InfoBenua.Com
  • Home
  • Redaksi
  • INFO PRODUK
  • Blog
  • Infografis
  • Video
  • KODE ETIK PERUSAHAAN PERS
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
No Result
View All Result
InfoBenua.Com
  • Home
  • Redaksi
  • INFO PRODUK
  • Blog
  • Infografis
  • Video
  • KODE ETIK PERUSAHAAN PERS
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
No Result
View All Result
No Result
View All Result

Ende dalam Sejarah Bangsa, Dari Pengasingan Soekarno hingga Lahirnya Pancasila

by Eka Mandiri
Minggu, 7 Juni 2026, 22:40
in Berita, Opini
Bagikan
  • Infobenua. Com.Pada 14 Januari 1934 hingga 18 Oktober 1938, pemerintah Hindia Belanda mengasingkan Soekarno ke Ende karena aktivitas politiknya dianggap sebagai ancaman serius bagi kolonial Belanda.

Pengasingan tersebut merupakan upaya yang dilakukan Hindia Belanda untuk memutus pengaruh gerakan Soekarno yang pada waktu itu sangat masif di pulau Jawa yang mulai meluas ke pulau Sumatera. Namun, keputusan kolonial Belanda itu justru menjadi fase yang sangat penting bagi dalam perjalanan intelektual dan ideologi Soekarno.

Di Kota kecil Ende, yang terletak ditengah pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Ende bukan hanya sekedar sebagai tempat pembuangan Bung Karno, namun sebagai tempat Bung Karno untuk melakukan kontemplasi menggali lima butir mutiara yang dikenal dengan nama Pancasila.

Di Ende Soekarno ditemani istrinya, Inggit Garnasih, ibu mertuanya, Amsih dan kedua anak angkatnya yaitu, Ratna Djoeami, dan Kartika. Dia dan keluarganya tinggal di Kampung Ambugaga, rumah sederhana itu milik Haji Abdullah Ambuwaru, yang saat ini menjadi Situs Cagar Budaya.

Selama berada di Ende Bung Karno menghabiskan banyak waktu untuk membaca dan menulis di perpustakaan Biara Santo Yosef yang dikelola oleh misionaris Societas Verbi Divini atau yang dikenal nama Serikat Sabda Allah di kompleks Gereja Katolik Kristus Raja. Selain membaca dan menulis ia juga berdiskusi dengan misionaris Belanda, yakni Pastor Gerardus Huijtink SVD dan Pater Johannes Bouma SVD.

Soekarno juga membentuk kelompok seni teater yang diberi nama Sandiwara Kelimutu yang beranggotakan 47 orang. Kelompok tersebut dijadikan sebagai media untuk membangkitkan kesadaran semangat perjuangan nasionalisme. Ia menulis sekitar 13 naskah, salah satu naskah yang ditulisnya adalah “Rahasia Kelimutu”.

Salah satu tempat yang paling penting Soekarno ketika di Ende adalah pohon sukun yang tidak jauh dari tepi pantai Ende. Hampir setiap malam di bawah pohon sukun itu Soekarno duduk untuk merenungkan nasib bangsa. Tempat tersebut sekarang dikenal “Taman Renungan Bung Karno”. Sejarah mencatat dibawah pohon sukun itu dia menggali nilai-nilai dasar negara, yakni Pancasila.

Perenungannya di Ende lahir dari kegelisahan terhadap kondisi bangsa Indonesia yang sangat kaya akan keragaman. Soekarno sangat memahami bahwa bangsa Indonesia tidak mungkin dibangun atas dasar satu golongan, agama atau suku tertentu.

Maka dari itu, Bung Karno merumuskan dasar negara yang menjadi kesepakatan bersama. Hasil perenungan itu Ia sampaikan dalam pidatonya di sidang Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai atau Badan Penyelidik Usaha-Usaha Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang menjadi tonggak lahirnya Pancasila sebagai dasar negara Indonesia.

Sehingga dari itu Ende tidak bisa terlepas dari catatan sejarah bangsa Indonesia, karena kota tersebut menjadi saksi lahirnya Pancasila, yang saat ini Ende dijuluki sebagai “Kota Pancasila”.

Hubungan Soekarno dan Ende memperlihatkan gagasan tentang persatuan yang lahir dari pengalaman sosial yang nyata. Pancasila bukan hanya hasil dari pemikiran teoritis, melainkan hasil refleksi panjang dari kehidupan masyarakat Indonesia yang sangat plural. Di Ende Soekarno belajar langsung tentang, toleransi, gotong royong, dan kemanusiaan.

Jejak perjalanan Soekarno di Ende masih bisa kita temukan sampai hari ini melalui Rumah Pengasingan Bung Karno dan Taman Renungan Bung Karno. Rumah pengasingan itu sekarang menjadi museum yang menyimpan benda-benda peninggalan Soekarno, seperti, tempat tidur, piring, sendok, dan lain lain.

Di tengah tantangan Indonesia saat ini, mulai dari polarisasi politik hingga menguatnya konflik identitas. Jejak perjalanan Soekarno di Ende seharusnya menjadi refleksi penting bagi kita dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Ende mengajarkan bahwa Indonesia dibangun diatas keberagaman dan Pancasila menjadi titik temu dari semua perbedaan.

Jika hari ini bangsa Indonesia masih terjebak dalam politik kebencian, intoleransi, dan kepentingan kelompok, sesungguhnya bangs ini sedang bergerak menjauh dari semangat Pancasila yang lahir di Ende.

Pancasila bukan hanya dihafalkan dalam ruang kelas atau dibacakan pada saat upacara, melainkan Pancasila sebagai Philosophische grondslag atau dasar filosofis bangsa yang sehari-hari harus dimanifestasikan dalam kehidupan sosial, politik dan kemanusiaan.

Penulis : Sekretaris Forum Pemuda NTT, Ricard Parera

  • Trending
  • Comments
  • Latest

Warga Muara Badak Resahkan Rehabilitasi Jembatan Sambera yang Dinilai Tak Sesuai Spesifikasi

Kamis, 24 Februari 2022, 21:32
Tambang Diduga Koridor di Siluq Ngurai , Minta Aparat Eksekusi

Tambang Diduga Koridor di Siluq Ngurai , Minta Aparat Eksekusi

Kamis, 9 Juni 2022, 23:48
H. Sigit Alfian Nahkodai SIJAKA di Kota Bontang Berikut Harapannya

H. Sigit Alfian Nahkodai SIJAKA di Kota Bontang Berikut Harapannya

Jumat, 1 April 2022, 10:02
Persiapan Pelantikan KMB Kaltim 2022, KMB Kaltim akan Meningkatkan Eksistensi, Gerakan, Elektabilitas Organisasi, Serta Mampu Mengabdi untuk Masyarakat

Persiapan Pelantikan KMB Kaltim 2022, KMB Kaltim akan Meningkatkan Eksistensi, Gerakan, Elektabilitas Organisasi, Serta Mampu Mengabdi untuk Masyarakat

Rabu, 9 Maret 2022, 22:17
Danlanud Dhomber Balikpapan Dedy Susanto Pamitan, Kepada Anggota DPRD Balikpapan

Danlanud Dhomber Balikpapan Dedy Susanto Pamitan, Kepada Anggota DPRD Balikpapan

0
Ketua DPRD Balikpapan Belum Terima Nama Dari Fraksi Untuk Perubahan AKD

Ketua DPRD Balikpapan Belum Terima Nama Dari Fraksi Untuk Perubahan AKD

0
DPRD Balikpapan Akan Melakukan Perombakan AKD

DPRD Balikpapan Akan Melakukan Perombakan AKD

0
HUT Kota Samarinda ke-354 dan HUT Pemkot Samarinda ke-62, Pemkot Melakukan Penghijauan di sungai Karang mumus

HUT Kota Samarinda ke-354 dan HUT Pemkot Samarinda ke-62, Pemkot Melakukan Penghijauan di sungai Karang mumus

0
Ende dalam Sejarah Bangsa, Dari Pengasingan Soekarno hingga Lahirnya Pancasila

Ende dalam Sejarah Bangsa, Dari Pengasingan Soekarno hingga Lahirnya Pancasila

Minggu, 7 Juni 2026, 22:40

Meningkat 206%, Menteri Nusron Apresiasi Peran Nazir dalam Percepatan Sertipikasi Tanah Wakaf

Minggu, 7 Juni 2026, 16:30

Serahkan Lebih dari 1.000 Sertipikat Tanah Wakaf dalam ICOP 2026, Menteri Nusron Minta Penerima Jadi Pionir Percepatan

Minggu, 7 Juni 2026, 16:24

Bicara dalam International Conference on Pesantren 2026, Menteri Nusron Ajak Masyarakat Sertipikatkan Tanah Wakaf untuk Lindungi Aset Umat

Minggu, 7 Juni 2026, 16:17

Infobenua.com TVChannel

Statistik Pengunjung

1328106
Users Today : 1013
Total Users : 1328106
Views Today : 2661
Total views : 6451647
  • Home
  • Redaksi
  • INFO PRODUK
  • Blog
  • Infografis
  • Video
  • KODE ETIK PERUSAHAAN PERS
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami

Copyright © 2017-2025 InfoBenua.com