Infobenua.com — Amerika Serikat kembali melancarkan serangan udara terhadap Iran untuk malam kesepuluh secara berturut-turut, sementara konflik di kawasan Teluk Persia terus meluas hingga Laut Merah. Di saat yang sama, kelompok Houthi mengumumkan blokade terhadap Selat Bab el-Mandeb sebagai respons terhadap Arab Saudi.
Di tengah eskalasi tersebut, Iran dilaporkan menyerang sebuah kapal tanker minyak di Selat Hormuz pada Selasa (21/7) dini hari. Serangan itu memaksa seluruh awak meninggalkan kapal mereka.
Aksi tersebut terjadi ketika militer AS kembali menggempur sejumlah sasaran di Iran. Serangan terbaru menandai operasi militer Washington selama 10 malam berturut-turut di tengah meningkatnya ketegangan antara kedua negara yang berebut pengaruh atas jalur pelayaran strategis di kawasan.
Meski operasi militer terus berlangsung, Iran tetap mempertahankan kendalinya atas Selat Hormuz. Sebelum konflik kembali memanas, sekitar 20 persen perdagangan minyak mentah dan gas alam dunia melewati selat tersebut. Kini, aktivitas pelayaran di jalur itu sebagian besar telah terhenti.
Kesepakatan sementara yang disepakati kedua negara pada bulan lalu untuk meredakan konflik juga semakin kehilangan efektivitas. Intensitas pertempuran yang terus meningkat membuat kedua pihak mulai menargetkan berbagai infrastruktur penting yang menopang aktivitas jutaan warga di masing-masing negara.
Di tengah situasi tersebut, Menteri Dalam Negeri Iran melakukan kunjungan ke Pakistan, salah satu negara yang berupaya memediasi konflik. Namun, hingga kini belum ada kepastian mengenai peluang tercapainya kesepakatan baru yang dapat menghentikan pertempuran.
Sementara itu, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat mengeluarkan peringatan baru kepada warga negaranya terkait meningkatnya ancaman keamanan di berbagai kawasan.
“Iran dan kelompok-kelompok yang mendukungnya mungkin akan menyerang kepentingan Amerika Serikat lainnya di luar negeri, termasuk lokasi-lokasi yang terkait dengan AS dan warga Amerika di berbagai belahan dunia,” tulis Departemen Luar Negeri AS dalam peringatan terbaru kepada warga Amerika.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan bahwa operasi terbaru menargetkan pusat komando militer Iran, fasilitas maritim, lokasi peluncuran rudal dan drone, serta sistem pertahanan udara. Militer AS juga merilis rekaman serangan udara terhadap sejumlah sasaran di wilayah Iran.
“Pasukan Amerika tetap siaga dan siap meminta pertanggungjawaban Iran atas serangan yang tidak beralasan terhadap awak kapal sipil yang berupaya melintasi selat secara bebas dan terbuka,” tulis CENTCOM.
Eskalasi konflik dalam beberapa pekan terakhir turut mengguncang pasar energi global. Harga minyak mentah Brent sempat melampaui 88 dolar AS per barel, sementara harga rata-rata bensin reguler di Amerika Serikat naik menjadi sekitar 4 dolar AS per galon, menambah tekanan ekonomi menjelang pemilu sela di negara tersebut.
Namun pada Selasa (21/7), harga minyak sedikit terkoreksi setelah muncul laporan mengenai upaya mediasi antara Washington dan Teheran. Pelaku pasar mulai mempertimbangkan kemungkinan meredanya ketegangan, meskipun kedua pihak masih terus melancarkan serangan dan Houthi mengancam memperluas blokade laut terhadap Arab Saudi.
Seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters bahwa Teheran telah menerima proposal mediator mengenai gencatan senjata selama 10 hari. Usulan tersebut dimaksudkan untuk menyelamatkan kesepakatan yang ditandatangani pada 17 Juni sekaligus membuka jalan menuju perundingan damai yang lebih permanen.
Analis ING menilai peluang de-eskalasi masih terbuka apabila usulan tersebut dapat diterima kedua belah pihak.
“Ada harapan untuk meredanya ketegangan antara AS dan Iran,” tulis analis ING dalam catatan risetnya.
Menurut mereka, gencatan senjata selama 10 hari dapat menghidupkan kembali kesepakatan sementara yang dicapai pada Juni. Namun, mereka mengingatkan bahwa perbedaan mendasar antara Washington dan Teheran masih belum terselesaikan, sementara Presiden AS Donald Trump telah mengancam akan melakukan pembalasan setelah sejumlah tentara Amerika tewas.
Seiring munculnya harapan diplomatik tersebut, harga minyak Brent ditutup turun 78 sen atau sekitar 0,9 persen menjadi 88,44 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga melemah 73 sen atau 0,9 persen menjadi 82,50 dolar AS per barel. (*)


















Users Today : 1596
Total Users : 1383478
Views Today : 3450
Total views : 6662938