Teks foto: Anggota Komisi IV DPRD Samarinda, Anhar,
Infobenua.com.Samarinda — DPRD Kota Samarinda meminta rumah sakit memperbaiki pola komunikasi dengan pasien dan keluarga, terutama ketika ruang perawatan sedang penuh. Rumah sakit dinilai harus memberikan kepastian informasi agar pasien tidak menunggu tanpa kejelasan terkait kondisi kamar maupun waktu pelayanan.
Anggota Komisi IV DPRD Samarinda, Anhar, mengatakan keterbatasan kapasitas tempat tidur memang menjadi persoalan yang harus dihadapi rumah sakit. Namun kondisi tersebut tidak boleh membuat pasien dan keluarga kehilangan informasi mengenai penanganan yang sedang dilakukan.
Menurutnya, petugas rumah sakit harus menjelaskan secara terbuka apabila pasien masih harus menunggu, termasuk perkiraan waktu mendapatkan ruang perawatan.
“Harusnya diberi penjelasan, misalnya kemungkinan nunggunya berapa lama. Pihak rumah sakit menjelaskan dulu kondisi sebenarnya,” ujar Anhar (15/8/2026).
Ia menilai komunikasi menjadi bagian penting dalam pelayanan kesehatan. Sebab, pasien yang datang ke rumah sakit umumnya membutuhkan penanganan segera, sementara keluarga juga membutuhkan kepastian untuk menentukan langkah selanjutnya.
Anhar menyampaikan hal tersebut menyusul adanya informasi yang beredar terkait seorang pasien yang disebut harus menunggu sekitar delapan jam untuk mendapatkan ruang perawatan sebelum akhirnya meninggal dunia.
Meski belum mengetahui secara rinci penyebab kejadian tersebut, Anhar menilai persoalan pelayanan itu tetap harus menjadi evaluasi bagi fasilitas kesehatan.
“Jangan sampai orang didiamkan berjam-jam tanpa ada kejelasan. Masyarakat akhirnya bingung harus melapor ke mana,” katanya.
Menurut dia, rumah sakit perlu memiliki mekanisme pelayanan yang jelas ketika kapasitas ruang rawat tidak tersedia. Informasi mengenai kondisi kamar, lama waktu tunggu, hingga alternatif pelayanan lain harus disampaikan kepada pasien maupun keluarga.
“Kalau memang ruangnya penuh, sampaikan penuh. Kalau masih harus menunggu, berikan perkiraan waktunya,” tegasnya.
Anhar berharap Pemerintah Kota Samarinda ikut melakukan evaluasi terhadap sistem pelayanan kesehatan, bukan hanya dari sisi jumlah tempat tidur, tetapi juga kualitas komunikasi antara tenaga medis dan masyarakat.
Menurutnya, keterbukaan informasi dapat mengurangi keresahan keluarga pasien ketika menghadapi situasi darurat di rumah sakit.
“Yang penting masyarakat mendapat kepastian. Jangan sampai merasa dibiarkan saat sedang membutuhkan pelayanan,” demikian Anhar.
Penulis Frida editor Eka mandiri








Users Today : 1002
Total Users : 1519968
Views Today : 2038
Total views : 6958165