FOTO : Kepala Bidang Penaatan dan Peningkatan Kapasitas Lingkungan Hidup Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kutim, Nurrahmi Asmalia.
Infobenua.com, KUTIM – Sebanyak 30 sekolah di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mengikuti program Adiwiyata pada 2026. Dari jumlah tersebut, lima sekolah yang diusulkan menjadi Sekolah Adiwiya Mandiri dan sebelas Sekolah diusulkan menjadi Sekolah Adiwiyata Nasional telah menjalani proses verifikasi dan kini masih menunggu hasil penilaian dari kementerian.
Kepala Bidang Penaatan dan Peningkatan Kapasitas Lingkungan Hidup Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kutim, Nurrahmi Asmalia, mengatakan program Adiwiyata menjadi salah satu bentuk pembinaan sekolah untuk membangun budaya peduli dan berwawasan lingkungan.
“Tahun 2026 ada 14 sekolah diusulkan sebagai Sekolah Adiwiyata tingkat kabupaten. Kemudian untuk tingkat nasional ada Lima sekolah sebagai Calon Sekolah Adiwiyata Mandiri dan Sebelas Sekolah sebagai Calon Sekolah Adiwiyata Nasional,” kata Nurrahmi, Senin (21/9/26).
Dari 17 sekolah yang diusulkan yang lolos memenuhi syarat 11 di antaranya telah terverifikasi memenuhi syarat untuk mengikuti penilaian tingkat nasional. Sementara hasil penilaian dari kementerian masih ditunggu.
Pembinaan dalam program Adiwiyata mencakup sejumlah aspek lingkungan yang diterapkan dalam kehidupan sekolah. Mulai dari pengelolaan sampah, tanggung jawab terhadap kebersihan lingkungan, perlindungan keanekaragaman hayati, hingga penerapan mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim.
Nurrahmi menjelaskan penilaian Adiwiyata dilakukan berdasarkan standar dan rentang nilai yang telah ditentukan untuk masing-masing tingkatan. Proses penilaian juga dilakukan secara terpusat menggunakan aplikasi.
Sistem penilaian tersebut mengikuti pembagian kewenangan yang berlaku. Jika sebelumnya tahapan penilaian berjalan dari kabupaten, kemudian provinsi hingga nasional, kini pembagiannya disesuaikan dengan kewenangan masing-masing tingkatan pemerintahan.
“Sekarang sudah terbagi berdasarkan kewenangan. Jadi dari daerah bisa melalui tingkat kabupaten dan kemudian bila nilainya mencukupi bisa langsung ke tingkat nasional,” jelasnya.
Program Adiwiyata tidak hanya mendorong sekolah menjaga kebersihan, tetapi juga membangun kebiasaan pengelolaan lingkungan dalam aktivitas pendidikan. Sekolah dibina agar mampu mengintegrasikan kepedulian lingkungan ke dalam berbagai kegiatan di lingkungan sekolah.
Nurrahmi mengatakan keterlibatan sekolah dalam program tersebut diharapkan terus berkembang sehingga budaya menjaga lingkungan tidak berhenti pada kegiatan tertentu, tetapi menjadi bagian dari keseharian warga sekolah.
“Melalui pembinaan tersebut, DLH Kutim terus mendorong sekolah mengembangkan lingkungan pendidikan yang bersih, sehat, serta memiliki kepedulian terhadap keberlanjutan lingkungan,” tandasnya.(adv/Kutim/Dita)


















Users Today : 1872
Total Users : 1491535
Views Today : 3355
Total views : 6900125