Caption foto: Iksan Pedagang Aksesoris Pasar Pagi Samarinda
Infobenua.com Samarinda- Sepekan setelah kembali beroperasi pascarevitalisasi, denyut aktivitas Pasar Pagi Samarinda belum sepenuhnya pulih. Bangunan baru memang tampak rapi dari luar, namun di dalam, banyak kios masih kosong dan arus pembeli belum kembali seperti sebelum pasar ditutup.
Kondisi itu dirasakan langsung para pedagang. Ikhsan (55), penjual aksesori yang sudah lebih dari dua dekade menggantungkan hidup di Pasar Pagi, menyebut suasana pasar masih jauh dari ramai. Ia memperkirakan ratusan kios belum terisi sehingga membuat aktivitas jual beli terasa lengang.
“Masih banyak kios kosong. Jadi suasananya belum hidup,” ujar Ikhsan saat ditemui di lapaknya, Senin (2/2/2025).
Sepinya pasar berdampak pada omzet. Selama hampir sepekan kembali berjualan di lokasi lama, penghasilan Ikhsan belum menunjukkan perubahan berarti. Bahkan, dalam sehari ia kerap hanya mengantongi puluhan ribu rupiah.
“Masih kurang ramai. Kadang sehari cuma dapat sekitar Rp50 ribu,” katanya.
Menurut Ikhsan, persoalan bukan hanya soal jumlah pedagang yang belum menempati kios, tetapi juga desain bangunan pasar. Letak kios yang berada di lantai lebih tinggi dinilai menyulitkan sebagian pengunjung, khususnya lanjut usia.
“Orang tua kasihan. Lututnya sudah sakit, naiknya tinggi,” ujarnya.
Selain itu, visibilitas lapak di dalam gedung juga menjadi perhatian. Meski tampilan luar pasar terlihat tertata, Ikhsan menilai suasana di bagian dalam justru membuat kios pedagang kurang mencolok di mata pengunjung.
“Dari luar rapi, tapi begitu masuk ke dalam seperti tidak kelihatan ada penjual,” ucapnya.
Keluhan lain datang dari sisi fasilitas parkir. Kapasitas parkir yang terbatas serta tarif yang dinilai mahal disebut ikut menghambat minat pembeli.
Ikhsan menyebut tarif parkir mobil bisa mencapai Rp25 ribu per hari, sementara sepeda motor sekitar Rp10 ribu.
“Parkirnya berat, kapasitasnya juga sedikit. Mobil paling sekitar 60-an,” katanya.
Kondisi itu membuat sebagian pembeli memilih berbelanja di luar area pasar atau di pinggir jalan, alih-alih masuk ke dalam gedung. Untuk komoditas tertentu seperti ikan dan sayuran, Ikhsan menilai pembeli cenderung enggan jika harus naik ke pasar bertingkat.
Sebelum kembali ke Pasar Pagi, Ikhsan sempat berjualan di pasar sementara yang disewa pemerintah selama dua tahun. Ia mengaku, meski fasilitas sederhana, lokasi sementara justru lebih ramai dari sisi pembeli.
Namun, seiring berakhirnya masa sewa, para pedagang kembali dipindahkan ke Pasar Pagi yang telah direvitalisasi.
Ikhsan berharap pemerintah kota tak berhenti pada penataan fisik semata, tetapi juga segera memastikan seluruh pedagang yang memiliki surat resmi dapat menempati kiosnya. Ia yakin, pasar akan kembali hidup jika seluruh lapak terisi.
“Yang punya surat masih banyak belum masuk. Mudah-mudahan bisa segera dimasukkan semua, supaya pasar ramai lagi dan pembeli mau datang,” tutupnya.
Penulis Frida | Editor Eka Mandiri








Users Today : 1547
Total Users : 1577040
Views Today : 2088
Total views : 7079717