika dukungan anggaran yang direncanakan tidak tersedia, Pemkot Samarinda mengambil alih pembiayaan melalui APBD.

Andi Harun mengatakan keputusan tersebut diambil agar upaya penanganan banjir tidak berhenti akibat persoalan pendanaan.

“Karena anggaran yang sebelumnya disiapkan tidak tersedia, kami mengambil tanggung jawab untuk melanjutkan program ini dengan pembiayaan dari APBD,” ujarnya.

Di tengah munculnya keberatan warga, pekerjaan fisik akan dihentikan sementara selama kurang lebih satu hingga dua pekan. Waktu tersebut akan digunakan untuk membuka ruang dialog dan menyamakan pemahaman dengan masyarakat serta pemerintah Kukar.

Andi Harun menyebut langkah tersebut sebagai masa cooling down agar persoalan tidak berkembang menjadi ketegangan antara dua wilayah.

“Untuk sekarang lebih baik kita cooling down sekitar satu sampai dua minggu. Komunikasi perlu diperkuat terlebih dahulu sebelum pekerjaan kembali berjalan,” tuturnya.

Meski ditunda, Andi Harun memastikan proyek sodetan belum dihentikan secara permanen. Kontrak pekerjaan masih berjalan hingga sekitar pertengahan Desember sehingga waktu yang tersedia akan dimanfaatkan untuk menyelesaikan persoalan komunikasi dan koordinasi.

Ia juga mendorong warga Loa Janan Ilir yang sejak awal mengusulkan penanganan banjir ikut membantu menjalin komunikasi dengan masyarakat Loa Janan Ulu.

Menurutnya, persoalan pembangunan tidak seharusnya memperlebar jarak hubungan antara Samarinda dan Kukar. Kedua wilayah selama ini memiliki keterkaitan dalam berbagai aktivitas dan pelayanan masyarakat.

Salah satu contohnya adalah pelayanan air bersih di kawasan Loa Janan yang juga berkaitan dengan layanan PDAM Kukar.

Karena itu, Andi Harun meminta seluruh pihak mengedepankan kepentingan masyarakat dalam mencari penyelesaian. Ia menegaskan, tujuan utama rencana sodetan tetap untuk menangani persoalan banjir yang selama ini dikeluhkan masyarakat Loa Janan Ilir.

“Pada akhirnya yang perlu kita temukan adalah titik temu yang bisa diterima bersama,” pungkasnya.

Penulis Nisa

Views Count: 2

Infobenua.com TVChannel

Statistik Pengunjung

1504345
Users Today : 1888
Total Users : 1504345
Views Today : 4614
Total views : 6927964
  • Home
  • Redaksi
  • INFO PRODUK
  • Blog
  • Infografis
  • Video
  • KODE ETIK PERUSAHAAN PERS
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami

Copyright © 2017-2025 InfoBenua.com