Infobenua.com, Washington — Utusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk Timur Tengah, Jared Kushner, mengatakan komunikasi antara Washington dan sejumlah pihak di pemerintahan Iran kini berlangsung lebih intensif. Namun, setelah pertemuan maraton dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Senin (17/8), Kushner mengakui belum ada kesepakatan untuk mengakhiri perang.
Pernyataan tersebut disampaikan Kushner kepada Fox News setelah menjalani serangkaian pertemuan di kawasan Timur Tengah. Sehari sebelumnya, ia juga bertemu dengan perwakilan Hamas dalam upaya membahas kerangka kesepakatan yang memungkinkan rekonstruksi Gaza sebagai bagian dari rencana perdamaian yang lebih luas.
Kushner mengatakan pembicaraan dengan pihak Iran kini berlangsung pada tingkat yang lebih intens dibanding sebelumnya. Meski demikian, ia belum memberikan indikasi bahwa kedua pihak telah mencapai titik temu mengenai penyelesaian konflik.
Perkembangan tersebut berlangsung ketika Trump dilaporkan mengatakan kepada wartawan di Ruang Oval bahwa pemerintahannya tidak bermaksud memperpanjang Nota Kesepahaman dengan Iran yang selama ini menjadi salah satu landasan hubungan diplomatik kedua negara.
Iran Siapkan Perubahan Strategi
Di Teheran, seorang pejabat senior Iran yang dikutip Reuters pada Senin (17/8) mengatakan negaranya akan mengubah strategi pertahanan menjadi pendekatan yang “sepenuhnya ofensif” apabila jalur diplomasi gagal menghasilkan kesepakatan.
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Iran mengumumkan bahwa Teheran dan Oman sedang berupaya menyelesaikan pernyataan bersama mengenai pengaturan lalu lintas kapal di Selat Hormuz.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei mengatakan kedua negara telah mencapai pemahaman mengenai rute transit kapal.
“Telah tercapai kesepahaman mengenai peta rute transit,” kata Baghaei.
Ia mengakui pembahasan dengan Oman berlangsung lambat. Namun, Teheran masih berupaya menyelesaikan kesepakatan tersebut sebagai satu paket yang mencakup peta jalur pelayaran dan pernyataan bersama.
“Kami telah merencanakan, dan masih berencana, untuk merampungkan kesepahaman tersebut dalam bentuk satu paket: peta ditambah pernyataan bersama,” katanya kepada wartawan di Teheran.
Rincian teknis pengaturan tersebut belum disampaikan Baghaei. Namun, rancangan sebelumnya menyebut kapal akan memasuki jalur strategis tersebut melalui rute yang lebih dekat dengan Iran dan keluar melalui jalur yang lebih dekat dengan Oman. Kapal juga diperkirakan tidak dikenai biaya atau tol.
Washington Masih Persoalkan Hormuz
Perkembangan diplomasi Iran-Oman terjadi setelah periode negosiasi selama 60 hari antara Washington dan Teheran berakhir tanpa kesepakatan baru mengenai perjanjian damai permanen.
Amerika Serikat sebelumnya berupaya mendapatkan pengaturan yang dianggap memadai untuk membuka kembali Selat Hormuz sebelum mengakhiri blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Hingga kini belum jelas apakah kesepakatan yang sedang dirancang Iran dan Oman dapat memenuhi tuntutan Washington.
Trump bahkan mengancam Oman apabila pembicaraan negara tersebut dengan Iran dianggap menghambat upaya AS mencapai kesepakatan mengenai selat tersebut.
“Jika Oman menghalangi, kami akan membombardir mereka habis-habisan,” kata Trump kepada Fox News.
Iran dan Oman telah melakukan pembicaraan selama beberapa pekan mengenai mekanisme navigasi kapal di Selat Hormuz. Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan kedua negara sedang menyusun deklarasi bersama mengenai pengaturan tersebut.
Trump, di sisi lain, berulang kali mengklaim bahwa Selat Hormuz berada di bawah kendali AS meskipun aktivitas pelayaran di kawasan itu masih terbatas. Selat tersebut secara efektif ditutup oleh Teheran setelah perang di Timur Tengah pecah pada 28 Februari.
Pada Jumat lalu, Trump bahkan dilaporkan menyatakan akan mendeklarasikan Selat Hormuz sebagai bagian dari wilayah Amerika Serikat.
Trump Klaim Ada Saluran Rahasia dengan IRGC
Trump juga mengatakan pemerintahannya memiliki jalur komunikasi rahasia secara langsung dengan Korps Pengawal Revolusi Islam Iran (IRGC).
Menurut Trump, pihak Iran tetap memiliki kemampuan bernegosiasi, tetapi kondisi negara tersebut semakin tertekan akibat perang.
“Mereka adalah ‘pemain poker’ yang hebat, tetapi mereka sedang sekarat,” katanya seperti dikutip.
Trump sekaligus kembali mendesak Iran untuk menyerah.
“Mengibarkan bendera putih dan menyerah.”
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa jalur diplomasi Washington-Teheran masih berjalan di tengah tekanan militer dan ekonomi. Namun, belum ada kepastian apakah komunikasi yang disebut semakin intensif itu akan menghasilkan kesepakatan sebelum kebuntuan mengenai Selat Hormuz dan perang yang lebih luas kembali meningkat. (*)



















Users Today : 1015
Total Users : 1431597
Views Today : 3891
Total views : 6756173