Infobenua.com — Presiden FIFA Gianni Infantino melontarkan kritik keras kepada pihak-pihak yang menurutnya lebih memilih berfokus pada kontroversi dibanding menikmati jalannya Piala Dunia. Dalam pesan yang dipublikasikan melalui situs resmi FIFA, akun Instagram pribadinya, serta berbagai kanal media sosial organisasi tersebut, Infantino juga membantah berbagai tuduhan yang diarahkan kepada FIFA terkait penyelenggaraan turnamen.
Meski beberapa kali menyampaikan permintaan maaf dalam unggahan sepanjang 15 halaman itu, isi pesannya justru ditujukan kepada para pengkritik yang dinilai gagal menikmati atmosfer kompetisi.
“Kepada semua orang yang melewatkan permainan indah kita, emosi, perayaan, tawa, tangisan, kekecewaan, dan kebahagiaan. Kepada kalian semua yang melewatkan momen ketika anak-anak, bayi, kakek nenek, dan para orang tua berkumpul menikmati permainan indah ini, saya meminta maaf karena pertandingan kini telah berakhir, dan maaf karena kalian melewatkan semua kebahagiaan dan kebersamaan itu. Maaf karena kalian begitu larut dalam kebencian dan kritik sehingga melewatkan semuanya,” tulis Ingantino dalam pesan yang diunggah di situs resmi FIFA, akun Instagram pribadinya, serta kanal daring dan media sosial FIFA. Kolom komentar dinonaktifkan.
Dalam pernyataannya, Infantino menyebut penyelenggaraan Piala Dunia berlangsung aman tanpa gangguan berarti. Ia mengeklaim turnamen berhasil menghadirkan suasana damai sepanjang pelaksanaan.
Eksekutif asal Swiss itu menulis bahwa Piala Dunia menghadirkan “tidak ada kekerasan, tidak ada insiden, keamanan dan keselamatan 100%, hanya sukacita dan kebahagiaan!”
Infantino juga mengklaim FIFA berperan mempertemukan Iran dan Amerika Serikat selama turnamen berlangsung.
“Sementara kalian menyebarkan kebencian, kami bekerja tanpa lelah untuk mempersatukan dua negara yang sedang berperang. Iran memasuki Amerika Serikat tanpa insiden ataupun konflik,” tulis Infantino.
Namun, tim nasional Iran diketahui menjalani pengaturan berbeda dibanding 47 peserta lainnya. Selama turnamen, skuad tersebut ditempatkan di Meksiko dan hanya memasuki Amerika Serikat untuk menjalani pertandingan sebelum kembali meninggalkan negara itu. Pembatasan tambahan juga diberlakukan secara mendadak setelah beberapa laga.
Pelatih Iran, Amir Ghalenoei, bahkan menyebut timnya sebagai “yang paling tertindas” di Piala Dunia setelah menghadapi berbagai kendala perjalanan, termasuk penolakan visa terhadap sejumlah staf pendukung.
Isu pembatasan perjalanan juga mewarnai penyelenggaraan turnamen. Kebijakan larangan perjalanan yang diterapkan pemerintahan Presiden Donald Trump membuat sebagian suporter dari negara-negara peserta, termasuk Haiti, Senegal, Iran, dan Pantai Gading, menghadapi berbagai bentuk pembatasan hingga larangan memasuki Amerika Serikat.
Kasus serupa juga menimpa wasit asal Somalia, Omar Artan, yang ditolak masuk ke Amerika Serikat. Pemerintah AS menyatakan, tanpa bukti yang dapat diverifikasi, bahwa Artan memiliki “hubungan dengan anggota yang diduga berasal dari organisasi teroris”, meskipun ia memegang paspor diplomatik dan telah memperoleh visa resmi.
Meski demikian, Infantino menilai perhatian publik seharusnya diarahkan pada keberhasilan penyelenggaraan turnamen.
“Kalian menyebut segelintir orang yang ditolak visanya, tetapi mengabaikan jutaan orang yang visanya disetujui dari seluruh penjuru dunia. Karena sepak bola mempersatukan dunia, hal itu terbukti dengan sangat jelas pada musim panas ini,” katanya.
Di sisi lain, hubungan dekat Infantino dengan Presiden AS Donald Trump turut menjadi sorotan. Kritik menguat setelah Trump mengungkapkan bahwa dirinya sempat menghubungi Infantino untuk meminta agar hukuman kartu merah penyerang Amerika Serikat, Folarin Balogun, dibatalkan.
Menanggapi polemik tersebut, Infantino menilai keputusan kontroversial dalam pertandingan merupakan hal yang lazim dalam dunia sepak bola.
“Keputusan wasit yang dapat diperdebatkan atau putusan disiplin yang aneh, misalnya kemungkinan kesalahan pemberian kartu merah atau kartu kuning maupun keputusan berikutnya untuk tidak menjatuhkan larangan bermain kepada pemain dalam situasi tertentu, merupakan hal yang lazim dan diterima secara luas di beberapa liga terbesar di dunia,” tulis Infantino.
Namun, regulasi FIFA menyebutkan bahwa hukuman larangan bermain akibat kartu merah di Piala Dunia tidak dapat diajukan banding ataupun dibatalkan. Dalam kasus Balogun, sanksi tersebut justru dicabut.
“Menarik bahwa negara-negara yang menerapkan praktik semacam itu justru menjadi pihak yang paling keras mengkritik,” lanjut Infantino.
Pernyataan itu dipandang sebagai sindiran terhadap UEFA yang sebelumnya menyatakan FIFA telah “melewati garis merah” dalam penanganan kasus Balogun. Ketegangan antara kedua organisasi juga terlihat ketika Presiden UEFA Aleksander Ceferin tidak menghadiri laga final Piala Dunia, sebuah langkah yang secara luas ditafsirkan sebagai bentuk protes.
Beberapa saat setelah pertandingan final berakhir, Trump bahkan merekomendasikan Infantino untuk mengisi jabatan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang akan kosong pada akhir tahun. Meski demikian, Infantino diperkirakan tetap akan melanjutkan kepemimpinannya di FIFA dan berpeluang kembali terpilih tanpa pesaing dalam pemilihan presiden organisasi tersebut tahun depan.
Menutup pesannya, Infantino memuji penyelenggaraan Piala Dunia sebagai keberhasilan FIFA meski turnamen tersebut menuai kritik terkait penambahan jeda minum serta keputusan memperpanjang jeda babak pertama final yang dinilai bertentangan dengan regulasi organisasi itu sendiri.
“Kepada pena dan kertas, kepada semua layar, semoga kalian menemukan cinta dan kedamaian yang tidak ditemukan oleh orang-orang di balik kalian. Semoga kalian menemukan kedamaian; kami di FIFA telah menemukannya, dan kami mewujudkannya dengan menghadirkan Piala Dunia FIFA yang paling luar biasa. Semoga sepak bola melampaui segala bentuk kebencian.” (*)


















Users Today : 952
Total Users : 1393928
Views Today : 2095
Total views : 6687666