Teheran, Tebarberita.id – Seruan pembalasan atas wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei semakin menguat di ruang publik Iran. Sejumlah pejabat tinggi, anggota parlemen, media pemerintah, hingga pemimpin tertinggi yang baru menyampaikan pernyataan bernada keras yang dinilai bertujuan memperkuat dukungan domestik sekaligus mengirim sinyal kepada pihak luar.
Sejak prosesi pemakaman Khamenei, narasi mengenai pembalasan terus mengemuka dalam berbagai pernyataan resmi maupun pemberitaan media yang berafiliasi dengan pemerintah.
Berdasarkan dokumentasi yang dipublikasikan media Iran, sidang tatap muka pertama parlemen sejak pecahnya perang pada 14 Juli diwarnai aksi anggota parlemen yang mengibarkan bendera merah bertuliskan seruan balas dendam. Lebih dari 180 dari total 290 anggota parlemen dilaporkan mendukung tuntutan tersebut.
Narasi serupa juga disuarakan media yang dekat dengan pemerintah. Pada Sabtu (11/7), surat kabar konservatif Hamshahri menerbitkan daftar berjudul “Pembalasan Tak Terelakkan” yang memuat 13 nama politisi dan pejabat militer Barat, termasuk menteri luar negeri, menteri pertahanan, Komandan Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM), hingga Kanselir Jerman Friedrich Merz.
Pakar hukum dan peneliti hak asasi manusia Moein Khazaeli menilai ancaman tersebut tidak dapat dipandang sekadar sebagai retorika politik.
“Ancaman-ancaman ini tidak bisa begitu saja dianggap sebagai retorika politik,” kata pakar hukum sekaligus peneliti hak asasi manusia, Moein Khazaeli, kepada DW.
“Namun, pada saat yang sama, penting untuk membedakan antara kemampuan, niat, dan kemungkinan nyata untuk melaksanakan ancaman tersebut,” lanjutnya.
Menurut Khazaeli, retorika yang disampaikan pemerintah Iran memiliki beberapa tujuan, di antaranya sebagai bagian dari perang psikologis dan strategi penangkalan. Melalui narasi tersebut, pemerintah berupaya mempertahankan citra kekuatan militer dan aparat keamanan di tengah tekanan yang dihadapi.
Ia juga menilai pemerintah Iran berusaha menunjukkan bahwa negara itu masih memiliki kemampuan menggunakan metode terorisme apabila tekanan internasional terus meningkat. Menurutnya, ancaman tersebut tidak dapat diabaikan mengingat rekam jejak operasi Iran di luar negeri.
Surat kabar Hamshahri, yang dimiliki Pemerintah Kota Teheran, dikenal memiliki kedekatan dengan kelompok konservatif dan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Media tersebut juga secara konsisten menolak perundingan dengan Amerika Serikat.
Aktivis politik Iran, Reza Alijani, menilai rangkaian upacara berkabung bagi Ali Khamenei juga mengandung pesan politik.
Menurutnya, kepemimpinan Iran memanfaatkan momentum tersebut untuk memperlihatkan dukungan terhadap rezim, mengalihkan perhatian dari kemunduran militer, serta memperkuat legitimasi kelanjutan konflik dengan mengusung narasi pembalasan.
Pesan serupa kembali ditegaskan oleh pemimpin tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, setelah berakhirnya masa berkabung selama sepekan. Dalam pernyataan yang dikeluarkan atas namanya, ia menyatakan akan melanjutkan perjuangan pendahulunya.
“Kami bersumpah akan membalas darah sucimu dan darah seluruh syuhada dalam dua perang ini terhadap para pembunuh yang kriminal dan tidak terhormat,” tulis pernyataan tersebut.
Khazaeli mengatakan sasaran utama retorika tersebut adalah para pendukung pemerintah sendiri.
“Selama bertahun-tahun, Republik Islam Iran selalu merespons kekalahan militer atau kegagalan di bidang keamanan dengan meningkatkan ancaman. Tujuannya adalah menciptakan kesan bahwa rezim tetap bertekad dan mampu melakukan pembalasan,” ujarnya. “Bagi sebagian basis pendukungnya, narasi ini masih dipercaya dan terus diperkuat melalui propaganda negara.”
Menurut Khazaeli, pesan tersebut juga ditujukan kepada komunitas internasional, termasuk pemerintah negara-negara Barat serta kelompok oposisi Iran yang tinggal di luar negeri, seperti jurnalis, aktivis politik, pegiat hak asasi manusia, dan kalangan pengasingan politik.
Retorika tersebut juga tercermin dalam respons media pemerintah Iran terhadap kabar meninggalnya Senator Partai Republik Amerika Serikat, Lindsey Graham. Sejumlah media pemerintah dan kanal Telegram yang mendukung pemerintah menyambut kabar tersebut dengan nada positif, bahkan sebagian menyampaikan ucapan selamat.
Graham selama ini dikenal sebagai salah satu politikus Amerika Serikat yang secara terbuka mendukung kebijakan “tekanan maksimum” terhadap Iran dan berulang kali menyerukan tindakan militer terhadap Republik Islam tersebut. (*)



















Users Today : 1129
Total Users : 1376229
Views Today : 3084
Total views : 6646539