Tebarberita.id – Amerika Serikat memperluas operasi militernya terhadap Iran dengan melancarkan serangan hingga ke wilayah utara negara itu, termasuk kawasan di sekitar Teheran. Di tengah meningkatnya eskalasi konflik, Iran mengancam akan menghancurkan “semua infrastruktur di kawasan” serta mempertahankan kendalinya atas Selat Hormuz.
Serangan yang dilakukan Amerika Serikat pada Kamis (16/7) dini hari juga disertai aksi terhadap sebuah kapal yang dituduh berupaya menerobos blokade laut Washington. Sebagai respons, Iran meluncurkan rudal dan drone ke arah Bahrain, Yordania, dan Kuwait menjelang fajar.
Rangkaian aksi saling serang tersebut sekaligus menggagalkan kesepakatan sementara yang sebelumnya diharapkan dapat meredakan konflik antara kedua negara. Situasi itu meningkatkan risiko meluasnya perang di kawasan Timur Tengah.
Pejabat Iran menyebut serangan terbaru Amerika Serikat menewaskan lebih dari 35 orang dan melukai lebih dari 300 lainnya. Untuk pertama kalinya sejak gelombang konflik terbaru pecah, serangan juga dilaporkan menjangkau wilayah di sekitar ibu kota Teheran.
Seorang juru bicara militer Iran memperingatkan bahwa “semua infrastruktur di kawasan” akan “hancur dihantam baja” oleh angkatan bersenjata Iran sebagai respons atas serangan tersebut.
Sejak perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran meletus pada 28 Februari, Teheran secara efektif menutup Selat Hormuz bagi lalu lintas pelayaran internasional. Penutupan jalur strategis itu memicu kenaikan harga minyak, pupuk, dan berbagai komoditas global sekaligus meningkatkan posisi tawar Iran dalam proses perundingan.
Penasihat Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Akbar Velayati, menegaskan negaranya akan terus mempertahankan kendali atas Selat Hormuz.
Ia menyebut penguasaan Iran terhadap jalur pelayaran tersebut sebagai “pencapaian yang sangat berharga”.
Di sisi lain, penutupan Selat Hormuz menjadi tantangan baru bagi Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Kenaikan harga energi dinilai menambah tekanan politik domestik menjelang pemilu sela Kongres pada November mendatang.
Pada Rabu (15/7), Washington kembali menerapkan blokade laut terhadap kapal-kapal Iran di Teluk Oman sehingga akses menuju Laut Arab dan perairan internasional semakin terbatas.
Ketua Parlemen Iran sekaligus kepala negosiator, Mohammad Bagher Qalibaf, menyatakan negaranya siap menghadapi konflik yang lebih luas apabila Amerika Serikat tidak mematuhi ketentuan dalam kesepakatan sementara.
Korps Garda Revolusi Iran juga mengancam akan menghentikan seluruh ekspor energi dari kawasan sebagai respons terhadap blokade tersebut.
“Ekspor minyak dan gas dari kawasan ini akan berlaku untuk semua, atau tidak untuk siapa pun,” demikian pernyataan Garda Revolusi.
Sementara itu, Presiden Donald Trump kembali menyatakan keyakinannya bahwa Iran masih menginginkan penyelesaian damai.
“Mereka tidak menyukai apa yang kami lakukan, dan mereka memang ingin menyelesaikan persoalan ini. Kita akan melihat apakah bisa mencapai kesepakatan dengan mereka, atau justru kita menyudahi semuanya,” ujar Trump pada Rabu dalam pidato di U.S. Army War College, Pennsylvania.
Secara terpisah, Trump juga mengklaim melalui media sosial bahwa Iran telah membebaskan seorang warga negara Amerika Serikat yang ditahan sejak 2024, meski tidak memberikan rincian lebih lanjut.
Pengacara hak asasi manusia Jared Genser kemudian mengidentifikasi warga tersebut sebagai kliennya, Dena Karari, warga negara ganda Amerika-Iran yang sebelumnya didakwa melakukan spionase.
Hingga kini, pemerintah Iran belum memberikan konfirmasi mengenai pembebasan tersebut.
Di tengah meningkatnya eskalasi militer, Pakistan terus berupaya mendorong dimulainya kembali jalur diplomasi antara Washington dan Teheran.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Pakistan, Tahir Andrabi, mengatakan negaranya akan tetap berupaya mempertemukan kedua pihak. (*)
“Meski pelaksanaan nota kesepahaman (MoU) menghadapi berbagai kendala, Pakistan akan terus mendorong semua pihak menghentikan kekerasan dan melanjutkan kembali perundingan di tingkat teknis sesuai dengan ketentuan dalam MoU,” ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri, Tahir Andrabi, kepada wartawan di Islamabad.
Media pemerintah Iran melaporkan serangan Amerika Serikat pada Kamis dini hari menghantam sejumlah lokasi di sekitar Teheran, termasuk Provinsi Semnan yang menjadi lokasi fasilitas produksi rudal balistik dan program antariksa Iran.
Serangan juga dilaporkan terjadi di Provinsi Hamedan, Hormozgan, Khuzestan, Lorestan, Markazi, serta Sistan dan Baluchistan.
Sehari sebelumnya, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan telah menyerang fasilitas pertahanan dan rudal Iran di Pulau Greater Tunb yang berada di kawasan strategis Selat Hormuz.
Militer Amerika juga mengaku menembaki kapal tanker minyak Belma berbendera Curacao yang tengah menuju Pulau Kharg, terminal ekspor minyak utama Iran. Menurut militer AS, kapal tersebut dihalau setelah mengabaikan sejumlah peringatan.
Pada Rabu, serangan Amerika juga menghantam markas Brigade Infanteri Mekanis ke-388 Iran di Provinsi Sistan dan Baluchistan. Televisi pemerintah Iran melaporkan sedikitnya 13 rudal ditembakkan dalam serangan tersebut yang menewaskan tujuh personel militer dan melukai sejumlah lainnya.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan rudal dan drone ke Bahrain, Yordania, dan Kuwait pada Kamis dini hari. Ketiga negara yang menjadi lokasi pangkalan militer Amerika Serikat itu belum melaporkan adanya korban maupun kerusakan.
Di Irak, Perdana Menteri Ali al-Zaidi mengecam serangan drone yang menyasar Kota Irbil di wilayah Kurdistan. Otoritas setempat menyatakan drone berhasil dicegat. Insiden tersebut terjadi ketika al-Zaidi sedang berada di Amerika Serikat dan menyatakan komitmennya untuk melucuti kelompok-kelompok bersenjata yang didukung Iran.
Meski selama masa berlakunya kesepakatan sementara sebagian kapal sempat kembali menggunakan jalur pelayaran di dekat Oman yang berada di bawah pengawasan Amerika Serikat, beberapa hari terakhir Iran kembali menyerang kapal-kapal yang melintas di rute tersebut sehingga memicu eskalasi baru.
Amerika Serikat mengancam akan membuka kembali Selat Hormuz menggunakan kekuatan militer. Namun, sejumlah analis menilai operasi semacam itu membutuhkan armada laut yang jauh lebih besar dan kemungkinan melibatkan puluhan ribu personel darat, sehingga blokade laut dipandang sebagai opsi yang lebih realistis untuk meningkatkan tekanan terhadap Teheran.
Eskalasi konflik juga berdampak pada pasar energi dunia. Pada Kamis, harga minyak mentah Brent diperdagangkan di atas US$85 per barel, atau lebih dari 15 persen lebih tinggi dibandingkan sebelum perang dimulai, meski masih berada di bawah puncaknya yang sempat mendekati US$120 per barel saat konflik mencapai fase paling intens. (*)



















Users Today : 1129
Total Users : 1376229
Views Today : 3082
Total views : 6646537