Ket Foto: Kepala Dinkes Kaltim Jaya Mualimin menyampaikan dorongan pengadaan generator oksigen untuk memperkuat ketersediaan oksigen di fasilitas kesehatan.
Infobenua.com Samarinda – Ketersediaan oksigen medis di fasilitas kesehatan menjadi perhatian Dinas Kesehatan Kalimantan Timur (Dinkes Kaltim), terutama bagi puskesmas yang berada jauh dari lokasi pengisian oksigen.
Untuk memperkuat akses tersebut, Dinkes Kaltim mendorong pemerintah kabupaten dan kota mempertimbangkan pengadaan generator oksigen di sejumlah puskesmas yang memiliki keterbatasan akses terhadap pasokan.
Kepala Dinkes Kaltim Jaya Mualimin mengatakan generator dapat menjadi sumber oksigen yang lebih dekat bagi puskesmas. Selain memenuhi kebutuhan sendiri, fasilitas tersebut juga berpotensi dimanfaatkan untuk pengisian ulang oksigen bagi fasilitas kesehatan lain di wilayah sekitarnya.
“Untuk puskesmas yang lokasinya cukup jauh dari fasilitas pengisian, kami sudah mengusulkan kepada pemerintah kabupaten dan kota agar bisa menyediakan generator oksigen di beberapa titik,” kata Jaya pada Senin (14/9/2026).
Menurutnya, kebutuhan oksigen selama ini masih dapat dipenuhi melalui kerja sama dengan pihak ketiga, termasuk menggunakan oksigen cair. Namun, pola tersebut membutuhkan dukungan penyedia dan fasilitas pengisian yang memadai.
“Kalau menggunakan oksigen cair dari pihak ketiga, tentu harus ada kerja sama dan stasiun pengisian. Karena itu, generator sendiri bisa menjadi alternatif yang lebih praktis,” ujarnya.
Keberadaan generator memungkinkan puskesmas memiliki sumber oksigen sendiri ketika persediaan tabung mulai berkurang. Jika kapasitas produksi mencukupi, fasilitas tersebut dapat dikembangkan menjadi titik pengisian bagi puskesmas atau fasilitas kesehatan lain di sekitarnya.
“Kalau generatornya tersedia, manfaatnya bukan hanya untuk kebutuhan puskesmas sendiri. Fasilitas itu juga bisa menjadi tempat refill bagi fasilitas kesehatan lain yang membutuhkan,” tuturnya.
Jaya juga meminta fasilitas kesehatan yang telah memiliki generator tidak membatasi akses pengisian bagi fasilitas lain. Menurutnya, pemanfaatan generator untuk membantu kebutuhan oksigen fasilitas kesehatan sekitar merupakan bagian dari pelayanan.
“Jangan sampai fasilitas yang membutuhkan refill justru dibatasi. Kalau memang tersedia, itu juga bagian dari pelayanan yang bisa diberikan,” tegasnya.
Dorongan tersebut muncul di tengah kondisi kualitas udara di sejumlah wilayah Kaltim yang sempat memburuk akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Dinkes Kaltim sebelumnya telah menyiagakan Rumah Oksigen di 20 puskesmas yang tersebar di 10 kabupaten/kota. Fasilitas tersebut dilengkapi oksigen portabel dan perlengkapan pendukung pernapasan untuk mengantisipasi dampak kualitas udara terhadap masyarakat.
Namun, Jaya menjelaskan generator oksigen memiliki fungsi berbeda dengan oksigen konsentrat portabel yang telah disiapkan.
Oksigen konsentrat berukuran kecil lebih ditujukan sebagai perangkat yang mudah dipindahkan dan digunakan ketika masyarakat membutuhkan bantuan pernapasan. Sementara generator lebih diarahkan sebagai sumber produksi oksigen bagi fasilitas kesehatan secara berkelanjutan.
Untuk kondisi saat ini, Jaya menilai kebutuhan oksigen di Kaltim belum berada dalam situasi darurat secara menyeluruh. Menurutnya, kebutuhan tersebut akan meningkat apabila kualitas udara masuk kategori berbahaya dan bertahan dalam waktu panjang.
Ia mencontohkan Kutai Barat yang sempat mencatat ISPU di atas 300 atau masuk kategori berbahaya. Namun, angka tersebut kemudian turun hingga sekitar 200 dan masih berubah mengikuti kondisi cuaca serta sumber polusi.
“Kalau kondisinya masih tidak sehat, belum bisa dikatakan darurat. Kondisinya akan berbeda kalau sudah masuk kategori berbahaya dan berlangsung selama berbulan-bulan,” jelasnya.
Penurunan kualitas udara juga sempat terjadi di sejumlah daerah lain. Berau, misalnya, sebelumnya mencatat ISPU cukup tinggi dan kemudian mengalami penurunan, meski kondisi udara belum sepenuhnya kembali ke kategori sehat.
Jaya mengatakan perubahan kualitas udara sangat dipengaruhi oleh kondisi cuaca. Hujan menjadi salah satu faktor yang membantu membersihkan partikel polutan dari udara. Sebaliknya, ketika hujan belum turun, asap dan polutan cenderung lebih lama bertahan.
Pemantauan kualitas udara dilakukan melalui stasiun pemantauan yang tersebar di sejumlah wilayah. Perkembangan indeks kualitas udara juga dapat dipantau masyarakat secara real time.
Karena itu, menurut Jaya, pengadaan generator oksigen tetap perlu dipertimbangkan sebagai bagian dari penguatan layanan kesehatan, terutama di wilayah yang memiliki jarak jauh dari fasilitas pengisian.
Fasilitas tersebut diharapkan tidak hanya berguna saat kualitas udara memburuk, tetapi juga dapat menjadi sumber pasokan oksigen yang lebih dekat dan membantu fasilitas kesehatan lain ketika membutuhkan pengisian ulang.
“Kalau hujan belum turun, kabut asap akan lebih sulit hilang dan partikel polutan bisa bertahan di udara. Kondisi itu kemudian dapat membuat indikator kualitas udara kembali meningkat,” pungkas Jaya.
Penulis Nisnun Editor Eka Mandrii



















Users Today : 537
Total Users : 1482453
Views Today : 1003
Total views : 6882384